Jejak UMKM Yogyakarta di BRI UMKM EXPO(RT), dari Rumah Menuju Pasar Global

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Bagi banyak pelaku usaha, menembus pasar ekspor sering kali terasa seperti perjalanan panjang yang penuh tantangan. Selain dituntut menghadirkan produk berkualitas dan berdaya saing, UMKM juga perlu memahami tren pasar global, memenuhi berbagai standar internasional, hingga membuka akses pertemuan dengan calon pembeli dari berbagai negara. Tidak sedikit pelaku usaha yang memiliki produk unggulan, namun masih kesulitan menemukan pintu masuk ke pasar ekspor.

Menjawab kebutuhan tersebut, BRI menghadirkan program BRI UMKM EXPO(RT) sebagai wadah yang mempertemukan UMKM Indonesia dengan peluang pasar yang lebih luas. Melalui ajang ini, para pelaku usaha tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk memamerkan produknya di hadapan buyer internasional, tetapi juga memperoleh pengalaman, jejaring bisnis, serta wawasan yang dapat mendukung pengembangan usaha ke level berikutnya.

Sejumlah UMKM peserta pun merasakan manfaat nyata setelah mengikuti BRI UMKM EXPO(RT). Tidak hanya berhasil memperluas pasar dan menjalin kerja sama bisnis dengan mitra dari luar negeri, mereka juga mendapatkan peningkatan kapasitas usaha, eksposur yang lebih luas, serta kepercayaan diri untuk bersaing di pasar global. Berikut kisah inspiratif para UMKM setelah mengikuti BRI UMKM EXPO(RT).

BRI UMKM EXPO(RT) sebagai Pintu Naik Kelas bagi Yoga Djaya

Santi Wijaya, perempuan asal Yogyakarta, merintis usaha minuman rempah Yoga Djaya dari rumah di kawasan Suryoputran, Kecamatan Kraton. Berawal dari resep keluarga yang digunakan untuk menjaga kesehatan, ia mengolah kekayaan rempah Nusantara menjadi 12 varian produk minuman herbal.

Usahanya kian berkembang setelah Santi bergabung dengan Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBy) dan mendapat kesempatan mengikuti BRI UMKM EXPO(RT) pada 2022 dan 2023. Dari ribuan pendaftar, hanya ratusan UMKM terpilih yang berkesempatan mengikuti ajang business matching dan pameran berskala internasional tersebut.

Bagi Santi, pengalaman mengikuti BRI UMKM EXPO(RT) memberikan banyak pelajaran berharga tentang pasar ekspor dan kebutuhan buyer.

“Saya lolos Brilianpreneur dua kali, 2022 dan 2023. Dari situ saya banyak belajar. Kadang kita mikir produknya harus yang wah, padahal ternyata yang diminati buyer justru produk sederhana seperti brambang goreng,” ujarnya.

Keikutsertaan dalam ajang tersebut juga memberikan dampak nyata bagi usahanya. Produk rempah Yoga Djaya yang dipamerkan ludes terjual bahkan sebelum acara berakhir. Tingginya antusiasme pengunjung membuat Santi harus mendatangkan stok tambahan dari Yogyakarta ke lokasi pameran.

“Dulu di sana habis semua, sold out,” kenangnya. “Pokoknya gimana caranya biar nggak bawa pulang. Bahkan dulu pernah dikirim lagi dari Jogja karena hari kedua udah habis.”

Di balik pencapaian itu, Santi juga belajar membangun kepercayaan diri untuk memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan dan buyer yang sebelumnya tidak dikenalnya.

“Challenge untuk saya juga, untuk bisa menarik orang yang nggak saya kenal. Saya menantang diri saya sendiri untuk itu,” katanya.

Momen membanggakan lainnya terjadi ketika booth Yoga Djaya dikunjungi oleh Asha Smara Darra dan ibunda Reggy Lawalata saat BRI UMKM EXPO(RT) 2023. 

Yoga Djaya Menjangkau Pasar Internasional

Saat ini Yoga Djaya memasarkan berbagai minuman rempah dengan harga mulai Rp20.000 hingga Rp35.000 per kemasan. Untuk kemasan premium, tersedia varian seperti Bir Plethok, Bir Mataram, dan Wedang Uwuh yang dilengkapi informasi sejarah minuman rempah dalam bahasa Indonesia dan Inggris, serta dibuat tanpa pengawet maupun pewarna tambahan.

Di antara berbagai produk yang ditawarkan, Wedang Uwuh, Jahe Merah, dan Bir Mataram menjadi beberapa produk yang paling diminati konsumen. Pelanggannya pun tidak hanya berasal dari dalam negeri. Menurut Santi, banyak wisatawan mancanegara yang membeli produknya secara langsung untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Beberapa waktu lalu, produknya sampai ke Belgia.

Selain mengembangkan usaha, Santi juga aktif memperkenalkan kekayaan rempah Nusantara melalui Kelas Rempah Yoga Djaya. Program yang telah memasuki Batch 3 pada 20 Juni 2026 tersebut mengajak peserta belajar langsung dari praktisi dan akademisi herbal, mengenal tanaman obat di alam terbuka, berbagi pengalaman, serta membangun jejaring dengan sesama pecinta kesehatan alami.

Ia juga rutin menggelar workshop dan pelatihan pengolahan rempah bagi masyarakat maupun pelaku UMKM. Melalui berbagai kegiatan tersebut, Santi berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal manfaat rempah Indonesia sekaligus melihat potensinya sebagai produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.

BRI UMKM EXPO(RT) sebagai Jembatan ke Pasar Global bagi Agustinus Budi Pottery

Jika Santi Wijaya menemukan usahanya dari tradisi keluarga, maka Agustinus Budi menempuh perjalanan yang sangat berbeda.

Setelah 8 tahun berkarier sebagai senior engineer di industri pabrik, ia memutuskan meninggalkan zona nyaman dan beralih ke dunia keramik yang sama sekali baru. Pada 2021, ia memulai Agustinus Budi Pottery (AB Pottery) dari nol tanpa latar belakang seni maupun pengalaman bisnis.

Di tengah perjalanan bisnisnya, pada 2022 ketika ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI Yogyakarta.  Kesempatan tersebut kemudian membawanya terlibat dalam berbagai program BRI, termasuk BRILIANPRENEUR 2023 dan BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di ICE BSD City.

Bagi Agus, dukungan BRI tidak hanya hadir dalam bentuk kesempatan pameran, tetapi juga pendampingan dan pembekalan sebelum acara berlangsung. Ia juga menegaskan bahwa seluruh proses tersebut difasilitasi tanpa biaya tambahan

“Sebelum pameran, juga ada pembekalan-pembekalan, pinjaman modal, dan lain-lain. Semua disupport BRI. Bahkan kami tidak perlu keluar biaya untuk ikut pameran.”

Pengalaman di BRI UMKM EXPO(RT) menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak pelaku UMKM lain. Dari sana, ia mendapatkan inspirasi sekaligus semangat untuk terus berkembang.

“Salah satu hal yang paling berharga itu ketika kenal UMKM lain, dengerin cerita mereka, tantangan yang dihadapi, dan gimana mereka bisa bangkit lagi. Rasanya jadi enggak sendirian,” tuturnya.

Agustinus Budi Pottery Tumbuh ke Pasar Global

Agustinus Budi Pottery yang berada di Wedomartani, Sleman di memproduksi berbagai karya keramik, mulai dari tableware seperti piring, mangkuk, dan gelas, hingga produk dekoratif seperti vas dan tempat dupa. Seluruh produk dibuat secara handmade, menghadirkan karakter unik dan sentuhan personal pada setiap karya.

Produk AB Pottery tidak hanya digunakan di rumah, tetapi juga banyak dipakai oleh restoran dan kafe yang mengutamakan estetika dalam penyajian. Jangkauan pasarnya meluas hingga ke mancanegara seperti Arab Saudi, Singapura, dan Thailand.

Pada 2025, AB Pottery telah menghasilkan lebih dari 2.500 produk serta menjalin tujuh kolaborasi dengan berbagai brand dan ruang kreatif seperti Fur Elise, Kalis, My Gelato, hingga Pasar Mustokoweni. Selain itu, Agus juga aktif membuka kelas di studionya serta mengadakan workshop.

BRI UMKM EXPO(RT) sebagai Ruang Kolaborasi bagi Bambu Tresno

Sementara itu, dari sebuah desa di Muntuk, Bantul, Yogyakarta, Bambu Tresno menjadi salah satu UMKM yang ikut tampil di ajang BRI UMKM EXPO(RT). Bersama sang suami, Riyanto, Margareta Ade Oktarina Wardani membawa produk anyaman bambu dari produksi rumahan di desa menuju panggung bergengsi. 

Bagi mereka, kesempatan ini tidak hanya sekedar pameran, tetapi juga melihat sejauh mana produk desa dapat diterima di pasar yang lebih luas. Pada acara BRI UMKM EXPO(RT) ini wanita yang akrab disapa Ade ini bisa memperbanyak networking dan membuka akses pasar baru.

“Pameran penting banget, karena selain bisa jualan, kami juga bisa ketemu banyak pelaku usaha lain. Dari situ bisa tukar pengalaman dan buka peluang kolaborasi,” ujar Ade.

Melalui keterlibatan dalam BRIncubator batch pertama dan kemudian BRI UMKM EXPO(RT) pada 2023 dan 2025, Bambu Tresno mendapatkan akses pada pelatihan bisnis, branding, hingga pemahaman tentang standar produk yang lebih luas. Dari sana, Ade belajar bagaimana produk desa dapat naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas. 

Memperjuangkan Upah Layak Perajin Desa

Perjalanan Bambu Tresno berawal sejak pandemi Covid-19, Ade yang merupakan mantan pegawai bank memilih pensiun dini dan mulai merintis usaha anyaman bambu dengan modal sekitar Rp100 ribu. Dari rumah, ia bersama suaminya mengembangkan produk hampers dan home decor berbahan bambu yang memanfaatkan keterampilan pengrajin desa.

“Bambu Tresno itu nggak sekadar jualan, tapi juga mengusahakan upah pengrajin yang layak,” ujarnya tegas.

Di balik pertumbuhan usahanya, Bambu Tresno tidak hanya sebagai bisnis, tetapi juga sebagai pemberdayaan. Nama “Tresno” yang berarti cinta menjadi filosofi yang terus dijaga untuk desa dimana tempat anyaman bambu itu lahir.

Bagi Ade, usaha ini juga menjadi bentuk ikhtiar untuk memperjuangkan kesejahteraan para pengrajin bambu di desa Muntuk. Ia mengaku kerap merasa miris melihat kondisi upah pengrajin yang tidak sebanding dengan nilai produk yang dihasilkan.

Produk kerajinan yang dijual dengan harga tinggi di kota-kota besar sering kali tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan bagi pengrajin di tingkat desa. Kondisi inilah yang menurutnya perlu dibenahi.

“Mereka punya modal, main rendah-rendahan harga, yang kena ya pengrajinnya,” ujar Ade dengan nada getir.

Melalui Bambu Tresno, ia berupaya menghadirkan sistem yang lebih adil dengan memastikan nilai kerja pengrajin benar-benar dihargai. Setiap produk yang dihasilkan diharapkan tidak hanya menjadi barang jualan, tetapi juga mencerminkan kerja keras dan kesejahteraan orang-orang yang ada di balik proses pembuatannya.

Kini usaha Bambu Tresno perlahan mencatat omzet hingga sekitar Rp200 juta dalam setahun di 2025. Baru-baru ini,  Bambu Tresno menerima pesanan sekitar 5.000 unit produk ke Kalimantan, yang dikirim menggunakan truk milik sendiri demi memastikan kualitas barang tetap terjaga selama perjalanan.

BRI UMKM EXPO(RT) sebagai Gerbang UMKM Indonesia Menuju Pasar Global

Sejak pertama kali digelar pada 2019, BRI UMKM EXPO(RT) menjadi salah satu ajang strategis yang dirancang untuk membantu UMKM Indonesia menembus pasar global. Tidak hanya berfungsi sebagai pameran, ajang ini juga menjadi ruang kurasi produk dan business matching yang mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli, termasuk buyer dari berbagai negara.

Untuk dapat mengikuti BRI UMKM EXPO(RT), UMKM harus melalui proses kurasi yang ketat. Produk yang terpilih merupakan hasil seleksi berdasarkan kualitas, daya saing, serta potensi pasar. Selain itu, peserta juga dibekali persiapan agar siap berinteraksi dengan buyer dalam skala internasional.

“Bazar itu harapannya bisa mendatangkan buyer-buyer dari luar negeri. Mereka yang bisa pameran adalah hasil dari proses kurasi,” ujar Fiera Dwi Hapsari, Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta.

Melalui ajang ini, UMKM tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk memamerkan produk, tetapi juga membuka peluang kerja sama langsung dengan buyer internasional melalui sesi business matching. Kehadiran buyer luar negeri menjadi salah satu pintu masuk penting bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk di level global.

“Kita bantu business matching lewat BRI UMKM EXPO(RT), jadi UMKM bisa bertemu buyer-buyer potensial. Di acara ini BRI mendatangkan buyer luar negeri, sehingga UMKM berpeluang mendapatkan klien dari luar negeri dan memperluas pemasaran produknya,” jelas Fiera.

Dengan konsep tersebut, BRI UMKM EXPO(RT) menjadi jembatan penting bagi UMKM Indonesia untuk naik kelas, dari pasar lokal menuju pasar internasional yang lebih kompetitif.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner