Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua hobi masa kecil berakhir menjadi jalan hidup. Namun bagi Modesta Nur Santi, kecintaan terhadap dunia lukis justru menjadi pintu yang membawanya menemukan peluang usaha yang kini dikenal banyak orang.
Perempuan berusia 57 tahun asal Ngampilan, Kota Yogyakarta itu tidak pernah membayangkan bahwa kegemarannya memainkan warna dan menciptakan motif di atas kanvas akan bermuara pada lembaran kain yang dihiasi jejak daun-daun alami. Dari tangan kreatifnya lahir berbagai produk ecoprint yang memiliki nilai seni dan juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Usaha yang diberi nama Modest Art Jogja tersebut kini menghasilkan berbagai produk mulai dari pashmina, tunik, blouse, outer, tas hingga aksesori lainnya. Produk-produknya bahkan telah dibawa ke berbagai pameran dan menarik perhatian pembeli dari berbagai daerah hingga wisatawan mancanegara.
Namun di balik pencapaian yang sukses itu, tersimpan kisah perjalanan panjang yang dimulai dari kecintaan sederhana terhadap seni yang tumbuh sejak masa kanak-kanak. Jatuh bangunnya mendirikan usaha, lantas membuahkan hasil melalui inovasi berbagai produk yang ia kerjakan.
Tumbuh di Tengah Keluarga Pecinta Seni
Ketika Liputan6 mendatanginya di galeri Modest Art Jogja, Senin (25/5) lalu, perempuan yang karib disapa Santi itu menyebut jika dunia seni sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak masih kecil. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan kesenian dan budaya Jawa kental. Sang ibu dulunya merupakan pembatik halus, sekaligus penari di lingkungan Keraton Yogyakarta, sementara ayahnya kerap membantu proses membatik ketika tidak bertugas sebagai anggota kepolisian.
Lingkungan keluarga yang sarat dengan nilai seni tersebut membuat Santi terbiasa melihat proses menciptakan karya sejak usia dini. Rumahnya menjadi tempat kreativitas tumbuh, mulai dari melihat proses membatik hingga mengenal berbagai bentuk ekspresi seni lainnya.
Pengaruh terbesar datang dari Almarhum sang kakak yang merupakan pelukis, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dari sosok itulah Santi mulai belajar melukis dan menemukan rasa percaya diri untuk mengikuti berbagai perlombaan seni saat masih duduk di bangku sekolah.
Berbagai penghargaan kemudian berhasil diraih. Ia pernah memperoleh apresiasi dalam ajang tingkat nasional hingga internasional. Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa seni merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidupnya.
"Dulu Almarhum kakak saya yang mengajari saya melukis, sampai saya pede ikut lomba, lalu kemudian sering juara dan dapat medali juga penghargaan lain-lain. Waktu itu SD sampai SMP lah kira-kira itu," ujar Santi.
Penyesalan yang Menjadi Titik Awal
Meski tumbuh di lingkungan yang dekat dengan batik, Santi mengaku sempat tidak tertarik mendalami keterampilan yang dimiliki ibunya. Saat masih muda, ia justru lebih banyak menyalurkan kreativitas melalui lukisan di atas kanvas maupun kain menggunakan cat tekstil.
Seiring bertambahnya usia, pandangannya berubah. Ia mulai menyadari bahwa keterampilan membatik yang dimiliki sang ibu merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Sayangnya, kesadaran itu datang ketika kesempatan untuk belajar secara langsung tidak lagi bisa didapatkan.
Perasaan menyesal tersebut sempat membekas dalam dirinya. Namun alih-alih terus larut dalam penyesalan, dirinya justru memilih mencari cara lain untuk tetap mengekspresikan kecintaannya terhadap seni sekaligus menghadirkan sentuhan budaya dalam karya yang diciptakannya.
Pencarian itulah yang akhirnya mempertemukannya dengan dunia ecoprint, yang memanfaatkan bahan-bahan alami untuk menghasilkan motif unik pada kain.
"Saya sebenarnya merasa gelo (menyesal), kok dulu nggak belajar batik. Padahal ibu itu pakarnya batik halus dan hasilnya itu bagus," sesalnya.
Menuangkan Kreativitas Lukis di Ecoprint
Tahun 2018 menjadi momen penting dalam perjalanan hidup Santi. Saat itu ia mengikuti pelatihan ecoprint yang diselenggarakan Dinas Perindustrian Kota Yogyakarta, bersama sejumlah perempuan lainnya di wilayah Ngampilan.
Pelatihan tersebut memperkenalkannya pada teknik pewarnaan daun, bunga, dan berbagai unsur alam sebagai motif pada kain. Bagi sebagian peserta, kegiatan itu mungkin hanya pelatihan biasa. Namun bagi Santi, pengalaman tersebut terasa seperti menemukan kembali dunia yang selama ini dicarinya.
Ia melihat kesamaan antara melukis dan ecoprint. Keduanya membutuhkan kreativitas, kepekaan terhadap warna, serta kemampuan menghadirkan keindahan melalui proses yang penuh kesabaran. Bedanya, kali ini alam menjadi bagian langsung dari karya yang dihasilkan.
Ketertarikan itu membuatnya terus belajar, sehingga setelah pelatihan selesai, ia mulai bereksperimen dengan berbagai jenis daun dan kain untuk menghasilkan motif yang khas. Hasilnya kemudian berkembang menjadi berbagai produk fashion yang memiliki identitas tersendiri.
"Kalau saya sendiri, sejak kecil memang memiliki hobi melukis, makanya mengenal ecoprint ini sangat senang dan cocok juga. Karena saya bisa eksplore warna, eksplore motif-motif juga di atas kain yang indah," ujarnya.
Dari Pelatihan Menjadi Produk yang Dicari Pasar
Berbekal ilmu ecoprint dan pengalaman di bidang desain, Santi mulai mengembangkan karya-karyanya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Ia lantas mulai mengenalkan produk kain bermotif ecoprint buatannya, termasuk mengolahnya menjadi berbagai produk fesyen yang lebih dekat dengan kebutuhan pasar.
Koleksi yang dihasilkan semakin beragam, mulai dari pashmina, blouse, tunik, outer, tas, topi hingga berbagai aksesori seperti gelas dan tumblr air minum. Menariknya, Santi turut mengombinasikan ecoprint dengan unsur wastra seperti batik dan lurik sehingga produk yang dihasilkan tetap memiliki sentuhan budaya Indonesia.
Perlahan tetapi pasti, karya-karyanya mulai mendapat tempat di hati konsumen. Kesempatan mengikuti berbagai pameran dan fashion show membuka jalan yang lebih luas bagi usahanya. Bahkan sejumlah karyanya pernah tampil dalam ajang fashion dan masuk ke publikasi majalah mode. Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterampilan yang diasah dengan tekun dapat berkembang menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
"Setelah pelatihan, saya langsung membuat karya, karena sebelumnya juga sudah belajar desain, saya mencoba membuat kain ecoprint menjadi busana. Setelah itu saya banyak ikut pameran seperti Jogja Fashion Week selama 2 kali, Jogja Fashion Parade juga Solo Fashion Runaway sebanyak 2 kali di 2023, " tutur Santi.
Kenalkan Ecoprint ke Ibu-Ibu dan Siswa Sekolah
Selain menjalankan usaha, Santi pun dikenal sebagai salah satu pengajar ecoprint di Yogyakarta. Ia membagi ilmunya ke berbagai kalangan, seperti komunitas perempuan, ibu-ibu rumah tangga sampai siswa sekolah.
Menurutnya, mengajar menjadi pembuka jalan baginya untuk mengedukasi tentang teknik pewarnaan ecoprint. Selain itu, cara ini juga membantunya memberdayakan para perempuan sehingga bisa lebih produktif.
Sudah banyak muridnya yang berhasil mendapatkan ilmu tentang teknik pewarnaan ecoprint. Proses pembelajaran biasa ia lakukan di galerinya.
“Sering juga ada yang belajar, seperti dari Darma Wanita, Jasa Raharja, terus ada SMA Budi Utama juga. Intinya awalnya hanya rajin-rajin posting produk, pameran dan pas ngisi pelatihan sih, jadi dari sana banyak dipanggil juga untuk mengajarkan,” kata Santi.
Bertahan di Tengah Persaingan hingga Mampu Menjangkau Konsumen Mancanegara
Perjalanan usaha memang tidak selalu berjalan mulus. Seiring berkembangnya tren ecoprint, jumlah pelaku usaha di bidang yang sama juga semakin banyak. Kondisi tersebut membuat persaingan menjadi lebih ketat dan menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi.
Di sisi lain, perubahan kondisi ekonomi membuat daya beli masyarakat tidak selalu stabil. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Santi untuk mempertahankan usahanya agar tetap berjalan.
Namun ia memilih tidak menyerah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Konsistensinya membagikan karya melalui Instagram ternyata membuahkan hasil yang tidak sedikit.
Melalui platform tersebut, produk-produknya mulai dikenal konsumen dari berbagai daerah bahkan wisatawan asing yang datang ke Yogyakarta. Pembeli dari Amerika Serikat hingga Prancis pernah datang setelah melihat karya-karyanya di media sosial.
"Karena saya rajin posting di Instagram, akhirnya konsumen dari luar daerah dan turis mancanegara datang ke sini dan membeli produk saya. Jadi mereka itu nginap di Prawirotaman, terus tahu dari temannya, lihat di media sosial akhirnya mampir ke galeri sini," ujarnya.
BRI Mendukung Langkah Modest Art Jogja Agar Terus Bertumbuh
Di tengah perjalanan mengembangkan usaha, kebutuhan modal menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Santi. Kesempatan mengikuti pameran berskala besar membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara usaha harus tetap berjalan tanpa mengganggu kebutuhan rumah tangga.
Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, ia mendapatkan dukungan permodalan yang membantunya memperluas langkah. Modal tersebut digunakan untuk mengikuti pameran, membeli bahan baku hingga meningkatkan kapasitas produksi.
Menurut Santi, keberadaan KUR membuat perputaran usaha tetap terjaga. Ia tidak perlu menggunakan anggaran kebutuhan sehari-hari untuk menopang usaha karena sudah memiliki sumber permodalan yang lebih terencana. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Modest Art Jogja mampu bertahan dan terus berkembang hingga saat ini.
"Saya sudah dua kali ikut KUR BRI. Awalnya buat modal ikut pameran di Inacraft Jakarta, dan kedua untuk modal usaha. Pertama saya pinjam Rp15 Juta dan kedua Rp30 Juta. Menurut saya, KUR sangat membantu usaha ini terus berjalan. Jadi tetap ada modal dan tidak mengganggu keuangan yang saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Perputaran usaha juga bisa terus berjalan," kata Santi.
Santi turut berharap agar bisnis yang dirintisnya ini bisa terus berjalan dan mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang. Ia ingin terus berinovasi, sekaligus mengenalkan produk Ecoprint yang indah dan ramah lingkungan.

9 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8081688/original/006856400_1780927950-IMG-20260608-WA0051.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8078272/original/086814400_1780924039-gamelan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8075634/original/021802400_1780921108-IMG_7557.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8071813/original/071239000_1780916988-355123.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080103/original/047492500_1736158590-20250106-Dapur_MBG-MER_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8066303/original/049490300_1780910940-1001340088.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8064710/original/039868400_1780909336-Calon_pengantin_diduga_menjadi_korban_penipuan_WO.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8064049/original/088005900_1780908650-1000427925.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8062735/original/071141000_1780907069-IMG-20260607-WA0004.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8060749/original/048772100_1780904897-1000835381.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7836138/original/024120000_1780656855-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8058093/original/052024600_1780901965-1001334881.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8038190/original/079747100_1780880372-Jepretan_Layar_2026-06-05_pukul_07.58.19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8039324/original/088107600_1780881594-WhatsApp_Image_2026-06-08_at_08.14.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7988766/original/000874100_1780826527-Bule_Rusia_ditangkap_saat_selundupkan_narkoba_ke_Bali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8003916/original/067474600_1780843010-Pengusaha_di_Sukabumi_rugi_karena_proyek_SPPG_mandek.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7991239/original/027718000_1780829112-25._BYD_Tech_Culture_Fest_Medan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7980079/original/096261700_1780817084-WhatsApp_Image_2026-06-07_at_13.27.52__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7973817/original/064778100_1780810584-851c2549-dee4-44b6-baa4-effd22f2f146.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5189923/original/005208500_1744810715-673_x_373_rev__8_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5046528/original/067015500_1733919669-20241211-Ojek_Pangkalan-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498617/original/080547900_1770712309-Polisi_bongkar_gudang_miras_di_Makassar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5197520/original/095088500_1745476635-IMG-20250424-WA0038.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511854/original/021153700_1771918936-mbg8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498961/original/042561400_1770731612-Rieke_di_acara_RTD_Samarinda.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515159/original/013988600_1772163544-Penemuan_potongan_tubuh_di_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513879/original/091814800_1772074967-Potongan_video_WN_Ukraina_diduga_diculik_di_Bali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4009429/original/017937800_1651117586-20220428-Mudik-Gratis-Kementerian-Perhubungan-Dirjen-Perhubungan-Darat-fanani-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513754/original/079309000_1772064124-John_Tobing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500263/original/046163100_1770852465-keracunan_mbg_penajam_paser.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4002342/original/071823600_1650541238-20220421_173113.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501191/original/029485900_1770889140-Kapolres_Bima_Kota_AKBP_Didik_Putra_Kuncoro.webp)