Dikepung Banjir 15 Titik, Ini Penyebab Luapan Sungai Cisadea dan Cibareno Sukabumi

1 hour ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Wilayah Sungai (WS) Cisadea-Cibareno di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) dikepung banjir luapan yang merendam sedikitnya 15 titik sekaligus.

Bencana hidrometeorologi yang terjadi sejak Minggu 24 Mei 2026 hingga Senin (25/5/2026) ini dipicu oleh kombinasi fatal antara curah hujan dengan intensitas ekstrem dan tingginya penumpukan sedimen di dasar aliran sungai.

Merespons kondisi darurat tersebut, Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Sumber Daya Air (UPTD PSDA) Wilayah Sungai Cisadea-Cibareno Provinsi Jawa Barat bergerak cepat.

Tim teknis langsung diterjunkan ke lapangan untuk memetakan titik kerusakan sekaligus menyusun strategi mitigasi jangka pendek maupun jangka panjang.

Kepala UPTD PSDA Wilayah Sungai Cisadea–Cibareno, Lusie Musianty, mengungkapkan bahwa menyusutnya kapasitas tampung sungai menjadi faktor paling dominan di balik musibah ini.

Kondisi terparah dipantau terjadi pada aliran Sungai Cipalabuan, yang mencatatkan curah hujan ekstrem hingga mencapai 189,5 milimeter.

"Kemungkinan besar pemicunya adalah pendangkalan sungai. Karakteristik kemiringan Sungai Cipalabuan ini tergolong curam. Sehingga, ketika terjadi hujan deras di wilayah hulu, arus air membawa material sedimen dalam jumlah besar ke area hilir. Akibatnya, sungai sangat cepat terisi sedimen dan mengurangi kapasitas tampung air yang ada," ujar Lusie, Senin (25/5/2026).

Titik-Titik Banjir

Selain Sungai Cipalabuan, luapan air yang tak terbendung juga dilaporkan melanda sejumlah aliran sungai utama lainnya di wilayah tersebut. Titik-titik banjir tercatat tersebar di sepanjang aliran Sungai Cigangsa, Sungai Cikaso, dan Sungai Cimarinjung.

Derasnya guyuran hujan membuat bendung sungai kehilangan kemampuan untuk menahan debit air. Akibatnya, air bah meluncur cepat dan langsung merendam kawasan permukiman penduduk serta sejumlah fasilitas publik.

"Curah hujannya sangat tinggi, mencapai 189,5 milimeter. Dampaknya, air limpas dan merendam rumah warga, area Puskesmas, serta perkantoran di daerah Dermaga," tambah Lusie menjelaskan kondisi di lapangan.

Ironisnya, luapan air ini tetap terjadi meski pihak PSDA sebenarnya telah melakukan berbagai upaya antisipasi sebelumnya.

Volume Air Melonjak Drastis

Langkah mitigasi berupa normalisasi berkala serta peninggian Tanggul Penahan Tanah (TPT) di kawasan Dermaga ternyata belum mampu menampung volume air yang melonjak drastis.

Sebagai langkah tanggap darurat pascabencana, tim UPTD PSDA saat ini sedang menyisir ke-15 lokasi terdampak secara menyeluruh. Proses pendataan ini dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan secara mendetail sebagai dasar penentuan kebijakan teknis selanjutnya.

"Hari ini kami langsung melakukan survei ke lokasi-lokasi banjir tersebut. Kami harus mengidentifikasi secara mendetail apa saja dampak kerusakannya dan di mana titik utama penyebabnya. Ini menjadi dasar kami untuk menentukan tindakan penanganan ke depan," jelas Lusie.

Untuk meminimalisasi risiko serupa di masa mendatang, UPTD PSDA Cisadea–Cibareno telah memasukkan program normalisasi sungai di beberapa titik kritis ke dalam agenda kerja tahun ini.

Proyek ini ditargetkan mampu mengembalikan fungsi hidrolis sungai agar kapasitas tampungnya kembali optimal saat menghadapi puncak cuaca ekstrem.

Di akhir penjelasannya, Lusie menekankan, infrastruktur yang baik tidak akan cukup tanpa adanya sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat.

Ia mengimbau warga untuk aktif menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan sungai agar fungsi tanggul dan saluran air dapat bertahan lama.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner