Penampakan Satwa Langka Burung Maleo yang Ditemukan di Kaki Gunung Klabat

15 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Kawasan kaki Gunung Klabat di Kabupaten Minahasa Utara mendadak menjadi sorotan dunia konservasi menyusul ditemukannya sepasang burung Maleo (Macrocephalon maleo). Temuan satwa endemik Sulawesi yang terancam punah ini memicu langkah darurat pelestarian dari pihak swasta, akademisi, dan pemerintah daerah.

Keberadaan burung Maleo di wilayah ini dinilai unik karena berada di kawasan hutan pegunungan (non-typical upland forest), yang berbeda dari habitat aslinya yang biasanya ditemukan di area pantai atau dataran rendah berpanas bumi.

Menanggapi temuan ini, PT Tirta Investama (AQUA) Airmadidi bersama mitra CSR Lestari Bumi Hijau telah melaporkan perkembangan program konservasi tersebut secara langsung kepada Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya payung perlindungan yang lebih kuat bagi ekosistem Gunung Klabat.

Humas PT Tirta Investama Airmadidi, Meiske Luntungan menegaskan, perusahaan berkomitmen penuh tidak hanya pada operasional, tetapi juga pada penjagaan daya dukung lingkungan di sekitar wilayah produksi.

"Kami secara konsisten menjalankan rehabilitasi mata air dan penanaman pohon untuk memulihkan ekosistem,’’ ujarnya.

Namun, lanjut dia, temuan sepasang burung Maleo ini memberikan urgensi baru. Sehingga fokus pihaknya kini meluas pada perlindungan habitat tanpa menangkap satwa tersebut, melalui edukasi masif kepada masyarakat dan pemasangan papan larangan berburu di titik-titik strategis jelajah Maleo.

‘’Kami bekerja sama dengan BPBD, KPH Unit VI, dan kelompok pecinta alam untuk memantau pergerakan mereka secara intensif. Kami berharap pemerintah daerah dapat memperkuat status perlindungan kawasan ini agar ekosistem unik di kaki Gunung Klabat tetap terjaga bagi generasi mendatang," ungkap Meiske Luntungan.

Dia memaparkan, untuk menjaga kelestarian kawasan dan satwa langka tersebut, sejumlah langkah konkret kini tengah diimplementasikan. Langkah itu berupa pemulihan fisik yakni pembangunan rorak atau lubang resapan untuk konservasi tanah dan air guna menjaga kelembaban tanah yang dibutuhkan ekosistem.

‘’Kami juga melakukan sosialisasi lintas sektor melalui edukasi kepada warga di batas jangkauan jelajah Maleo agar tidak melakukan perburuan atau perusakan lahan,’’ ujarnya.

Selain itu juga ada penguatan regulasi lokal. Hal itu untuk mendorong kolaborasi berkelanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dalam pengawasan hutan.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner