Berawal dari Telaga Desa, Desa Potorono Kini Menghidupi Ratusan Warga

8 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Hamparan ilalang pernah mendominasi kawasan yang kini dikenal sebagai Telaga Desa Potorono. Tak banyak yang menyangka lahan yang dulu dianggap tidak produktif itu kini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, destinasi wisata favorit warga, sekaligus sumber penghidupan bagi ratusan orang.

Di balik perubahan tersebut, ada perjalanan panjang yang dibangun melalui kolaborasi, gotong royong, dan keberanian melihat potensi desa sebagai kekuatan utama pembangunan. Sutardi, Direktur Utama BUMDes Mekaring Potorono yang memimpin sejak 2017, masih mengingat betul bagaimana kondisi kawasan itu pada awal pembangunan.

“Kalau lihat tahun 2015 dulu, di sini masih ilalang semua. Embung yang sekarang jadi Telaga Desa itu dulunya tanah yang tidak produktif. Sampai ujung kawasan yang sekarang jadi Taman Dino juga masih ilalang,” ujarnya.

Pembangunan embung mulai direncanakan pada 2016 dan selesai pada 2017. Setelah itu, pengelolaan kawasan beserta sejumlah aset desa diserahkan kepada BUMDes Mekaring Potorono. Namun perjalanan mengembangkan potensi desa tidak berjalan mulus. Pada masa-masa awal, BUMDes bahkan sempat menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat karena muncul kekhawatiran pengelolaan lahan akan menggeser kepentingan warga.

“Kami dulu sempat dikira mau merebut lahan masyarakat. Karena komunikasi belum ketemu, ya ada gesekan. Tapi akhirnya semua stakeholder kami kumpulkan dan diajak berdiskusi bersama,” kata Sutardi.

Menurutnya, kunci keberhasilan BUMDes terletak pada komunikasi yang baik antara empat pilar utama desa, yaitu pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), BUMDes, dan kelompok masyarakat.

“Kalau empat pilar ini komunikasinya baik, potensi desa bisa dijalankan bersama-sama,” ujarnya.

Pendampingan Desa BRILiaN hingga Raih Prestasi

Perjalanan BUMDes Mekaring Potorono mulai mendapat momentum penting saat mengikuti Program Desa BRILiaN pada 2021. Pada masa itu, unit usaha desa tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan dengan Telaga Desa sebagai satu-satunya destinasi yang dimiliki.

Direktur BUMDes Mekaring Potorono, Sutardi, mengenang bahwa sebelum mengikuti program tersebut, pengelolaan dan pengembangan usaha desa masih berjalan secara sederhana tanpa arah yang terpetakan secara jelas.

“Dulu tahun 2021 kami baru memiliki Telaga Desa. Setelah mendapat pendampingan melalui Program Desa BRILiaN, perkembangannya bisa sampai seperti sekarang. BRI juga sampai saat ini masih terus mendukung berbagai kegiatan kami,” ujarnya.

Melalui Program Desa BRILiaN, BUMDes Mekaring Potorono memperoleh pendampingan dalam berbagai aspek, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemetaan potensi desa, hingga akses terhadap beragam program pengembangan.

Menurut Sutardi, pendampingan tersebut memberikan perubahan besar dalam cara desa mengelola potensi yang dimiliki. Jika sebelumnya pengembangan dilakukan sekadar berjalan apa adanya, kini seluruh langkah pembangunan dan pengembangan usaha desa dilakukan secara lebih terarah dan strategis.

“Dulu yang penting jalan saja. Setelah ikut Desa BRILiaN semuanya jadi lebih tertata. Potensi desa dipetakan dengan jelas, SDM juga terus ditingkatkan,” katanya.

Dampak dari pendampingan itu pun mulai terlihat melalui berbagai capaian yang berhasil diraih. Pada 2025, BUMDes Mekaring Potorono dinobatkan sebagai BUMDes Inspiratif Terbaik tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta dan dipercaya mewakili daerah pada ajang nasional.

Dalam kompetisi tersebut, BUMDes Mekaring Potorono berhasil menempati peringkat keenam nasional kategori BUMDes terbaik. Sutardi menilai pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti nyata manfaat Program Desa BRILiaN dalam mendorong kapasitas dan daya saing BUMDes. Ia pun optimistis jika kembali mengikuti kompetisi serupa, BUMDes Mekaring Potorono akan tampil lebih siap.

“Inilah bentuk dukungan dari Desa BRILiaN. Memang pada 2021 kami belum berhasil, tetapi jika mengikuti penilaian lagi tahun ini, kami jauh lebih siap dan lebih lengkap,” ujarnya.

Dari Satu Telaga Menjadi 10 Unit Usaha

Apa yang dimulai dari satu embung kini berkembang menjadi ekosistem ekonomi desa yang jauh lebih besar. Saat ini BUMDes Mekaring Potorono mengelola 10 unit usaha dengan total 121 tenaga kerja. Unit usaha tersebut mencakup sektor wisata, pengelolaan sampah, sekolah sepak bola, taman kuliner, pasar desa, toko oleh-oleh, hingga program ketahanan pangan.

Di sektor wisata, BUMDes mengelola lima destinasi utama, yakni Telaga Desa, Umbul Potorono, Susur Sungai, Potorono Edu Park (Taman Dinosaurus), dan Ujawasa. Aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar kawasan wisata juga ikut menggerakkan pelaku usaha lokal. Mulai dari pedagang makanan hingga pelaku UMKM mendapatkan ruang untuk berkembang.

Setelah mengikuti Desa BRILian, saat ini jumlah UMKM yang didampingi BUMDes mencapai sekitar 200 pelaku usaha. Mereka tidak hanya mendapatkan akses berjualan, tetapi juga berbagai pelatihan pengembangan usaha, termasuk pendampingan sertifikasi halal.

“Peningkatannya UMKM setelah ikut Desa BRIlian luar biasa. Kami datangkan pelatihan, pendampingan halal, dan memberikan ruang usaha melalui taman kuliner maupun pasar desa,” kata Sutardi.

Pasar desa yang rutin digelar setiap sore menjadi salah satu penggerak ekonomi baru. Sementara kawasan wisata menghadirkan arus pengunjung yang menciptakan pasar bagi produk-produk lokal.

Salah satu produk yang sedang didorong pengembangannya adalah Egg Roll Tempe, produk olahan lokal yang saat ini mendapatkan pendampingan dari akademisi dan diharapkan mampu menembus pasar oleh-oleh yang lebih luas.

Digitalisasi Mempermudah Warga dan Pengunjung

Transformasi yang dilakukan BUMDes Mekaring Potorono tidak hanya terlihat dari pengembangan unit usaha dan destinasi wisata, tetapi juga melalui penerapan digitalisasi dalam pengelolaan usaha desa. Saat ini hampir seluruh unit usaha BUMDes telah memanfaatkan media digital untuk promosi.

Selain itu, sistem pembayaran non-tunai melalui QRIS BRI juga telah diterapkan sejak Desa Potorono mengikuti Program Desa BRILiaN. Menurut Sutardi, penggunaan QRIS memberikan manfaat bagi pengunjung maupun pengelola usaha.

“QRIS memudahkan pengunjung dan memudahkan kami melakukan tracking transaksi,” ujarnya.

Penerapan digitalisasi tersebut turut mendukung berkembangnya sektor wisata yang kini menjadi salah satu penggerak ekonomi Desa Potorono. Keberhasilan pengelolaan unit wisata BUMDes terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang datang untuk berolahraga, berekreasi, maupun menikmati kuliner yang tersedia di kawasan wisata.

Nur, warga Brajan, menjadi salah satu pengunjung yang rutin datang ke Telaga Desa Potorono. Ia mengaku menyukai suasana telaga yang bersih, nyaman, dan terawat sehingga cocok digunakan sebagai tempat berolahraga maupun bersantai.

“Paling suka ke sini waktu pagi sama sore buat jogging. Syahdu aja, terus tempatnya bersih dan terawat jadi nyaman. Dan banyak jajanannya juga,” ujarnya.

Sementara itu, Nana (33), ibu satu anak, memilih Umbul Potorono sebagai destinasi rekreasi keluarga. Menurutnya, fasilitas yang tersedia cukup lengkap dengan harga yang terjangkau sehingga cocok untuk anak-anak.

“Anak suka main air di sini. Harganya murah Rp 8 ribu aja, fasilitasnya juga lengkap,” katanya.

Nana juga merasakan kemudahan transaksi digital yang kini tersedia di kawasan wisata tersebut. Saat berkunjung, ia memilih menggunakan QRIS untuk melakukan pembayaran.

“Iya tadi juga saya pakai QRIS. Gampang ya sekarang kalau pakai QRIS,” ujarnya.

Bagi para pengunjung, kehadiran fasilitas wisata yang semakin lengkap, didukung kemudahan transaksi digital, menjadikan kawasan wisata Desa Potorono tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga ruang publik yang nyaman untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Dampak perkembangan kawasan wisata juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil seperti Ika, warga yang kini mengelola AgenBRILink di kawasan Telaga Desa. Perempuan berusia 37 tahun itu sebelumnya berjualan pakaian anak. Namun kondisi ekonomi yang tidak menentu membuatnya mencari peluang usaha baru.

“Kalau jual baju kan momennya tertentu. Kalau BRILink orang setiap hari butuh transaksi,” katanya.

Selama setahun terakhir, layanan AgenBRILink miliknya mulai dikenal masyarakat. Berbagai transaksi seperti tarik tunai, pembayaran listrik, pembelian pulsa, hingga top up dompet digital menjadi layanan yang paling sering digunakan.

Menurut Ika, keberadaan AgenBRILink memudahkan warga yang membutuhkan layanan perbankan tanpa harus pergi jauh ke ATM atau kantor bank.

“Kalau tidak ada uang tunai, sekarang orang bilang ke embung saja karena sudah ada BRILink,” ujarnya sambil tersenyum.

Kehadiran EDC juga membuat layanan yang diberikan semakin profesional dan memudahkan pencatatan transaksi.

Rencana Menjadikan Potorono Sentra Perikanan Desa hingga Kolaborasi dengan KDMP

Tak berhenti pada sektor wisata, BUMDes kini tengah mengembangkan program ketahanan pangan berbasis perikanan. Melalui dukungan dana desa, program tersebut dibangun di empat titik berbeda agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat di berbagai dusun.

Pemilihan sektor perikanan bukan tanpa alasan. Potorono memiliki sumber air yang melimpah sehingga dinilai cocok untuk budidaya ikan air tawar.

"Ke depan kami ingin kalau orang mencari ikan, datangnya ke Potorono,” kata Sutardi.

Saat ini budidaya ikan nila telah berjalan dan memasuki tahap panen. Menariknya, BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih membangun pola kolaborasi agar tidak terjadi tumpang tindih program. BUMDes berperan sebagai sektor hulu melalui produksi ikan, sedangkan koperasi menjadi sektor hilir yang bertugas membantu pemasaran dan distribusi hasil panen.

Desa Layak Diperjuangkan

Bagi Sutardi, seluruh pencapaian yang diraih saat ini merupakan hasil kerja bersama masyarakat desa. Dari lahan ilalang yang terbengkalai hingga menjadi pusat ekonomi yang menghidupi ratusan warga, seluruh proses tersebut lahir dari semangat kolaborasi dan keyakinan bahwa desa memiliki masa depan yang besar.

Karena itu, ia memiliki pesan sederhana bagi desa-desa lain yang ingin berkembang dan mengikuti Desa BRILian.

“Jangan tinggalkan desa. Desa itu layak diperjuangkan. Kalau semua stakeholder mau bersama-sama mengelola potensi yang ada, desa bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kini, perjalanan BUMDes Mekaring Potorono masih terus berlanjut. Dari wisata, UMKM, digitalisasi, hingga ketahanan pangan, desa ini terus membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, perubahan besar justru berawal dari sebuah telaga yang dulu hanya dipenuhi ilalang.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner