Kronologi Terbongkarnya Pengasuh Pesantren di Pati Cabuli Puluhan Santriwati

8 hours ago 3

Massa demonstran berasal dari Aliansi Masyarakat Pati untuk Demokrasi (Aspirasi). Selain itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pati juga ikut bergabung dalam aksi.

Organisasi bentukan Nahdlatul Ulama Pati ini, juga ikut mendesak Polresta Pati dan yayasan pondok pesantren setempat, segera menyelamatkan korban dan menyeret terduga pelaku ke ranah hukum.

Dalam orasinya, Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pati, Ahmad Nashirudin menegaskan bahwa kekerasan seksual kepada santriwati adalah tindak kejahatan serius dan tidak bisa dimaafkan.

”Tindak Kekerasan seksual kepada santriwati adalah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Ini kasus serius yang tidak bisa ditoleransi,” seru Ahmad di hadapan massa.

Dalam unjuk rasa itu, Ahmad mewakili GP Ansor Pati menyuarakan sejumlah tuntutan. Yakni meminta aparat penegak hukum di Kabupaten Pati menghukum terduga pelaku berinisial AS.

Ahmad juga menyerukan agar proses hukum kepada terduga pelaku pencabulan puluhan santriwati, harus dilakukan secara transparan dan tidak ditutupi.

”Kami mengajak semua pihak menghormati semua proses hukum yang sudah berjalan yang sedang diproses kepolisian. Semoga diproses seadil-adilnya dan tidak ditutupi,” pinta Ahmad.

Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Nawawi selalu perwakilan pemuda setempat, mengaku resah dan kesal terhadap perbuatan bejat pengasuh pondok pesantren di desanya.

"Saya merasa resah karena bersangkutan mengatasnamakan pondok pesantren, ini merusak citra pondok pesantren," tukas Nawawi.

Nawawi menyebut bahwa dirinya sudah lama mendengar rumor perilaku bejat oknum pengasuh ponpes tersebut.

"Sudah sering mendengar, karena banyak ancaman dan dari pihak terkait pengasuh pondok pesantren tersebut, yakni jika ada yang berani menuduhnya, pelaku mengancam balik dengan fitnah," terang Nawawi.

Sedangkan kordinator lapangan aksi Aspirasi, Cak Ulil, menyatakan siap mengawal kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan pengasuh ponpes berinisial AS.

"Kami dari Aspirasi mengawal kasus pelecehan seksual saudara AS, yang saat ini sudah menjadi tersangka dan proses hukum sudah berjalan," ungkap Ulil.

Menurut Ulil, pihaknya memberikan bantuan hukum dan pendampingan secara cuma cuma kepada para korban dan keluarga korban.

"Kami membuka bantuan hukum secara gratis kepada santri yang kena asusila yang dilakukan kiai siapapun itu, kami siap mengawal korban secara gratis," tutur Ulil.

Usai unjuk rasa yang sempat memanas, massa pun membubarkan diri. Namun mereka tak lupa memasang sejumlah poster besar di halaman depan ponpes setempat.

Beragam tulisan terpampang dalam banner. Di antaranya "perempuan bukan objek seksual", "Ashari Predator Seks", hingga "pondok tempat belajar bukan tempat kurang ajar".

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner