Semangat Perempuan Asal Sulawesi Kejar Mimpi Kuliah di Jogja, Kini Sukses Bisnis Batik dan Fashion Eco Print

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Tin Dels Marce Ndawu menjadi contoh perempuan sukses yang merasakan pahitnya perjuangan. Ia, tak ingin selamanya terjebak di kampung halaman, wilayah Sulawesi, sebagai penjahit rumahan yang sulit berkembang.

Tekadnya yang kuat untuk mengubah nasib lantas menuntunnya untuk berkuliah tata busana di Kota Yogyakarta. Dari sana, dirinya belajar banyak hal tentang jenis kain, variasi motif, sampai berinovasi melalui sandang eco print yang kemudian melahirkan brand Geisha Ratu.

Tak sampai di sana. Sebab, Tin juga berkesempatan melanjutkan pendidikan sampai jenjang S2, sembari mengembangkan usahanya di luar tanah kelahirannya. Melalui jerih payahnya yang “berdarah-darah” mimpinya perlahan terwujud, karena brandnya dikenal banyak orang.

Kisahnya kemudian menginspirasi dan menjadi bukti bahwa perempuan bisa turut berdaya, sebagai pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM).

Berawal dari Seorang Penjahit di Kampung

Saat disambangi Liputan6.com, Senin, 27 April 2026 lalu, Tin bercerita tentang jatuh bangunnya merintis usaha fashion Geisha Ratu yang beralamat di kompleks Bandara Adi Sucipto, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mulanya, ia merupakan seorang penjahit rumahan di kampungnya, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan berbagai keterbatasan untuk berkembang. Momen tersebut yang kemudian membakar semangatnya untuk mencari jalan keluar, agar tak selamanya hanya menjadi penjahit di desa.

“Saya itu punya prinsip, tidak mau menjadi tukang jahit sampai nenek-nenek. Saya pingin maju dan ingin berkembang dari kondisi saat itu,” kata Tin.

Sempat Dipandang Rendah di Kampung Halaman

Salah satu alasan kuat dirinya tidak ingin nyaman di posisinya ini adalah, karena banyak pelanggan yang memandang rendah latar belakang pendidikan SMA-nya, meskipun hasil jahitannya rapi dan baik.

Ini yang kemudian mendorongnya untuk berkuliah di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Kota Yogyakarta dan mengambil jurusan tata busana pada 2010 silam. Tak lama setelah lulus, jenjang magister pendidikan (S2) di kampus yang sama juga ia jalankan.

“Waktu itu saya ngomong ke ibu saya tentang keinginan untuk kuliah. Karena saya saat itu menjadi seorang penjahit, artinya jurusan yang dipilih harus sesuai, yakni tata busana,” ucap Tin, saat mengenang masa-masa awal merantau untuk berkuliah.

Usia 38 Bukan Halangan untuk Merintis Usaha

Meski saat itu usianya memasuki 38 tahun, Tin, mengaku tak khawatir untuk menapaki mimpi. Ia lantas menekuni kuliah dengan sungguh-sungguh, sembari mengasah kemampuan di bidang rancang busana.

Keluwesannya dalam bergaul dengan seniman, sastrawan sampai pemusik di salah satu komunitas kreatif membuatnya menemukan inspirasi. Dari sana, Tin berhasil memperdalam kemampuannya di bidang menjahit sampai mempelajari metode eco print sebagai teknik pewarnaan kain.

“Waktu itu saya awalnya sempat ikut banyak kursus sampai akhirnya saya menjadi instruktur menjahit. Kemudian, saya juga jadi instruktur batik dan diajak pemerintah. Namun waktu itu ditanya produk saya, akhirnya saya angkat Batik Mori yang terinspirasi dari Suku Mori di Sulawesi Utara,” lanjut Tin.

Menemukan Identitas untuk Geisha Ratu

Perempuan 55 tahun ini kemudian terpikir untuk mengangkat Batik Mori dan aneka fashion eco print sebagai produk utama di brand Geisha Ratu yang resmi berdiri di 2018. Nama Geisha Ratu diambil dari potret boneka Geisha asal Jepang yang ia temukan di internet.

Menurutnya, sosok Geisha merupakan perempuan yang cantik dan lucu, serta mencerminkan kepribadian pintar, mandiri sekaligus punya keberanian. Ini yang juga memotivasinya untuk bergabung dengan komunitas UMKM di Yogyakarta sebagai pembuka keberuntungan.

“Waktu itu saya coba-coba bikin cap dan cari perajin yang bisa bantu. Nah, tapi, untuk warnanya saya masih cari yang pakai pewarna sintetis. Setelah itu, saya juga baru mengenal eco print dan lihat-lihat ke teman yang menggunakan metode ponding atau dipukul-pukul. Dia bisa pakai macam-macam daun, terus pakai kain,” katanya.

Penuh Tantangan

Tepat di 2019, Tin semakin percaya diri untuk mengembangkan Geisha Ratu dengan produk awal Batik Mori bertema alam. Beberapa motif Tin guratkan di batiknya, mulai dari Sanggori berbentuk ikan sidat, kemudian ada juga Apali, yakni motif seperti pohon beringin.

“Lalu, kami juga ada motif meti, atau kerang. Kerang sungai, dan ini unik, karena kerang ini hanya ada di satu titik sungai, biasanya di tengah,” katanya.

Selama menjalankan usaha, Tin pun turut merasakan berbagai tantangan. Mulai dari pemodalan yang tidak sedikit, kendala bahan baku daun serta kain, serta persaingan harga mulai menerpa Geisha Ratu.

Bahkan saat masa Pandemi Covid-19, ia juga mengalami kondisi berat karena ekonomi sedang goyah. Meski begitu, keadaan ini tidak menyurutkan dirinya untuk terus berinovasi.

“Waktu itu sampai memungut daun di pinggir jalan, saya terus sering ditanya orang, ibu itu daunnya untuk obat Covid-19, ya? Saya jawab ini untuk eco print, tapi banyak yang tak percaya,” katanya.

Jadi Perempuan Berprestasi, Tak Pelit Membagi Ilmu dan Sukses Kembangkan Geisha Ratu Bersama BRI

Sosok Tin kemudian tidak hanya fokus menjalankan usaha di bidang fashion. Di saat yang bersamaan, dirinya juga berhasil membuktikan keilmuannya di bidang tata busana, melalui berbagai sertifikasi.

Keilmuannya di bidang fashion lantas membuatnya sangat siap untuk mengajari siapapun yang ingin mempelajari praktik di bidang tata busana.

“Di tata busana itu saya punya LSK Kemdikbud, mulai dari Level 2, Level 3, Pendidik Kursus dan Sertifikasi Pengajar Tata Busana. Ada juga LSP Kemnaker, yakni Sertifikasi Garmen. Ada lagi Tata Busana Fashion Stylist dan Metodologi dari BNSP sebagai izin mengajar dan saya juga Asesor Metodologi. Di batik saya ada Sertifikasi Pewarnaan Batik dan Desain Batik,” kata Tin.

Tak heran, kemampuannya inilah yang turut menghantarkan bisnisnya hingga sukses seperti sekarang. Apalagi, ia juga mendapat banyak pembelajaran setelah bergabung menjadi inkubator UMKM dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Selama bernaung di sana, Tin diajarkan berbagai program pelatihan dan bimbingan UMKM untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan daya saing agar bisa go digital, go modern, dan go global.

“Dengar nama BRI itu saja sudah wow ya dari dulu sampai sekarang. Nah setelah Covid-19 di 2021 itu saya gabung sampai saya dapat pelatihan setelah satu tahun setelahnya, ada keuangan, bisnis, aplikasi media sosial penjualan. Nah di 2025 kemarin saya gabung sebagai inkubator yang dibimbing secara khusus,” terang Tin.

Geisha Ratu pun kini telah memiliki 3 cabang yakni di kompleks Bandara Adi Sucipto, Green House Prawirotaman dan di Morowali Utara.

“Jadi saya bersyukur sekali bisa bergabung sebagai Inkubator BRI, dari yang awalnya pelatihan umum, lalu dipilih sebagai Inkubator Lokal dan akan menuju Inkubator Nasional. Nah, setelah bergabung dengan BRI juga sangat memudahkan proses transaksi usaha saya, orang-orang yang membeli tinggal pakai QRIS BRI ini, terus sudah, praktis pokoknya ini,” tambah Tin.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner