Duduk Perkara Suami Tusuk Istri di Sekolahan

10 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pria berinisial F (29) nekat menusuk istrinya berinisial AY (25). Kejadian ini berlangsung saat korban mengambil rapor anak di SD Negeri Kalipancur 02, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026). Polisi menyebut peristiwa itu dipicu persoalan rumah tangga yang berlangsung lama.

Kasi Humas Polrestabes Semarang Kompol Riki Fahmi Mubarok mengatakan, korban dan pelaku diketahui sedang menghadapi konflik keluarga sebelum kejadian berlangsung.

"Korban dan pelaku memiliki permasalahan keluarga. Korban diketahui telah mengajukan gugatan cerai dan keduanya sudah cukup lama tidak bertemu," kata Riki.

Peristiwa terjadi sekira pukul 08.15 WIB saat korban datang ke sekolah untuk mengambil rapor anaknya. Saat berada di lokasi, korban bertemu dengan pelaku yang kemudian diduga langsung melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam.

Akibat serangan tersebut, korban terjatuh dan warga yang berada di sekitar lokasi segera meminta pertolongan serta menghubungi kepolisian.

"Korban terjatuh dan warga berteriak dan meminta tolong dengan menghubungi kepolisian terdekat,” ujar Riki.

Korban mengalami sejumlah luka tusuk dan segera dilarikan ke Rumah Sakit William Booth Semarang, untuk mendapatkan penanganan medis.

"Korban mengalami luka di beberapa bagian tubuh dan saat ini masih menjalani perawatan. Pelaku sudah diamankan oleh Polsek Ngaliyan untuk proses hukum lebih lanjut," jelasnya.

Polisi menyatakan pelaku akan diproses menggunakan ketentuan dalam Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Polsek Ngaliyan, Aipda Farid Nur Umam, menyebut berdasarkan informasi di lapangan, korban sempat berusaha menyelamatkan diri usai serangan awal terjadi di depan ruang kelas.

Namun, pelaku diduga terus mengejar korban hingga kembali melakukan penyerangan di area halaman sekolah.

Farid mengatakan korban mengalami sekitar 10 luka tusuk dan harus menjalani penanganan medis intensif dengan lebih dari belasan jahitan.

Di luar proses hukum, kepolisian juga menaruh perhatian terhadap dampak psikologis yang muncul akibat peristiwa tersebut karena terjadi di lingkungan pendidikan dan disaksikan banyak pihak.

“Yang menjadi perhatian kami sekarang dampak psikologis terhadap anak-anak dan guru yang menyaksikan kejadian tersebut,” kata Farid.

Menurutnya, anak korban diduga berada di lokasi saat kejadian dan kemungkinan turut menyaksikan aksi kekerasan tersebut. Sejumlah siswa dan guru yang sedang mengikuti kegiatan pembagian rapor juga melihat insiden tersebut dari jarak dekat.

“Guru-guru banyak yang menangis setelah kejadian. Anak-anak juga terlihat syok. Ini yang sangat kami sesalkan karena peristiwa terjadi di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak,” ungkapnya.

Polsek Ngaliyan berencana berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang untuk memberikan layanan pendampingan dan konseling trauma kepada pihak yang terdampak.

“Kami akan berkoordinasi dengan DP3A agar pendampingan bisa segera dilakukan. Tidak hanya untuk korban dan keluarganya, tetapi juga guru, siswa, serta orang tua yang menyaksikan kejadian tersebut,” pungkasnya.

Reporter: Merdeka.com/Danny Adriadhi Utama

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner