Kanal Pasar Terong dan Muara Kepedulian yang Tersumbat

23 hours ago 5

Sore harinya, awan gelap mulai menggumpal di langit Makassar. Beberapa tetes air jatuh, lalu menjadi deras. Hujan tropis yang biasa. Kanal yang tersumbat itu mulai meluap. Air berwarna coklat keruh naik perlahan, merendam aspal Jalan Pasar Terong. Kemacetan terjadi. Anak-anak sekolah terpaksa menaikkan kaki ke atas jok sepeda motor orang tua mereka, melewati genangan yang membawa berbagai macam sampah.

Sementara itu, di bagian hilir, arus deras hasil luapan hujan mendorong tumpukan sampah yang tadinya diam di kanal. Ribuan potongan plastik, kemasan mi instan, dan popok bekas hanyut terbawa arus. Mereka memulai perjalanan panjang dari Kanal Pasar Terong menuju Sungai Tallo, lalu berlabuh di muara, dan akhirnya terbawa ombak ke Laut Makassar.

Di pesisir, seorang nelayan tua bernama Pak Saliim sedang menarik jaringnya. Wajahnya yang keriput mengeras saat melihat hasil tangkapannya. Tak banyak ikan, yang ada malah sampah-sampah dari kota.

“Dulu kami cari ikan, sekarang kami ‘memanen’ sampah,” gerutunya lirih, matanya menerawang jauh ke laut yang mulai kehilangan cahaya senjanya.

Suara dari Tepi Kanal

Keesokan harinya, setelah hujan reda dan air surut, seorang lelaki paruh baya dengan baju hijau berdiri di tepi Kanal Pasar Terong. Ia adalah Afif, tangannya memegang tongkat kayu, mengaduk-aduk tumpukan sampah yang baru saja tersisa setelah banjir berlalu. Ia bukan sedang mencari sesuatu, melainkan mencoba memahami.

"Ini bukan sekadar soal moral atau karakter warga. Ini adalah potret dari kegagalan kita semua," ujar Afif pelan, suaranya hampir tertelan deru mesin kendaraan di belakangnya.

Matanya menatap sedih plang larangan yang seolah tak berarti.

"Di atas sana ada imbauan untuk tidak buang sampah. Di bawah sini, tidak ada satu pun tempat sampah yang memadai. Malam hari, gelap gulita. Mau buang ke mana? Ya, ke kanal, karena lebih dekat dan gampang."

Afif bercerita panjang lebar. Ia bercerita tentang anak-anak sekolah yang teori kebersihannya hanya dihafal di kelas, tapi tak pernah dipraktikkan di rumah. Ia bercerita tentang dinas-dinas yang saling lempar tanggung jawab.

Tentang pasar yang sibuk dengan omzet, tapi lupa dengan limbah. Tentang aturan yang tertulis tebal di kertas, tapi tak berdaya di lapangan.

"Ini bukan hanya persoalan Kanal Pasar Terong," tegasnya, suaranya mulai mengeras di tengah hiruk pikuk pasar.

"Ini adalah jalur distribusi sampah menuju laut kita. Setiap tetes air hujan yang melewati kanal ini adalah kurir yang mengantar racun ke rumah ikan-ikan kita. Dan pada akhirnya, racun itu akan kembali ke piring makan kita sendiri."

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner