5 Kali Gagal Jualan, Hidup Imam Berubah Usai Jadi Agen BRILink

2 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Setiap hari, sejak pukul 06.00 pagi, kios sederhana ZonaLink Cell di Watulangkah, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta sudah mulai melayani pelanggan. Dari pagi hingga malam, tempat ini nyaris tak pernah sepi. Beragam warga datang silih berganti, mulai dari pekerja yang ingin menarik uang tunai sebelum berangkat kerja, pedagang yang menyetor hasil penjualan, hingga ibu-ibu yang membayar tagihan listrik dan cicilan bulanan.

Di balik meja kecil itu, Imam Nur Rahman (30) melayani pelanggan satu per satu dengan sabar. Warga sekitar kini mengenalnya sebagai “Juragan BRILink”. Namun, sebelum sampai di titik tersebut, perjalanan Imam jauh dari kata mudah.

Pria asal Yogyakarta itu pernah merasakan jatuh bangun usaha. Ia sempat mencoba berbagai bisnis yang tidak berjalan sesuai harapan, bekerja bertahun-tahun sebagai karyawan bank dan asuransi, hingga akhirnya memberanikan diri membangun usaha sendiri. Bahkan pada tahun pertama menjalankan BRILink, kondisi keuangannya justru sempat minus dan membuatnya hampir menyerah.

“Dulu saya pikir jadi pengusaha itu enak. Ternyata lebih berat, bahkan weekend saja enggak punya waktu, tapi saya puas sama hasilnya” ujarnya sambil tertawa kecil.

Meski begitu, Imam memilih bertahan. Sedikit demi sedikit ia membangun kepercayaan pelanggan dengan pelayanan yang ramah dan konsisten. Dari kios kecil itulah hidupnya perlahan berubah. Kini, ia  berhasil membangun usaha AgenBRILink yang terus berkembang dan menjadi andalan masyarakat sekitar.

Resign Setelah 8 Tahun Jadi Karyawan Perbankan dan Asuransi

Pengalaman jatuh bangun usaha membuat Imam lebih berhati-hati saat membangun bisnis sendiri. Sebelum menemukan usaha yang kini berkembang, ia mengaku sudah enam kali mencoba berbagai jenis usaha, mulai dari jualan minuman boba, HP second, motor bekas, hingga usaha counter kecil-kecilan semasa kuliah.

“Semua gagal, ini usaha yang keenam saya. Alhamdulillah lancar” ujarnya sambil tertawa.

Meski begitu, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga baginya tentang pentingnya membaca kebutuhan pasar dan menjaga konsistensi usaha. Di sisi lain, Imam juga memiliki pengalaman bekerja lebih dari delapan tahun di dunia perbankan dan asuransi.

Selama bekerja sebagai customer service hingga analis perbankan, ia banyak belajar soal pelayanan dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi modal penting saat membangun usaha sendiri.

“Ilmu selama kerja di perbankan dan asuransi, saya terapkan di sini. Saya paham bagaimana cara mentreatment pelanggan,” katanya.

Keputusan untuk benar-benar terjun menjadi pengusaha akhirnya diambil setelah menikah. Imam dan istrinya sepakat resign dari pekerjaan dan mulai merintis usaha sendiri. Keputusan tersebut sempat membuat banyak orang ragu, terlebih lokasi kios yang dipilih dinilai kurang strategis karena sepi. 

“Waktu buka di sini, orang-orang enggak yakin area ini bisa jalan karena tempatnya sepi. Tapi saya pelajari dulu kebutuhan masyarakatnya,” ujarnya.

Namun Imam memiliki keyakinan berbeda. Dari pengamatannya, kawasan tempat ia membuka kios dipenuhi karyawan pabrik, pedagang, dan warga yang membutuhkan layanan transaksi cepat tanpa harus pergi jauh ke bank atau ATM.

“Sekarang orang butuh kemudahan. Mau ambil uang Rp100 ribu saja kalau ke bank harus muter sana sini,” katanya.

Melihat peluang tersebut, Imam akhirnya memutuskan bergabung menjadi AgenBRILink. Baginya, BRI merupakan brand yang sudah sangat dikenal masyarakat dan memiliki jaringan nasabah luas hingga pelosok daerah. Berbekal modal awal sekitar Rp5 juta, Imam mulai menjalankan usaha AgenBRILink secara perlahan dari kios sederhana miliknya di pinggiran Yogyakarta.

Keuangan Pernah Minus dan Hampir Menyerah di Tahun Pertama

Di tahun pertama menjadi agen BRILink, Imam mengaku sempat mengalami kerugian hingga target transaksi tidak tercapai. Ia bahkan pernah merasa ingin menyerah karena tekanan finansial dan waktu kerja yang jauh lebih berat dibanding saat menjadi karyawan.

Pada tahun pertama menjalankan usaha sebagai Agen BRILink di Sukoharjo, Imam mengaku sempat menghadapi berbagai tantangan. Target transaksi yang diharapkan tidak tercapai, bahkan ia beberapa kali mengalami kerugian yang membuat kondisi keuangannya tertekan. Situasi tersebut sempat membuatnya berpikir untuk menyerah.

Namun, Imam memilih untuk mengevaluasi usahanya. Ia mulai menata ulang strategi bisnis, memperbaiki sistem pencatatan dan pembukuan, serta lebih cermat dalam mengelola keuangan. Berbekal pengalaman tersebut, Imam memutuskan untuk tetap melanjutkan usahanya. Langkah itu kemudian membawanya pindah ke Yogyakarta untuk mengembangkan bisnis Agen BRILink yang kini menjadi sumber penghasilan utamanya.

"Saya pernah berada di titik hampir menyerah. Saat itu saya sempat bimbang, apakah usaha ini sebaiknya dilanjutkan atau tidak. Namun, saya memilih untuk kembali mencoba dan menjadikannya sebagai kesempatan kedua untuk memperbaiki apa yang masih kurang." ujar Imam. 

Strategi untuk Menarik Pelanggan

Imam juga punya strategi untuk menarik pelanggan, pria 30 tahun ini rutin menggelar berbagai program promosi. Salah satunya adalah memberikan hadiah minyak goreng satu liter kepada pelanggan yang telah melakukan 20 kali transaksi. Selain itu, ia juga mengadakan program "Jumat Berkah", di mana pelanggan paling loyal akan mendapatkan hampers sebagai bentuk apresiasi.

Tak hanya itu, Imam kerap menghadirkan promo tebus murah untuk berbagai produk kebutuhan sehari-hari maupun barang elektronik sederhana, seperti headset. Menurutnya, berbagai program tersebut efektif meningkatkan loyalitas pelanggan sekaligus menarik masyarakat untuk terus bertransaksi di agen BRILink miliknya.

"Untuk menarik pelanggan, saya dulu memberikan berbagai promo. Misalnya, setiap pelanggan yang sudah melakukan 20 kali transaksi akan mendapatkan hadiah minyak goreng satu liter. Selain itu, saya juga mengadakan program Jumat Berkah. Pada Jumat ketiga setelah Lebaran, pelanggan yang paling loyal akan saya berikan hampers sebagai bentuk apresiasi."

Namun di atas semua strategi itu, Imam percaya satu hal yang paling penting adalah pelayanan. Ia tidak pernah membanting tarif jasa demi bersaing dengan agen lain. Sebaliknya, ia fokus membangun kepercayaan pelanggan melalui pelayanan yang ramah dan solutif.

“Setiap pelanggan datang lagi, saya selalu tanya feedback. Ada kendala apa, masalah sebelumnya sudah selesai belum,” katanya.

Pengalaman bekerja sebagai customer service hingga analis di bank menjadi bekal penting baginya dalam memahami cara menghadapi pelanggan dari berbagai karakter. Menurut Imam, pelanggan bukan hanya membutuhkan transaksi selesai, tetapi juga rasa nyaman dan solusi.

Pendekatan itulah yang membuat banyak pelanggan tetap setia meski persaingan AgenBRILink di wilayahnya cukup ketat. Bahkan beberapa pelanggan rela datang dari luar desa karena merasa nyaman bertransaksi di tempatnya.

Imam mengungkapkan bahwa menjadi Agen BRILink membawa perubahan besar dalam kehidupannya, terutama dari sisi finansial, usaha, dan jejaring relasi. Ia kini berada pada kondisi yang jauh lebih stabil dibandingkan saat masih menjadi karyawan, ketika ia harus menahan banyak keinginan karena keterbatasan ekonomi.

“Secara finansial, hidup saya berubah sangat jauh setelah jadi Agen BRILink,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari usaha tersebut, Imam kini telah memiliki kios sendiri serta kendaraan pribadi berupa mobil dan motor. Menurutnya, perubahan yang ia rasakan bukan hanya soal peningkatan penghasilan, tetapi juga ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Saya sekarang sudah bisa membeli mobil dan motor. Waktu masih jadi karyawan, kondisi keuangan cukup struggle, jadi banyak keinginan yang harus saya tahan. Tapi sejak menjadi Agen BRILink, saya lebih santai dan tidak terlalu terbebani masalah keuangan,” tuturnya.

Perubahan kondisi tersebut turut mengubah cara pandangnya terhadap keuangan. Jika dulu ia fokus pada sekadar memenuhi kebutuhan, kini ia lebih memikirkan pengembangan usaha dan investasi jangka panjang.

“Sekarang saya lebih memikirkan bagaimana cara memperbesar investasi. Saya merasa sudah melewati fase kritis menuju fase yang lebih baik. Pengelolaan keuangan juga jadi lebih terarah, misalnya bulan ini cukup, bulan berikutnya bisa direncanakan lagi. Pikiran saya jadi lebih tenang, dan itu yang sangat mengubah hidup saya,” tambahnya.

Seiring berkembangnya usaha, Imam juga merasakan dampak sosial yang cukup besar. Di lingkungannya, ia mulai dikenal sebagai “Juragan BRILink”. Tidak jarang, saat bepergian ke luar daerah, ia bertemu orang yang mengenalnya dari bisnis yang ia jalankan.

“Kadang kalau saya pergi ke mana pun, saya bisa bertemu orang yang mengenal saya karena banyaknya pelanggan. Mereka sering menyapa, ‘Wah masnya sampai sini.’ Dari usaha ini juga saya mendapatkan banyak relasi, mulai dari pengusaha mobil, travel, hingga layanan top up e-money. Bisnis saya pun semakin berkembang,” ungkapnya.

Saat ini, usaha yang ia rintis dari sebuah counter kecil tersebut telah berkembang pesat. Dalam sehari, kios miliknya mampu melayani hingga sekitar 200 transaksi. Meski demikian, Imam tetap memegang prinsip hidup yang ia yakini sejak awal membangun usaha.

“Kalau pendapatan naik, gaya hidup jangan ikut naik. Kalau tidak, nanti tidak akan punya apa-apa,” pungkasnya.

Menurut Imam, perkembangan usahanya juga tidak lepas dari dukungan BRI dalam operasional AgenBRILink. Ia menilai adanya grup informasi, contact center bebas pulsa, serta respons cepat dari PAB saat terjadi gangguan sistem sangat membantu agen dalam menghindari kesalahan transaksi.

“Pendampingan dari BRI itu sangat bagus, kalau ada kendala juga bisa langsung telepon contact center gratis,” ujarnya.

Selain itu, fitur pencarian agen seperti Sabrina turut memudahkan pelanggan menemukan lokasi sekaligus membantu promosi. Ia pun berharap ke depan ada pengembangan fitur seperti voucher dan pengaturan radius agen agar sebaran agen bisa lebih merata.

Layanan Agen BRILink menjadi salah satu contoh nyata bagaimana keuangan berbasis komunitas mampu mendorong inklusi keuangan sekaligus memberdayakan masyarakat, termasuk pelaku usaha seperti Imam di Yogyakarta yang merasakan langsung dampaknya.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengatakan keberadaan Agen BRILink tidak hanya memperluas akses layanan keuangan hingga pelosok, tetapi juga ikut memperkuat ekonomi kerakyatan.

“Ini menjadi gambaran konkret bagaimana layanan keuangan berbasis komunitas melalui kolaborasi BRI dan masyarakat dapat mendorong inklusi keuangan, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta membangun kemandirian masyarakat desa secara berkelanjutan,” ujar Akhmad.

Imam sendiri merupakan salah satu contoh pelaku usaha yang merasakan manfaat dari ekosistem tersebut. Usahanya sebagai Agen BRILink di Yogyakarta berkembang pesat hingga mampu meningkatkan kondisi finansial dan membuka peluang usaha baru.

Sebagai bagian dari strategi memperluas layanan hingga ke pelosok, BRI terus memperkuat ekosistem Agen BRILink di berbagai daerah. Hingga akhir Desember 2025, jumlah Agen BRILink telah melampaui 1,1 juta agen, tumbuh 12,2 persen secara tahunan.

Jaringan ini tersebar di lebih dari 66 ribu desa dan menjangkau lebih dari 80 persen wilayah Indonesia, dengan total volume transaksi mencapai Rp1.746 triliun atau tumbuh 9,9 persen secara tahunan.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner