Menakar Bahaya Gempa Dangkal di Jalur Sesar Aktif Sulteng

14 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Satu orang dikabarkan meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang Palu Magnitudo 6,7 pada Selasa (16/6/2026). Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan laporan satu orang yang meninggal dunia ada di wilayah Kabupaten Sigi.

Selain adanya korban meninggal dunia, proses pendataan juga menunjukkan peningkatan jumlah warga terdampak dan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah.

Hingga saat ini tercatat sekira 312 jiwa atau 110 Kepala Keluarga (KK) di Sulteng yang terdampak gempa.

Daryono, Pengamat Gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengatakan, gempa Palu kemarin menyingkap kerentanan geologis yang mendalam di wilayah tersebut.

"Sebagai gempa kerak dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tidak hanya bersumber dari jalur sesar utama Palu-Koro, melainkan juga dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya," kata Daryono.

Daryono menjelaskan, secara tektonik, kawasan Palolo dan Sausu merupakan zona tarikan atau pull-apart yang terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan pada jalur sesar geser utama menciptakan peregangan kerak bumi yang melahirkan sesar-sesar turun, yang kemudian membentuk cekungan atau basin yang kini terisi oleh endapan sedimen.

"Inilah yang menjadi kunci mengapa guncangan gempa ini menjadi sangat destruktif," ungkapnya.

Endapan sedimen yang lunak di wilayah cekungan cenderung mengamplifikasi atau memperkuat gelombang seismik, menyebabkan bangunan di atasnya menerima guncangan jauh lebih kuat dibandingkan area dengan batuan dasar yang keras.

Kerusakan infrastruktur yang massif, mulai dari ratusan rumah di Kabupaten Sigi yang menanggung dampak terberat, hingga terputusnya ruas jalan vital Palu–Sigi–Poso, menjadi bukti nyata bahwa kerentanan fisik kita masih sangat tinggi.

"Mayoritas bangunan yang terdampak adalah struktur non-rekayasa yang belum memenuhi standar ketahanan gempa," kata Daryono.

Amblasnya jalur logistik utama juga menggarisbawahi urgensi pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan perlunya jalur evakuasi alternatif yang tidak bergantung pada satu akses saja.

Jika menilik kembali catatan sejarah gempa, mulai dari 1983, 1995, 2005, hingga 2017, wilayah ini memang menunjukkan persistensi aktivitas seismik yang tinggi. Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa kita hidup di atas kawasan yang sangat dinamis.

Trauma kolektif masyarakat pasca-peristiwa besar di masa lalu membuat setiap guncangan hari ini memicu kepanikan yang perlu dikelola dengan edukasi yang tepat, agar warga mampu membedakan antara guncangan yang bersifat destruktif dan yang tidak.

"Pelajaran dari gempa ini sangat jelas, yakni perlunya pergeseran paradigma mitigasi. Kita tidak bisa lagi hanya fokus pada jalur sesar utama yang telah dikenal, namun harus segera mengakselerasi pemetaan mikrozonasi seismik hingga ke tingkat yang lebih detail," kata Daryono.

Dirinya juga mengingatkan pemda menjadikan data kerawanan ini sebagai acuan utama dalam penataan ruang, termasuk membatasi pembangunan di atas zona sesar aktif. Mengingat kompleksitas ini, kesiapsiagaan bukan lagi sebuah opsi, melainkan sebuah kebutuhan mutlak bagi kelangsungan hidup di zona seismik aktif seperti Sulawesi Tengah.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner