Liputan6.com, Jakarta - Misi Remlein, seorang petani di Desa Ujir, berbicara dengan nada yang tidak menyembunyikan apa pun. "Belum ada, dampaknya belum terasa," katanya, saat ditemui Liputan6.com pada Jumat (13/3/2026). "karena memang baru-baru juga." Ia buru-buru menambahkan bahwa listriknya sendiri sudah bagus, sudah menyala.
Meski listrik di Desa Ujir kini sudah menyala setiap malam, sebagian manfaat yang sebelumnya dibayangkan warga memang belum sepenuhnya terasa. Peralatan rumah tangga seperti kulkas atau mesin cuci misalnya, belum bisa digunakan secara bebas karena kapasitas listrik masih dalam tahap uji coba selama 6 bulan dan penggunaannya perlu diatur agar sistem tetap stabil.
Namun bagi warga desa, perubahan yang sudah terjadi tetap terasa signifikan. Setelah bertahun-tahun bergantung pada lampu pelita dari botol dan sumbu kapas, hadirnya listrik yang dapat menerangi rumah setiap malam menjadi langkah besar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Banyak warga memahami bahwa manfaat yang lebih luas dari listrik biasanya tidak datang sekaligus.
Penerangan menjadi tahap pertama yang langsung dirasakan, sementara penggunaan peralatan rumah tangga atau kegiatan ekonomi yang lebih bergantung pada listrik kemungkinan baru akan berkembang seiring waktu, ketika sistem listrik semakin stabil dan masyarakat semakin terbiasa memanfaatkannya.
PLTS Terpadu Desa Ujir resmi beroperasi pada awal Februari 2026. Ini adalah instalasi ketiga di desa yang sama, setelah dua upaya sebelumnya pada 2017 dan 2019 berakhir dengan kerusakan dan kembalinya warga ke lampu pelita. Yang ketiga ini jauh lebih besar, lebih serius, dan didukung operator yang tinggal di desa. Tapi dalam hal dampak ekonomi dan sosial? Masih terlalu dini untuk dirayakan.
Apa yang Sudah Terasa
Dampak yang paling cepat dirasakan dari hadirnya PLTS terpadu di Desa Ujir adalah penerangan. Namun di balik perubahan sederhana itu, tersimpan pergeseran yang lebih besar: perubahan cara desa ini memproduksi dan menggunakan energi.
Sebelum listrik tenaga surya hadir, warga bergantung pada lampu pelita yang dibuat dari botol bekas berisi minyak dengan sumbu kapas. Generasi yang lebih muda mungkin menyebutnya sebagai cara yang sudah usang, tetapi bagi Pegy Baubesy, seorang ibu rumah tangga yang telah puluhan tahun tinggal di sana, itulah satu-satunya pilihan yang tersedia.
Kini, cahaya listrik menggantikan nyala api. Perubahan ini bukan hanya soal terang dan gelap, tetapi juga tentang berkurangnya ketergantungan pada bahan bakar minyak yang selama ini menjadi sumber energi utama. Dalam konteks pembangunan rendah karbon, pergeseran ini menjadi langkah awal yang penting, karena setiap penggunaan listrik dari energi surya berarti mengurangi emisi yang sebelumnya dihasilkan dari pembakaran minyak.
Kehadiran listrik di malam hari juga mengubah ritme kehidupan warga. Anak-anak kini dapat belajar dengan penerangan yang lebih stabil.
“Iya, membantu meringankan. Anak-anak nyaman untuk belajar,” kata Pegy Baubesy pada Liputan6.com, Jumat (13/3/2026).
Warga pun memiliki lebih banyak waktu untuk beraktivitas setelah matahari terbenam. Di masjid desa, penggunaan genset yang sebelumnya membutuhkan dua drum minyak setiap bulan kini mulai ditinggalkan. Pengeluaran berkurang, sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.
Bagi para nelayan, listrik belum mengubah cara mereka bekerja secara besar-besaran. Namun ada perubahan kecil yang langsung terasa: senter yang digunakan untuk melaut kini bisa diisi ulang dengan listrik dari rumah.
“Lumayan membantu, nelayan juga ikut terbantu. Kebutuhan mau ke laut, senter bisa diaktifkan karena bisa cas,” ungkap Ahet Selayar, seorang nelayan dari Desa Ujir.
Perubahan ini mungkin terlihat sederhana. Namun di desa yang berjarak sekitar 28 kilometer dari Dobo dan hanya bisa dijangkau dengan speedboat, akses terhadap energi yang lebih bersih, bahkan untuk kebutuhan kecil, merupakan kemajuan yang nyata.
Manfaat serupa juga dirasakan oleh fasilitas layanan publik. Sebelum PLTS hadir, puskesmas dua lantai di Desa Ujir hanya mengandalkan genset yang dinyalakan pada waktu tertentu. Sekolah dasar pun berada dalam kondisi yang sama. Kini keduanya terhubung dengan sistem listrik tenaga surya, masing-masing dengan daya sekitar 2.000 watt, dengan gambaran sekitar 15–20 lampu LED (10 watt) ditambah 1 televisi (±100 watt) dan beberapa charger HP.
Dalam konteks yang lebih luas, semua perubahan ini menunjukkan bahwa kontribusi terhadap target rendah karbon tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan instan. Di Desa Ujir, kontribusi itu dimulai dari hal-hal sederhana: lampu yang tidak lagi bergantung pada minyak, genset yang mulai jarang digunakan, dan aktivitas sehari-hari yang perlahan beralih ke energi bersih. Dari titik inilah, transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan mulai terbentuk.
Apa yang Belum Terasa
Meski ada banyak perubahan positif, warga yang berharap bisa langsung menggunakan peralatan rumah tangga listrik harus bersabar. Sistem masih dalam masa uji coba enam bulan, dan daya yang tersedia saat ini belum cukup untuk mendukung peralatan berdaya tinggi.
“Belum. Katanya ini kalau dicoba dulu 6 bulan. Nah, setelah itu 6 bulan itu baru dilihat dia punya kekuatan sampai bagaimana kan? Tapi sekarang belum dipakai. Mesin cuci juga belum bisa, cuma HP yang bisa dipakai,” Ahet Selayar menambahkan.
Bahkan penggunaan bersamaan pun masih dibatasi. "Kalau butuh kipas angin kita bunuh lampu supaya dia bisa bertahan," katanya menekankan. Artinya, antara lampu dan kipas angin, warga harus memilih salah satu.
Dampak ekonomi yang lebih luas yang sering dijanjikan dalam proyek elektrifikasi belum tampak. Mungkin karena masih berjalan satu bulan, sejauh yang yang diamati tidak ada usaha baru yang lahir dari kehadiran listrik ini, setidaknya hanya ada 2 warung kelontong saja yang bisa ditemukan di Desa Ujir sampai saat ini.
“Belum. Kalau beli dari Dobo datang baru dijual di sini. Untuk membantu ekonomi masyarakat di sini yah harus ke kota dulu baru bisa kesini, ” ungkap Pegy Baubesy.
Mata pencaharian utama warga tetap sama, nelayan dan petani. Satu-satunya aktivitas ekonomi baru yang muncul adalah penjualan es batu dari dua unit freezer yang disertakan dalam proyek ini. Es dijual Rp4.000 per bungkus yang sengaja dipatok lebih murah dari harga pasar Rp5.000, dengan hasil dibagi antara PLTS dan pengelola freezer.
Yang menarik adalah fakta yang disampaikan Hamzah, operator PLTS, saat ini pemanfaatan listrik masih berada di kisaran 15–20 persen dari total kapasitas yang tersedia. Kondisi ini justru memberi ruang bagi sistem untuk bekerja lebih stabil, sekaligus membantu menjaga dan memperpanjang usia baterai, sehingga keberlanjutan pasokan listrik dapat lebih terjamin dalam jangka panjang.
Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel menyebut dengan adanya sisa kapasitas daya listrik yang tidak terpakai, diharapkan bisa menarik investasi industri, terutama sektor perikanan yang menjadi tulang punggung desa pesisir.
“Surplus ini diharapkan supaya ada industri melirik ke situ. Masuk. Industri perikanan. Mungkin bangun cold storage atau apa yang bisa jalan seperti itu,” kata Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel, saat ditemui di kantornya, Selasa (10/3/2026).
Harapan Sederhana Warga Desa Ujir
Harapan yang muncul dalam wawancara hampir selalu sederhana, listrik yang tidak padam dalam hitungan bulan, seperti dua kali sebelumnya. Kalsum Tupan, seorang ibu rumah tangga di desa Ujir merangkumnya dalam satu kalimat,
“Harapan ke depan cuma ingin ini terus menyala sampai 10 tahun, 20 tahun kemudian. Supaya bisa terang karena kampung sudah lama gelap.”
Kepala Desa Ujir, Abu Walay berharap enam bulan uji coba berjalan baik sehingga instalasi bisa diperluas dan kapasitas ditingkatkan. Operator PLTS Terpadu Desa Ujir Hamzah berharap perawatan yang baik bisa membuka jalan untuk penambahan kapasitas jika kebutuhan meningkat.
PLTS Terpadu Desa Ujir merupakan langkah maju yang nyata. Lampu kini menyala di rumah-rumah warga, anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman, nelayan bisa mengisi senter sebelum melaut, dan layanan kesehatan memiliki akses listrik yang lebih layak. Perubahan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi desa yang lama hidup tanpa listrik stabil, ini adalah fondasi penting bagi kehidupan yang lebih baik.
Berbeda dari pengalaman sebelumnya, upaya untuk menjaga keberlanjutan mulai terlihat. Kehadiran operator yang tinggal di desa menjadi salah satu kunci agar sistem tetap terpantau dan cepat ditangani jika terjadi gangguan. Di sisi lain, wacana iuran mulai muncul sebagai bagian dari tanggung jawab bersama, meskipun mekanismenya masih perlu dirumuskan lebih jelas.
Dalam konteks ini, Desa Ujir tidak hanya sedang menerima listrik, tetapi juga sedang belajar mengelolanya. Proses ini mencakup bagaimana masyarakat memahami penggunaan energi, bagaimana sistem perawatan dibangun, serta bagaimana peran pemerintah desa dan warga bisa saling melengkapi.
Pengalaman dari proyek-proyek sebelumnya menjadi pelajaran penting. Kini tantangannya adalah memastikan bahwa listrik tidak berhenti pada tahap pemasangan, tetapi terus berjalan melalui pengelolaan yang melibatkan masyarakat secara aktif. Jika mekanisme perawatan, pembiayaan, dan kapasitas lokal dapat diperkuat sejak awal, maka peluang untuk menghindari pola “bangun, serah terima, lalu ditinggalkan” menjadi semakin besar.
Upaya memastikan listrik tidak berhenti pada tahap pemasangan inilah yang juga menjadi perhatian Low Carbon Development Initiative (LCDI) Programme, program kerja sama antara Pemerintah Indonesia (Bappenas) dan Pemerintah Inggris, dalam mendorong pembangunan energi bersih yang benar-benar hidup dan dirawat oleh masyarakatnya.

18 hours ago
16
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5532940/original/007698100_1773716188-unnamed__37_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5266948/original/004535200_1751028927-IMG_20250627_182053.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538623/original/060731200_1774531780-Imigrasi_Batam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538582/original/001009300_1774526238-Pelaku_pencurian_di_Lampung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2222635/original/006587200_1526965472-Kapal-Meledak-atau-Kapal-Terbakar6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538509/original/073270800_1774520511-2163a20b-712e-4157-a1f2-9daf1a217ace.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538501/original/039601400_1774520198-Wakil_Menteri_PPPA_Veronica_Tan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538485/original/042287800_1774519191-Warga_Malang_diduga_dikeroyok_debt_collector_di_Pantai_Kuta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538472/original/018181900_1774518294-IMG_20260326_151213_058.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538333/original/093407100_1774512657-WhatsApp_Image_2026-03-26_at_13.44.15__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538290/original/059641700_1774509525-1001116600.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537845/original/084391400_1774479606-1001117906.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537811/original/081707600_1774445737-Sampah_berserakan_di_Kota_Semarang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537792/original/025502000_1774443089-14_rumah_di_Manado_terbakar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537788/original/009134900_1774442764-Foto-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4405183/original/060918700_1682326798-IMG_20230424_121639.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449331/original/009128300_1766054298-1000846788.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448872/original/089550000_1766041751-IMG_20251218_112507_767.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5426036/original/098950800_1764250071-Mendagri.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2913252/original/006053400_1568693352-WhatsApp_Image_2019-09-17_at_10.57.35_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365736/original/041722900_1759205212-IMG-20250930-WA0037.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5276590/original/081825200_1751957181-20250708-Banjir-ANg_11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449480/original/029142300_1766063506-Ayah_Prada_Lucky_Namo__Pelda_Chrestian_Namo.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448059/original/065762900_1765978898-Bengkel_motor_Fausul_di_Pulau_Mandangin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447862/original/001021800_1765966130-Batu_Nusuk.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448567/original/067225600_1766033308-1000630000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449346/original/079160500_1766055185-Kepala_Bulog_Kalteng_Budi_Sultika.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977999/original/017889900_1648530540-PMI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448993/original/011330600_1766044717-IMG-20251217-WA0381.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436709/original/045635800_1765183427-380f79ba-6a45-41f0-bc7a-194e2d36b504.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5428146/original/092095300_1764480695-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366533/original/005216900_1759234960-1000640193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451861/original/087288700_1766375997-Bus_kecelakaan_di_exit_Tol_Semarang.jpg)