Kisah Polantas Sukabumi: Muliakan Jenazah Sebatang Kara hingga Penantian 8 Tahun Berbuah Manis

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Sore itu, 27 Mei 2025, suasana di salah satu sudut Kota Sukabumi terasa berbeda bagi Bripka Yamanotona Telaumbanua. Anggota Satlantas Polres Sukabumi Kota yang akrab disapa Yaman ini tengah menjalankan tugas pengaturan lalu lintas (Gatur) saat perayaan kemenangan Persib. Namun, di sela deru mesin kendaraan, pikirannya tertuju pada satu nama, Muksin Naulu (54).

Muksin bukanlah kerabat Yaman. Mereka bahkan tidak saling kenal. Muksin adalah seorang pria sebatang kara yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah warga.

Sebuah wasiat terakhir menjadi beban moral bagi Yaman, Muksin ingin dimakamkan secara Kristiani, sesuai keyakinan yang ia peluk diam-diam.

Drama Identitas dan Wasiat Terakhir

Persoalan muncul saat Yaman mendapati KTP almarhum mencantumkan identitas sebagai perempuan beragama Islam.

Namun, hasil visum luar di RSUD R. Syamsudin SH (Bunut) menunjukkan fakta berbeda. Muksin adalah laki-laki secara fisik.

"Saya kaget, di KTP fotonya seperti perempuan dan agamanya Islam. Tapi setelah visum, ternyata fisiknya laki-laki. Saya langsung berkomunikasi dengan keluarganya di Banggai, Sulawesi Tengah, dan mendapatkan akta lahir yang asli. Di situ dipastikan almarhum memang laki-laki," kenang pria kelahiran Nias, 17 Mei 1987 ini.

Keluarga Muksin di Sulawesi Tengah hidup dalam keterbatasan. Jauhnya jarak dan ketiadaan biaya membuat mereka menyerahkan sepenuhnya proses pemakaman kepada Yaman.

Ketulusan di Tengah Keterbatasan

Yaman sempat mencari bantuan ke rekan-rekan seiman, namun tak kunjung mendapat respons. Didorong rasa empati yang mendalam, polisi berpangkat Bripka ini memutuskan untuk bergerak sendiri.

Ia mengurus segala prosesi, mulai dari administrasi, peti jenazah, hingga ambulans dengan biaya pribadinya.

"Saya sudah bertekad, saya tidak akan meminta biaya apa pun. Saya siap membiayai proses pemakaman ini dengan tenaga dan kemampuan saya sendiri. Saya percaya, ketika kita berbuat baik, Tuhan akan memperhitungkan itu," ujar Yaman kepada Liputan6.com <http://liputan6.com>, Sabtu (2/5/2026).

Keajaiban kecil pun bermunculan. Bidang Bina Marga DPUTR Kota Sukabumi dengan pihak pengelola TPU Citamiang (Kerkop) memberikan lahan pemakaman tanpa biaya.

Pengrajin peti jenazah pun hanya meminta biaya bahan bakunya saja. Pada akhirnya, Muksin dikebumikan dengan layak sesuai wasiatnya.

Buah Manis Kesabaran 8 Tahun Menanti Buah Hati

Bagi Yaman, membantu sesama adalah bagian dari iman. Tak disangka, kebaikan itu berbuah manis dalam kehidupan pribadinya.

Setelah 8 tahun membangun rumah tangga tanpa kehadiran buah hati, tak lama setelah peristiwa pemakaman itu, doa Yaman dan istrinya terjawab.

"Tuhan mengabulkan doa kami. Pada tahun itu, istri saya melahirkan. Inilah berkat yang paling saya syukuri, saya nilai ini sebagai jawaban Tuhan atas apa yang kami lakukan," ungkapnya haru.

Kini, Yaman tetap menjadi sosok polisi yang sigap di jalan raya. Tak jarang, ia masih terlihat turun tangan membantu warga, seperti saat ia kedapatan membantu mengganti ban mobil warga yang bocor di tengah tugasnya.

Bagi Bripka Yaman, seragam polisi bukan sekadar identitas pekerjaan, melainkan jembatan untuk menebar kebaikan tanpa batas.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner