:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648001/original/044130700_1782659027-kenandy__17_.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Yogyakarta - Terletak di Kecamatan Prambanan, Sleman, DIY, perjalanan menuju Studio Kenandy Leather Book menawarkan suasana yang berbeda. Menyusuri Jalan Ngentak Polodadi, pengunjung akan menemukan lokasi UMKM stationary berbahan kulit yang unik di tengah suasana yang sejuk dan menenangkan.
Berada di dekat sungai dengan banyak pepohonan bambu di sekitarnya, tempat ini menghadirkan nuansa alami. Suasananya selaras dengan konsep Kenandy yang fokus menghadirkan leather book dan journal, produk yang dekat dengan aktivitas membaca, menulis, serta menuangkan ide.
Andy (42), owner Kenandy Leather Book, menceritakan perjalanan usahanya dalam merintis Kenandy bersama sang istri. Dimulai dari produksi rumahan, kini Kenandy berkembang hingga memiliki studio display yang terbuka untuk dikunjungi kapan saja.
"Tahun 2016 kami lahir. Bulan Februari ya. Kurang lebih 10 tahun yang lalu. Jadi saya dan istri, cuma berdua dulu tahun segitu di rumah kami," kata Andy saat ditemui di Studio Kenandy pada (15/6/2026).
Kegemaran Menulis yang Menjadi Awal Perjalanan Bisnis Kenandy
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648002/original/027076100_1782659028-kenandy__5_.jpg)
Perbesar
Lahirnya Kenandy Leather Book dilatar belakangi dengan campaign Ayo Menulis. Andy dan sang istri ingin mendukung literasi dunia kepenulisan melalui campaign tersebut dan produk berupa perlengkapan menulis dari Kenandy.
"Jadi kenapa lahir Kenandy, karena kami punya campaign Ayo Menulis sebenarnya. Kan zaman itu maupun zaman sekarang sudah agak banyak sih Ayo Menulis atau program Menulis. Pada zaman itu kan masih banyak Ayo Baca. Itu pun belum maksimal kan. Nah kita ingin dukung literasi dunia menulis," cerita Andy.
Andy dan sang istri sama-sama memiliki latar belakang di dunia kepenulisan. Berangkat dari visi yang sejalan, keduanya kemudian mencetuskan ide untuk merintis usaha alat tulis berbahan dasar kulit yang diberi nama Kenandy.
"Karena latar belakang kami kan sama-sama di bidang penulisan kan. Kalau istri itu di wartawan wisata waktu itu. Jadi jurnal wisata. Dia bikin blogger dan sebagainya. Kalau saya di film dulu. Jadi memang sama-sama suka nulis ya," kata Andy.
Andy merupakan lulusan Akademi Komunikasi Indonesia (Akindo) atau yang kini telah berganti nama menjadi STIKOM AKINDO angkatan 2007. Sementara sang istri merupakan alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2005.
Alasan Memilih Material Leather atau Kulit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648003/original/086494200_1782659028-kenandy__6_.jpg)
Perbesar
Ditemani suara aliran sungai dan kokok ayam, Andy menceritakan alasan di balik pemilihan kulit sebagai bahan dasar produk Kenandy. Rupanya, film legendaris Indiana Jones menjadi salah satu inspirasi yang membuat Andy tertarik menggunakan material kulit untuk produk-produk Kenandy.
"Kalau leather itu kan kami terinspirasi dari salah satu film legendaris Indiana Jones. Suka kenapa bikin jurnal itu, itu ya itu sebenarnya. Karena kami suka film itu. Itu kan mencari artefak yang hilang," cerita Andy.
Dalam film tersebut, diceritakan bahwa Indiana Jones selalu membawa catatan kecil atau jurnal dalam setiap petualangannya. Catatan yang terbuat dari bahan kulit tersebut kemudian menginspirasi Andy dan sang istri untuk menciptakan produk berbahan dasar kulit.
"Kita punya prinsip bahwa kayaknya asik mencari sesuatu yang orang gak banyak tahu terus kita sampaikan. Cuman bawa apa nih, istilahnya. Buku aja catatan yang dibawa. Indiana Jones itu kan bawa catatan kecil. Nah bahan dasarnya itu leather," kata Andy.
Buku catatan dengan bahan dasar leather lebih aman ketika terjatuh ataupun terkena air. Ken, istri Andy yang merupakan ketua Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) melakukan test case untuk mengetahui ketahanan buku catatan berbahan dasar kulit ketika dibawa berpergian menjelajahi alam.
"Kan kalau buku kertas pasti akan rawan ya. Masuk air, masuk hutan, mana tuh mudah rusak. Kita pilih salah satunya bahan yang gak mudah rusak, itu adalah kulit sebenarnya. kita test case waktu itu dan memang oke bener (catatan kecil bahan dasar kulit tersebut awet)," jelas Andy.
Bahan dasar pembuatan leather book tersebut didapatkan Andy dari Ngawi hingga Magetan. Awal merintis tak punya pengetahuan tentang kulit, namun relasi yang luas membuatnya bisa mengembangkan bisnis tersebut.
Inspirasi dari Karya Midori Jepang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648004/original/039157500_1782659029-kenandy__12_.jpg)
Perbesar
Berdasarkan kumpulan data dan informasi yang didapatkannya dari media sosial, Andy menyebut jika Kenandy adalah brand alat tulis pertama di Indonesia yang menggunakan kulit sebagai bahan dasarnya.
"Mungkin kita brand pertama yang memanfaatkan kulit jadi buku. Walaupun kami gak mengumpulkan data itu ya. Tapi setahu saya, ini baik Instagram maupun baik apa kita lihat waktu itu emang belum ada yang pakai," kata Andy.
Andy mengungkapkan bahwa ia juga belajar dari brand Midori asal Jepang. Midori merupakan salah merek alat tulis asal Jepang yang didirikan tahun 1980 dan sudah mendunia. Dengan kualitas yang sangat bagus, merek tersebut terkenal di kalangan pencinta jurnal, salah satunya adalah Andy.
"Kalau Jepang udah lama namanya Midori. Kami belajarnya di Jepang itu. Kami mengadopsi karyanya Midori itu. Tapi tidak sama. Kami ngefans sama karyanya Midori yang jadi buku itu," kata Andy.
Setiap produk memiliki ciri khas tersendiri, begitu pula dengan Kenandy. Terinspirasi dari karya Midori, Kenandy kemudian mengembangkan produknya dengan konsep yang berbeda agar memiliki identitas kuat dan mudah diingat oleh pelanggan.
"Modelnya kami bikin beda supaya kami gak duplikat, dan konsep covernya kalau mereka basic, kalau kami cenderung banyak yang di luar basic" tambah Andy.
Tantangan Menjalankan Bisnis Selama 10 Tahun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648005/original/091121200_1782659029-kenandy__4_.jpg)
Perbesar
Tantangan Andy dalam menjalankan bisnis Kenandy selama 10 tahun adalah menjaga inovasi. Sebagai usaha yang bergerak di industri kreatif, Kenandy dituntut untuk terus menghadirkan ide-ide baru agar produk yang dihasilkan tetap berkembang dan relevan.
"Jadi kalau kita pilih industri kreatif, kami ini kan lahir dari dunia kreatif dulu. Tantangannya jelas inovasi. Inovasi itu memang menjadi tantangan personal kami yang sampai hari ini kita harus terus dan terus membangun inovasi itu," kata Andy.
Andy bersama timnya kerap berdiskusi untuk menemukan ide serta menghadirkan inovasi baru bagi Kenandy. Selain itu, inspirasi juga didapatkan Andy dari berbagai aktivitas, seperti berjalan-jalan, traveling, berbincang, hingga mendengarkan cerita dari orang-orang di sekitarnya.
"Jadi gak bisa ya kita itu kayak proyek pabrikan yang sudah ditentukan. Kalau kami kan custom. Artinya memang dituntut ide itu harus ada setiap saat. Bahkan sebulan sekali kami kadang meneluarkan produk baru. Setahun sekali kami punya konsep packaging yang baru," cerita Andy.
Awalnya berfokus pada produk leather journal, kini Kenandy mulai mengembangkan lini produknya ke kategori travel stationery. Beragam produk pun dihadirkan, mulai dari bolpoin, pouch, tempat kartu, tempat paspor, hingga cover laptop yang mengedepankan fungsi sekaligus nilai estetika.
"Sekarang kita berkembang ya. Kalau dulu kan pure kita jurnal. Kalau sekarang kita stationary. Jadi ada semua peralatan stationary mungkin yang mendukungnya kayak cover laptop, tempat kartu, paspor. Jadi kami emang pack perjalanan kan, nah disitu kami ada semua," kata Andy.
Dari Modal Rp 350.000 Kini Omzet Rp 50 Juta per Bulan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648008/original/048055500_1782659030-kenandy__15_.jpg)
Perbesar
Andy mengungkapkan jika modal awalnya memulai usaha adalah Rp350.000. Modal tersebut digunakan Andy untuk menciptakan produk unik yang kemudian diberikan kepada orang terdekatnya.
Mendapatkan respon positif, Andy dan sang istri mulai mengembangkan produknya. Melalui Instagram, Andy dan sang istri bercerita sekaligus memperkenalkan tentang produk leather journal-nya.
"Karena model pertama perca, kertas kita pakai kertas yang kita punya. Karena di Rp300.000 itu tidak kami jual. Itu adalah untuk bandstorming kami. Kita kasih teman-teman yang nikah gitu. Jadi kecil-kecil gitu. Akhirnya mereka komen. Bagus," kata Andy.
Sepuluh tahun merintis, omzet Kenandy dalam sebulan bisa tembus Rp50 juta. Pendapatan tersebut jauh berbeda dengan masa sebelum pandemi Covid-19. Andy mengungkapkan jika setelah Covid-19 banyak perubahan yang dirasakan, begitu juga dengan pendapatan.
"Kalau bicara omzet ini agak sulit ya. Karena omset itu kita nggak pernah stabil. Kalau sebelum covid kami lumayan ya. Agak tinggi ya. Selang pasca covid emang bukan menurun atau melemah," jelas Andy.
"Nah sekarang kita fokus bikin yang terbaik. Karena pasca covid ini mencari klien baru tuh susahnya minta ampun. Sekarang kita menjaga lain yang lama. Tapi kalau ngomong-ngomong saja memang angka kecil tuh sekarang nggak gede-gede kayak dulu. Ya masih di bawah lima puluhan juta. Kalau dulu sebelum covid bisa sampai di atas," tambahnya.
Fokus pada perlengkapan alat tulis seperti leather journal hingga pulpen, pesanan Kenandy banyak dari corporate atau perusahaan. Punya keunikan karena terbuat dari bahan kulit, produk Kenandy sudah tembus pasar internasional.
"Yang masih aktif sekarang pasca Covid ini Singapura, Jepang, Perancis. Hongkong juga. Ada beberapa yang sekarang baru itu kayak Yunani. Terus Amerika pernah. Terus ini kemarin itu New Zealand. Jadi biasanya NGO juga. Inggris juga pernah," kata Andy menjelaskan tentang produknya yang sudah dikirimkan ke berbagai negara.
Asal Usul Nama Kenandy
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648010/original/097467700_1782659030-kenandy__10_.jpg)
Perbesar
Nama Kenandy merupakan gabungan dari nama Andy dan sang istri yang bernama Ken. Ide pemberian nama tersebut berasal dari sang istri yang ingin mengabadikan perpaduan nama mereka sebagai identitas usaha.
"Jadi sebenarnya itu istri yang menamai itu. Karena itu nama kami berdua. Jadi saya Andi, istri saya Ken. Jadi Kenandy," kata Andy.
Nama merupakan pemberian dari orang tua yang penuh berkah dan bermakna baik. Memilih meggabungkan nama keduanya sebagai nama brand, Andy berharap bisnis yang dijalaninya penuh dengan kebaikan karena pemberina nama Ken dan Andy adalah doa dari orang tua.
"Jadi kami filosofinya bahwa nama Kenandy ini, nama kami yang dari satu brand itu supaya kami itu ingat bahwa nama kami itu nama yang baik yang diberi oleh orang tua. Kita mesti jadi baik terus. Berarti enggak boleh menceng dari apapun, dari segi kualitas, kejujuran, ke apapun ya," kata Andy.
Ditemani suasana sejuk di bawan pohon bamboo dan di dekat sungai meski sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, Andy menceritakan tentang pengalaman paling berkesan menjalani usaha Kenandy sejak 2016.
"Sebenarnya saya merasa bahwa ini syukur yang tidak terbatas. Jadi orang yang menjalani hidup itu kadang ada tidak ngiranya. Walaupun saya yakin bahwa semua yang tidak ngiranya itu sudah terkonsep dengan rapi oleh si personalnya," ungkap Andy.
Ketika memulai menjalani usaha, Andy sempat pesimis karena sama sekali tidak mempunyai latar belakang dan pengetahuan tentang kulit, namun ia adalah orang yang paling kritis. Sebelum memulai usaha, Andy sudah mempunyai pekerjaan yang stabil, mengajar hingga bekerja di TVRI.
Berbagai pertanyaan seputar leather journal ditanyakan Andy kepada sang istri yang kala itu sang istri mengajak untuk mencoba sesuatu yang baru. Namun setelah terjun, ia semakin belajar tentang konsep bisnis adalah terus berproses mempertahankan kualitas.
Ikut Lima Kali BRILiapreneur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648013/original/062384700_1782659031-kenandy__2_.jpg)
Perbesar
Kenandy Leather Journal turut serta BRILianpreneur sebanyak lima kali. Pameran karya atau program pemberdayaan UMKM dari Bank BRI ini bertujuan untuk mendorong UMKM lokal menembus pasar global.
BRILianpreneur merupakan program pemberdayaan dan pameran tahunan bertaraf internasional yang diinisiasi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mempromosikan produk unggulan UMKM Indonesia ke pasar global. Program ini juga menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk menjalin kemitraan bisnis melalui kegiatan business matching dengan calon pembeli dari berbagai negara.
"Saya itu lima kali ya diundang di BRILianpreneur ya. Alhamdulillah lolos Berlian Baner itu kalau enggak salah lima kali. Empat ke lima kali saya lupa," kata Andy.
Pasca pandemi Covid-19 sekitar tahun 2021 dan 2022, pameran BRILiapreneur tetap digelar, namun secara hybrid (kombinasi luring dan daring). Setelah dua tahun hybrid, pada 2023 dan 2024, Kenandy terbang ke Jakarta.
"Pas Covid itu tahun 2021, 2022 itu kita enggak berangkat. Hybrid ya kalau enggak salah. Terus tahun 2023, 2024 kita ke Jakarta. Nah 25 enggak, enggak ikut kemarin karena ada batasan kalau enggak salah. Terus tahun 2026 ini belum ada informasi," kata Andy menjelaskan tentang BRILianpreneur yang diikuti.
Perkembangan Bisnis dengan Dukungan Sembilan Karyawan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648016/original/039899000_1782659032-kenandy__3_.jpg)
Perbesar
Kenandy kini mempunyai sembilan karyawan, tiga diantaranya adalah karyawan freelance atau paruh waktu. Memegang bagian marketing, tiga karyawan freelance ini bisa mengerjakan pekerjaan secara remote dan sekitar seminggu sekali ke kantor.
"Sembilan lah. Sepuluh, sebelas sama saya dan istri ya. Kami kan ada tiga yang freelance ya. Jadi memang dia mengerjainya nggak di sini karena kan marketing kan. Paling kesini seminggu sekali motret-motret," kata Andy.
Salah satu karyawan Kenandy adalah Tika. Tika merupakan adik tingkat Andy di Akindo dan sudah bekerja sejak 2018. Sebagai salah satu karyawan paling senior, Tika dipercaya untuk menangani bagian operasional.
"Kalau saya di operational. Galeri, event-event, ke mitra-mitra. Ada beberapa mitra di sini," jelas Tika.
Dalam kesempatan berbincang sembari menunggu owner Kenandy yang sedang keluar, Tika menceritakan tentang kantor Kenandy. Seiring perkembangan usaha, tempat tersebut kemudian diperluas dengan penambahan taman, area santai, hingga ruang belakang.
"Banyak yang pengen lihat kesini, kan. Terus belum punya toko. Terus Mas Andi bikin ini. Terus baru mau dibuka untuk kunjungan. Covid. Terus Mas Andi bikin ini. Bikin taman, ruang belakang, dapur," cerita Tika.
Penyaluran KUR BRI Capai Rp84,38 Triliun
Mengutip Instagram resmi BRI yang diunggah pada 17 Juni 2026 dan dilansir pada 26 Juni 2026, BRI terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM di berbagai daerah melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp84,36 triliun. Dari total penyaluran tersebut, sebanyak 67,18 persen dialokasikan untuk sektor produktif yang mendukung ketahanan pangan.
Melalui akses pembiayaan yang lebih luas dan mudah dijangkau, pelaku UMKM diharapkan dapat meningkatkan produktivitas usaha, membuka peluang lapangan kerja baru, serta turut memperkuat ketahanan pangan nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen BRI dalam mendukung UMKM sebagai salah satu pilar penting perekonomian Indonesia.

11 hours ago
20
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535469/original/004594100_1774015488-IMG_0283.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8689112/original/032643500_1782748110-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_10.18.22_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8684125/original/089795800_1782736826-Owner_Jenk_Nik_Brownies_Batik_Cake___Cookies.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8681508/original/050136900_1782731036-377002.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8678667/original/048127700_1782725134-IMG_20260629_145001.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8674843/original/056227000_1782716818-Dina_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8671460/original/076773900_1782709635-dina_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8673130/original/011503200_1782713519-1001409427.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8648620/original/035491800_1782660417-yanti_batok__17_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8669810/original/074257300_1782706469-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_11.12.12.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8649372/original/046754500_1782662063-dawet_utami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8639647/original/084785200_1782643944-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_20.04.07.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8664616/original/039247700_1782694434-sambal_itheng6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8649752/original/031346000_1782662878-aefec4de-b4c8-415c-a15d-25a823fbb470.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8642352/original/072868900_1782649108-71277.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8641589/original/092984400_1782647808-10e4033f-bf08-4f8e-b76f-0d1b6004b620.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8640705/original/030979500_1782646410-71801.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8641059/original/019273200_1782647009-1001406028.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8636308/original/044477100_1782637482-c07f200e-82f6-4196-b375-d456b9a1c8a5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1654015/original/074968000_1500528960-bayialkoholcov.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534028/original/002692300_1773806214-TKP_pria_di_Pringsewu__Lampung_ditemukan_tewas_gantung_diri_di_rumah_tunangannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/817544/original/014199200_1424873064-ilustrasi-begal-motor-5-150225.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522956/original/076087900_1772782406-WhatsApp_Image_2026-03-06_at_13.49.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535084/original/074686700_1773912505-kebakaran_sukabumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508796/original/004578600_1771600299-247987.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4294815/original/095852200_1674030831-IMG-20220605-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534545/original/007615900_1773836670-1002515232.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515114/original/004720200_1772161679-Petugas_mengevakuasi_potongan_tubuh_dari_Pantai_Ketewel_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/930874/original/077594600_1437123186-MENENTUKAN_HILAL_1_SYAWAL-TIM_RUKYATUL_HILAL-KEMBANGAN-JAKARTA-HELMI_AFFANDI-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520014/original/055995200_1772604244-1001765701.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533918/original/016565000_1773797149-20241222_120249.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533839/original/016596600_1773786483-57daaf38-d451-4234-8d6c-64db664b446c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534426/original/056870900_1773823094-IMG-20260318-WA0004.jpg)