Ada 23 Kasus Campak di Kota Sukabumi, Ini Alasan Belum Ditetapkan KLB

5 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi melaporkan temuan 23 kasus positif campak dalam kurun waktu dari akhir tahun 2025 hingga Maret 2026. Meski temuan ini didapat dari hasil pemantauan ketat dan penyelidikan epidemiologi aktif di lapangan, pemerintah memastikan situasi kesehatan masyarakat saat ini masih dalam kondisi terkendali.

Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, menuturkan bahwa hingga saat ini Pemerintah Kota belum perlu menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Menurutnya, upaya pencegahan terus dilakukan secara intensif guna mengantisipasi penyebaran yang lebih luas di tengah masyarakat.

"Hingga saat ini, kami menilai belum diperlukan penetapan status KLB akibat penyakit campak. Namun, upaya pencegahan tetap dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas," ujar Ida dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, merinci bahwa dari 32 kasus suspek yang ditemukan di lapangan, hanya 23 kasus yang dinyatakan positif setelah melalui uji laboratorium.

Denna juga memberikan gambaran mengenai posisi Indonesia dan Jawa Barat untuk memberikan konteks kewaspadaan bagi warga.

“Indonesia sendiri mendapatkan peringkat kedua tertinggi setelah Yaman dalam kasus campak. Kemudian di Jawa Barat ada sembilan daerah yang menetapkan kejadian luar biasa, namun alhamdulillah untuk Kota Sukabumi tidak,” jelasnya.

“Walau ada peningkatan kasus di tahun 2025, tetapi jumlah kasus cukup melandai di tahun 2026 ini. Belum ada kasus kematian akibat campak di Kota Sukabumi,” tambah dia.

Mengingat saat ini mulai memasuki masa arus mudik yang identik dengan kerumunan massa, Dinkes meminta masyarakat untuk memperketat protokol kesehatan secara mandiri.

Peningkatan mobilitas warga di tempat umum dinilai memiliki potensi besar memicu penyebaran penyakit jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan tinggi.

Denna menekankan pentingnya menjaga jarak dan menggunakan masker saat berada di lingkungan yang ramai.

Selain itu, masyarakat diharapkan konsisten menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga imunitas tubuh tetap prima selama perjalanan mudik.

“Apalagi memang sekarang situasi arus mudik, yang berpotensi memicu peningkatan massa atau kerumunan itu tinggi. Sehingga harus senantiasa waspada di lingkungan yang ramai. Kalau memungkinkan tetap menjaga jarak, memakai masker, menerapkan PHBS, dan makan makanan bergizi,” tambahnya.

Kondisi Sukabumi yang tetap stabil meski ada temuan kasus tidak lepas dari tingginya angka imunisasi dasar lengkap.

Pada tahun 2025, cakupan imunisasi di Kota Sukabumi berhasil menyentuh angka 98,9 persen, sebuah pencapaian yang melampaui standar nasional dan menjadi benteng utama dalam menahan laju KLB.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner