Jalan Pulang yang Berbeda untuk Praka Farizal

6 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Sudah satu tahun berlalu, dari saat Praka Farizal Rhomadhon pertama kali ditugaskan ke negara konflik sebagai tentara perdamaian PBB di Lebanon. Anak dari Supinah, warga Kulon Progo ini rencananya purna tugas di bulan ini, April 2026. Kembali ke Tanah Air, berkumpul bersama keluarga dan melanjutkan pengabdian sebagai prajurit TNI.

Namun kabar duka menggunting garis asa tersebut. Mortir tiba-tiba menyasar kompleks pasukan perdamaian PBB yang seharusnya menjadi area netral. Ledakannya menghentikan gerak salat Praka Farizal di waktu Isya. Anggota Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah ini gugur dalam kekhusyuan.

“Fariz bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB sejak setahun lalu. Dijadwalkan penugasan selesai pada April ini dan rencananya akan mudik bersama keluarganya ke Lendah pada Mei,” ucap Supinah kepada wartawan, Rabu (1/4/2026).

Supinah melanjutkan cerita, hampir setiap hari anak keduanya tersebut selalu menghubungi keluarga melalui telepon, yang kemudian disambungkan dengan anak dan istrinya yang berada di Aceh.

Dalam percakapan beberapa waktu terakhir, Farizal bertutur bahwa kondisi di lokasi penugasan di Lebanon semakin tidak menentu. Tidak jarang harus masuk bungker saat sirene peringatan berbunyi akibat situasi konflik.

“Kalau ada sirene, harus masuk ke bungker beberapa jam, lalu setelah aman baru keluar,” ujarnya.

Sementara itu, paman almarhum, Sumijak menambahkan bahwa penugasan Farizal dijadwalkan berakhir pada akhir April. Ia berencana pulang ke Lendah, Kulon Progo, bersama anak dan istrinya pada awal Mei.

Namun, jalan pulang untuk Afrizal kini berbeda. Namanya kini mashur sebagai pahlawan yang gugur di medan pertempuran. Kisahnnya telah sampai terlebih dahulu di Tanah Air.

Jenazah Afrizal direncanakan tiba di Indonesia pada Jumat (3/1/2026). Hal ini berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 25/Siwah-Aceh, Kolonel Inf Dimar Bahtera.

“Kabar terakhir dari komandan menyebutkan jenazah akan datang hari Jumat. Namun, ini masih perkiraan,” ujarnya.

Namun secara resmi, pihak keluarga mengaku belum dapat memastikan jadwal kepulangan karena kondisi di Lebanon yang masih belum kondusif. Terkait hal ini, keluarga menyadari pemulangan jenazah akan membutuhkan waktu.

Salah satu kendala yang dilaporkan kepada keluarga adalah kesulitan proses evakuasi akibat situasi konflik di wilayah tersebut. Bahkan, personel yang berusaha mengevakuasi sempat mengalami serangan.

Sumijak mengenang sosok Praka Farizal sebagai anak kedua dari pasangan Senam dan Supinah yang dikenal penurut, disiplin dan pekerja keras.

“Sebelum kejadian, sore sebelumnya almarhum sempat menghubungi keluarganya, namun tidak berpesan apa-apa,” jelasnya.

Farizal merupakan lulusan SMA tahun 2016 yang langsung mendaftar menjadi anggota TNI karena cita-citanya sejak muda.

Bahkan, saat diminta melanjutkan kuliah, Farizal menolak dan memilih mengejar karier di militer.

Ayah Farizal, Senam, menyampaikan keputusan keluarga untuk memakamkan almarhum di Lendah merupakan keputusan terakhir yang bisa diambil. Jika jenazah tiba di rumah duka di Dusun Ledok, Desa Sidorejo, almarhum akan dimakamkan secara militer di pemakaman umum di Nambangan yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah masa kecilnya.

Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, akan mengusulkan gelar pahlawan nasional bagi Praka Farizal serta dua rekan seperjuangannya yang turut gugur, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

"Gelar pahlawan nasional ini merupakan bentuk penghargaan negara atas semangat juang, nasionalisme, dan spirit cinta tanah air mereka yang terus menyala sepanjang masa," kata Eko.

Selain usulan gelar pahlawan, Eko juga mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) DIY untuk memberikan perhatian khusus bagi keluarga yang ditinggalkan semisal dengan memberikan beasiswa sampai perguruan tinggi ke anaknya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner