Hadiah Istimewa Pemerintah Arab Saudi untuk Jemaah Haji Tunanetra Asal Sulsel

10 hours ago 8

Kisah Saifuddin memang penuh perjuangan. Ia mulai kehilangan penglihatan sejak duduk di bangku SMP. Awalnya matanya terasa sakit seperti tertusuk jarum dan mengalami pembengkakan. Seiring waktu, penglihatannya perlahan menghilang.

Saifuddin sempat menjalani pengobatan ke dokter mata di Makassar pada tahun 1985. Namun upaya tersebut belum mampu mengembalikan penglihatannya.

”Awalnya mata terasa sakit seperti tertusuk jarum. Bengkak. Tahun 85 tidak langsung kabur penglihatan. Waktu itu berobat ke dokter mata di Makassar,” tuturnya.

Meski kehilangan penglihatan di usia muda, Saifuddin tidak menyerah menjalani hidup. Ia tetap aktif di lingkungan masyarakat dan dipercaya menjadi imam masjid di kampung halamannya di Sinjai. Dengan mengandalkan hafalan, ia tetap berjalan sendiri menuju masjid dan memimpin salat berjamaah.

”Saya imam masjid di kampung. Saya bisa hafal jalan ke masjid saat masih bisa melihat dulu,” katanya saat ditemui di Asrama Haji Sudiang, Makassar beberapa waktu lalu.

Di balik kesehariannya sebagai imam masjid, Saifuddin menyimpan impian besar untuk menunaikan ibadah haji. Keinginan itu diperjuangkannya dengan cara sederhana, yakni menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya dari berjualan bahan campuran dan honor sebagai imam masjid yang nilainya sekitar Rp200 ribu.

Selama lebih dari 20 tahun, uang hasil kerja keras itu dikumpulkannya hingga akhirnya ia bisa mendaftar haji pada tahun 2014. Penantian panjang tersebut baru terjawab tahun ini saat namanya masuk daftar jemaah yang diberangkatkan ke Tanah Suci.

"20 tahun lebih menabung. Jualan bahan campuran. Honor dari imam masjid Rp200 ribu," ujarnya.

Meski sudah tidak dapat melihat, Saifuddin tetap berusaha mandiri selama perjalanan hajinya. Ia memang didampingi keluarga, namun masih mampu berjalan sendiri saat menjalankan aktivitas ibadah.

"Alhamdulillah ada keluarga, tapi saya masih kuat jalan," akunya.

Kisah hidup Saifuddin kini tidak hanya menjadi inspirasi bagi warga di kampung halamannya, tetapi juga menyentuh perhatian dunia internasional. Keteguhan seorang imam masjid tunanetra yang menabung puluhan tahun demi memenuhi panggilan Baitullah itu akhirnya mendapat penghormatan istimewa di Tanah Suci.

"Doanya berharap mata sembuh. Sudah pernah berobat. Tapi Alhamdulillah masih diberi kesempatan datang ke Tanah Suci," tuturnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner