Angka HIV AIDS di Lampung Terus Naik, Fakta Penyebabnya Bikin Kaget

8 hours ago 3

Liputan6.com, Lampung - Kasus HIV/AIDS di Provinsi Lampung menunjukkan tren meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Kesehatan menyebut lonjakan itu bukan semata karena penularan, tetapi juga hasil dari penemuan kasus yang lebih masif.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Edwin Rusli mengungkapkan, tren kasus HIV di Lampung terus meningkat seiring upaya deteksi dini yang semakin agresif.

“Penemuan kasus dilakukan secara aktif melalui penjangkauan populasi kunci dan pemeriksaan di fasilitas kesehatan,” ujarnya dikonfirmasi, Selasa (5/5).

Namun, capaian tersebut masih belum memenuhi target dari Kementerian Kesehatan RI yang menargetkan estimasi 9.374 Orang Dengan HIV (ODHIV) di Lampung dapat ditemukan.

"Hingga saat ini, Lampung baru mencapai 71% ODHIV ditemukan dan masih hidup, 70% menjalani terapi ARV dan 58% dengan viral load tersupresi. Adapun data kumulatif menunjukkan tren peningkatan. Selama 2024: 5.495 ODHIV, 2025: 6.474 ODHIV dan 2026 (hingga Maret): 6.696 ODHIV," sebutnya.

Kasus HIV di Lampung paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif 25-49 tahun. Sementara wilayah dengan angka tertinggi berada di Bandar Lampung.

Dia mencatat, penularan HIV masih didominasi oleh hubungan seksual tidak aman, terutama pada pasangan heteroseksual.

"Selain itu, penularan juga terjadi akibat penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah terkontaminasi, hingga penularan dari ibu ke bayi," bebernya.

Program pencegahan dinilai cukup efektif, terutama melalui deteksi dan pengobatan dini. Dengan terapi ARV, jumlah virus dalam tubuh bisa ditekan hingga tidak terdeteksi dan tidak menular, sesuai prinsip global “Undetectable = Untransmittable (U=U)”.

"Upaya lain yang dilakukan meliputi penggunaan kondom, pemeriksaan viral load rutin, hingga terapi pencegahan seperti PrEP," katanya.

Saat ini, Edwin bilang, layanan tes HIV sudah tersedia di seluruh puskesmas di Lampung. Sementara pengobatan ARV dapat diakses di fasilitas kesehatan yang memiliki layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) di 15 kabupaten/kota.

Meski layanan tersedia, stigma dan diskriminasi masih menjadi kendala utama. Banyak penderita enggan melakukan tes atau berobat karena takut dikucilkan.

“Stigma ini sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya sendiri,” ungkapnya.

Kurang Edukasi Memperparah Kondisi

Selain itu, rendahnya kepatuhan minum obat ARV dan kurangnya edukasi masyarakat juga memperparah kondisi.

Menurut Edwin, Dinkes telah melakukan berbagai upaya menjangkau kelompok berisiko, seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, hingga warga binaan lapas. Metode yang digunakan antara lain mobile testing ke lokasi-lokasi rawan serta skrining di fasilitas kesehatan.

"Untuk mencegah penularan dari ibu ke anak, skrining dilakukan sejak kehamilan. Ibu hamil yang positif HIV langsung diberikan terapi ARV dan dipantau hingga persalinan. Bayi juga menjalani pemeriksaan khusus secara berkala serta mendapat terapi pencegahan," jelasnya.

Edwin mengungkapkan, pemerintah menargetkan penghapusan HIV/AIDS pada 2030 melalui strategi “Three Zero”.

"Nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS serta nol stigma dan diskriminasi. Selain itu, diterapkan strategi “Triple 95” yakni 95% ODHIV mengetahui statusnya, 95% mendapatkan pengobatan dan 95% mencapai supresi virus," ujarnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner