Dikepung Sesar Aktif yang Kompleks, Ini 6 Fakta Gempa Sulteng M6,7

10 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Gempa Sulteng pada Selasa (16/6/2026), menyisakan duka bagi banyak orang. Data terbaru yang diliris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng, menyebutkan sebanyak 800 unit rumah mengalami kerusakan di Kabupaten Sigi, terdiri atas 720 rumah rusak ringan, 68 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat. 

Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada dua unit kantor, 15 sarana ibadah, satu unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta satu jembatan penghubung Desa Kamora B dan Desa Tongoa.

Andi juga menjelaskan, hasil pendataan sementara menunjukkan dampak kerusakan tersebar di Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, Kota Palu dan Kabupaten Poso.

‎Di Kabupaten Parigi Moutong, tercatat sebanyak 37 unit rumah terdampak. Sementara di Kota Palu, kerusakan meliputi satu unit rumah, satu bangunan usaha, Gedung Auditorium Universitas Tadulako, Gedung Serba Guna Universitas Tadulako, serta sejumlah bagian bangunan pada Hotel Best Western dan Hotel Santika.

‎Adapun di Kabupaten Poso, tiga unit rumah di Desa Tumora mengalami kerusakan dan akses jalan di wilayah Napu dilaporkan ambles akibat guncangan gempa.

Selain menyebabkan kerusakan bangunan, BPBD mencatat 1 orang meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, dan 63 orang lainnya luka ringan.

Korban meninggal dunia berasal dari Desa Ampera, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Selain itu, 2 warga mengalami luka ringan di Kota Palu.

Di Kabupaten Sigi, korban luka ringan terdiri atas 21 orang di Desa Bora, Kecamatan Sigi Kota, 22 orang di Desa Uwenuni, Kecamatan Palolo, 16 orang di Desa Kamarora A, dan 3 orang di Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, serta 1 orang di Desa Sibalaya Barat, Kecamatan Tanambulava.

Sementara korban luka berat masing-masing satu orang di Desa Bora, 2 orang di Desa Uwenuni, 1 orang di Desa Bakubakulu, dan 9 orang di Desa Kamarora B. Di Kabupaten Poso, 1 warga Desa Tumora mengalami luka ringan akibat tertimpa atap rumah.

Gempa merusak yang mengguncang Sulteng kemarin, menjadi alarm tanda bahaya untuk warga dan pemda serta pemangku kepentingan untuk lebih peduli terhadap ancaman sesar aktif di wilayah tersebut. Berikut 6 fakta tentang gempa Sulteng menurut Daryono, pengamat gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI). 

Pertama, gempa Palu kemarin diklasifikasikan sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Gempa ini lazimnya dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Kedalaman hiposenter yang dangkal menyebabkan atenuasi gelombang seismik yang minimal, sehingga konsentrasi pelepasan energi atau guncangan maksimum terkonsentrasi pada wilayah di sekitar episenter, mencakup Kabupaten Palu, Sigi, dan Parigi Moutong.

"Kondisi hiposenter yang dangkal tersebut memicu fenomena near-field effect yang sangat dominan, di mana amplitudo gelombang seismik tidak mengalami peredaman signifikan sebelum mencapai permukaan tanah," katanya.

Hal ini diperparah oleh adanya kontras impedansi akustik yang tajam antara batuan dasar dengan lapisan sedimen lunak pengisi basin, yang memicu fenomena site amplification atau resonansi lokal, sehingga durasi dan intensitas guncangan pada periode tertentu menjadi jauh lebih destruktif bagi bangunan dengan frekuensi alami yang selaras.

Fakta kedua, gempa Palu M6,7 kemarin berlokasi di zona deformasi kompleks. Zona gempa ini dicirikan oleh interaksi berbagai sistem sesar aktif. Berdasarkan pemetaan tektonik, episenter gempa tersebut berada dalam zona pengaruh sistem sesar yang meliputi Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, Segmen Sesar Saluki, serta Lorelindu Fracture Zone.

"Interaksi sistem sesar yang masif ini merefleksikan rezim tektonik transisi yang sangat dinamis, di mana mekanisme strike-slip lateral dari Sesar Palu-Koro mengalami terminasi dan transfer tegangan ke arah timur melalui zona deformasi yang terfragmentasi," ungkpa Daryono.

Fenomena ini, katanya, mengindikasikan bahwa distribusi energi seismik tidak lagi terakomodasi secara linear, melainkan terbagi ke dalam pola stress partitioning yang rumit, sehingga menciptakan mekanisme sesar yang sangat beragam (mulai dari sesar normal hingga oblique) yang mampu memicu ruptur sekunder secara simultan di sepanjang koridor tektonik Palolo-Sausu.

Ketiga, gempa Palu kemarin memiliki mekanisme turun (normal fault). Wilayah Palolo dan Sausu berada dalam zona tarikan (pull-apart) yang dipicu oleh dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan atau pembengkokan pada jalur sesar geser utama menyebabkan kerak bumi di area tersebut mengalami peregangan.

"Akibat peregangan ini, terbentuk sesar-sesar turun yang berfungsi mengompensasi tarikan tersebut. Sesar-sesar turun inilah yang menyebabkan amblesan pada permukaan bumi, sehingga terciptalah cekungan atau basin di zona tersebut yang kemudian terisi oleh sedimen.," katanya.

Interaksi mekanis ini menciptakan zona deformasi transtensial yang kompleks, di mana pelepasan tegangan tidak lagi didominasi oleh pergeseran lateral, melainkan terkonsentrasi pada rezim ekstensional yang memungkinkan terjadinya ruptur seismik dangkal dengan intensitas guncangan yang teramplifikasi secara lokal oleh geometri cekungan.

"Keempat, gempa ini bersifat destruktif," kata Daryono. Seperti yang dilaporkan sebelumnya, hampir seribu rumah rusak di Sulteng akibat guncangan gempa. Tak hanya itu, gempa juga memakan korban 1 orang meninggal dunia.

Kelima, gempa kemarin merupakan bagian dari sejarah gempa signifikan. Sejarah mencatat bahwa gempa berkekuatan M4,5 pernah terjadi di zona ini pada tahun 1983, disusul oleh gempa Palu-Poso berkekuatan M5,9 pada tahun 1995 yang mengakibatkan 26 orang mengalami luka-luka serta kerusakan pada 115 unit rumah di Kabupaten Parigi.

"Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa berkekuatan M4,8 pada tahun 2005. Selain itu, gempa Palu-Poso dengan magnitudo M6,6 yang terjadi pada tahun 2017 menimbulkan dampak berupa 25 korban luka-luka dan kerusakan pada 348 bangunan, yang mencakup 168 rumah tinggal serta sejumlah sarana peribadatan," katanya.

Rangkaian peristiwa tersebut, kata Daryono, mengindikasikan persistensi ancaman kegempaan yang memerlukan pemahaman komprehensif terkait karakteristik tektonik di kawasan ini.

Keenam, memberi kewaspadaan terhadap sesar aktif. Dengan mengingat bahwa wilayah Sulteng memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang sering kali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner