Merantau dari Kuningan, Asep Tekuni Usaha Gorengan di Jogja dengan Omzet Rp500 Ribu Sehari

14 hours ago 5

Liputan6.com, Yogyakarta - Berjualan di kawasan kampus memang memiliki peluang yang menjanjikan, terlebih jika harga jajanan yang ditawarkan ramah di kantong mahasiswa. Hal itulah yang dijalani Asep (42) melalui usaha gorengannya yang berada di belakang kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ditemui Liputan6 pada (16/5/2026) saat tengah menggoreng tempe dan beberapa jenis gorengan lain yang mulai habis, Asep mengungkapkan bahwa ia berjualan sejak pagi hingga malam hari, sekitar pukul 19.00 WIB.

"Kadang jam 7 (malam), kadang setengah 8 (malam). Kadang sampai jam 5 (sore), paling maghrib, mbak. Kadang juga sampai malam jam Isya lah paling," kata Asep.

Masih sibuk menggoreng gorengan lainnya, Asep lanjut bercerita. Untuk kebutuhan sayuran, ia biasanya berbelanja langsung ke pasar, sementara bahan lainnya seperti tepung terigu hingga cabai diantar oleh pemasok langganannya.

"Abis subuh udah ke pasar, Mbak. Beli sayuran-sayuran gitu, cabai. Kalau sore paling terigu diantar sini. Minyak sama terigu itu," jelas Asep.

Gorengan memang menjadi salah satu camilan yang banyak diminati masyarakat. Meski terdapat penjual gorengan lain dalam jarak yang berdekatan, setiap pedagang tentu memiliki ciri khas dan strategi tersendiri untuk menarik pelanggan.

Perantau dari Kuningan, Jawa Barat

Asep sudah berjualan gorengan sejak tahun 2006 dan dari dulu tidak pernah pindah lapak jualan. Oleh karenanya Asep sudah memiliki pelanggan tetap yang kebanyakan adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Asep merupakan seorang perantau dari Kuningan, Jawa Barat. Sebelum memulai usaha gorengan, Asep pada awalnya ikut orang lain untuk merantau ke kota yang dijuluki Kota Gudeg ini.

"Sebelum 2006 sih (merantaunya). Udah ke sini tapi ikut orang itu, mbak," cerita Asep.

Selama dua puluh tahun merantau di Yogyakarta, Asep selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung dan bertemu keluarga. Meski tidak menentu, pria berusia 42 tahun tersebut mengaku selalu berusaha pulang ke Kuningan setidaknya dalam setahun.

"Kadang dua bulan sekali, kadang tiga bulan sekali," jelas Asep.

Penghasilan dari penjualan gorengan disisihkan untuk keluarga dan biaya hidupnya di Yogyakarta. Ia tinggal di rumah kontrakan di kawasan Sapen, dekat area UIN, agar tidak terlalu jauh dari tempat berjualannya.

Omzet Rp500 Ribu Sehari dengan Modal Awal Rp1 Juta

Penghasilan seorang penjual tentu tidak menentu setiap harinya, begitu pula dengan Asep. Meski demikian, ia memperkirakan pendapatan rata-rata yang diperolehnya setiap hari berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.

"Beda-beda sih, Mbak. Kadang 400, kadang 500. Kadang lebih, kadang kurang," ungkap Asep.

Harga satuan gorengan dijual Rp1.000. Jika dalam sehari penghasilan rata-rata Asep adalah Rp500 ribu, gorengan yang terjual mencapai 500 buah. Penjualan tersebut tentu sangat besar.

Usai melayani orang belanja yang membeli Rp15 ribu gorengan, Asep melanjutkan ceritanya. 20 tahun usaha gorengannya berjalan dan bertahan di tengah gempuran pedagang baru dengan ide jualan yang menarik, Asep tetap bertahan.

Gorengan milik Asep menyediakan sekitar enam jenis gorengan, mulai dari tempe, tahu isi, molen pisang, molen nanas, molen ubi, hingga bakwan. Sebelumnya, Asep juga menjual cireng dan pisang aroma. Namun, karena proses pembuatannya berbeda dengan jenis gorengan lainnya, menu tersebut akhirnya tidak lagi dijual.

"Saya sendirian, nggak ada yang bantuin, jadi dikurangin yang cireng sama pisang aromanya. Kalau pisang aroma kan harus khusus minyaknya, Mbak. Kalau dicampur ini suka manis gorengannya. Kan sempat kotor, lagi sempat hitam, coklat, bubuk gitu," jelas Asep berbagi cerita.

Di tengah kesibukannya memotong pisang untuk isian molen, menggoreng tempe, serta menyiapkan adonan gorengan lainnya, Asep mengungkapkan bahwa modal awal yang digunakannya untuk memulai usaha gorengan sekitar 20 tahun lalu mencapai Rp1 juta.

"Satu jutaan lebih sih mbak," kata Asep mengingat modal awal membangun usaha.

Keuntungan dan Kendala Memakai QRIS

Asep baru menerapkan sistem pembayaran digital sekitar Januari 2026 atau sebelum Ramadan 2026. Sebelumnya Asep tidak berencana untuk memakai Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS, namun kemudian ada yang menawarkan pembayaran digital tersebut. 

"Ada yang nawarin, sih, mbak. Udah beberapa orang sih yang nawarin itu. Dari mahasiswa apa dari mana itu sering," cerita Asep.

Sebelum disarankan untuk memakai QRIS, Asep sudah lebih dulu memikirkan untuk memasang QRIS di gerobak jualannya. Namun karena masih belum terlalu paham, Asep mengurungkan niatnya untuk menerapkan QRIS.

Namun, akhirnya Asep mantap menggunakan QRIS sebagai salah satu metode pembayaran untuk usaha gorengannya. QRIS yang digunakan Asep adalah QRIS BRI, salah satu layanan pembayaran digital yang disediakan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) bagi para pelaku usaha, termasuk pedagang kecil dan UMKM. Kehadiran QRIS BRI menjadi salah satu wujud nyata digitalisasi keuangan yang kini semakin menjangkau lapisan usaha mikro seperti pedagang gorengan kaki lima.

Menurut Asep, penggunaan QRIS memberikan keuntungan karena dapat memudahkan pembeli yang tidak membawa uang tunai. Ia juga mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna QRIS di lapaknya berasal dari kalangan mahasiswa. Hal tersebut sejalan dengan Generasi Z yang kini cukup mendominasi penggunaan metode pembayaran digital.

"Mempermudahnya ada, kendalanya ada. Kalau mahasiswa banyak yang nanyain QRIS, mbak. Kadang-kadang kan nggak bawa uang tunai, katanya," cerita Asep.

Meski dinilai memiliki banyak keuntungan, Asep mengaku tetap merasakan kendala saat menerima pembayaran melalui QRIS, yakni tidak bisa langsung memegang uang hasil penjualan. Pasalnya, ketika ingin membeli kebutuhan untuk berjualan, ia harus mengambil uang terlebih dahulu dari rekening.

"Itu kadang-kadang nggak dapat uang tunai buat belanja lagi yang itu kan susah lagi, gitu, Mbak. Harus ngodok lagi dompetnya itu, apalagi cairin dulu, gitu," jelas Asep.

Pemasukan Berkurang Sekitar 50 Persen saat Mahasiswa Libur

Liburnya mahasiswa turut berpengaruh terhadap pemasukan harian usaha gorengan milik Asep. Ia mengungkapkan bahwa pendapatannya bahkan bisa menurun hingga 50 persen saat masa libur semester mahasiswa yang berlangsung sampai tiga bulan.

"Pengaruh banget, Mbak. Bisa setengahnya, Mbak," kata Asep.

Saat mahasiswa memasuki masa libur semester yang bisa berlangsung hingga tiga bulan, Asep terkadang ikut meliburkan diri dan pulang kampung ke Kuningan. Ia biasanya memilih menggunakan travel untuk perjalanan pulang karena dinilai lebih praktis dibandingkan kereta api yang memakan waktu lebih lama.

"Kadang juga ikut libur kadang-kadang itu. Kadang-kadang kan libur tiga bulan ini kampus itu," tambah Asep.

QRIS Bikin Transaksi Anti Ribet

Suci (30), salah satu pengguna QRIS ungkap jika penggunaan QRIS bikin transaksi jadi lebih gampang. Banyak keuntungan yang dirasakan Suci saat toko atau penjual menyediakan QRIS untuk pembayaran.

"Gak ribet aja, transaksi gampang," kata Suci singkat.

Dimudahkan tanpa harus membawa uang tunai, Suci terbilang sering menggunakan QRIS untuk pembayaran. Tak dipungkiri kini lebih banyak yang memilih membawa ponsel (HP) berisi dompet digital daripada uang tunai

"Lumayan sering, jika saya tidak membawa uang cash dan hanya membawa HP, saya biasanya menggunakannya, dan kebetulan toko besar dan toko kecil sudah banyak yang memakai metode itu," jelas Suci.

Bagi UMKM seperti usaha gorengan Asep, QRIS BRI bukan sekadar alat transaksi, melainkan bagian dari ekosistem digitalisasi keuangan yang mendorong pelaku usaha kecil untuk lebih terintegrasi dengan sistem keuangan formal. Melalui QRIS BRI, pedagang dapat mencatat transaksi secara otomatis, meminimalkan risiko uang palsu, serta membuka peluang untuk mengakses layanan perbankan dan pembiayaan dari BRI di masa mendatang.

Transformasi Digital BRI Terus Tumbuh 

Mengutip unggahan Instagram BRI pada 30 April 2026, sepanjang Triwulan I 2026 BRI terus memperkuat perannya dalam mendorong ekonomi Indonesia melalui pendekatan inklusif dan kanal digital. Hingga Maret 2026, Bank BRI mencatat laba bersih sebesar Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pada layanan BRImo, jumlah pengguna mencapai 47,8 juta user atau tumbuh 18,6 persen (yoy), dengan volume transaksi sebesar Rp2.042,2 triliun atau meningkat 29,4 persen (yoy).

Sementara itu, layanan korporasi digital QLola by BRI mencatat 320,4 ribu pengguna dengan pertumbuhan 33,1 persen (yoy). Volume transaksinya mencapai Rp4.462 triliun atau tumbuh 53,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sektor merchant, BRI memiliki 323,7 ribu merchant pengguna layanan digital dengan volume transaksi mencapai Rp67,9 triliun atau tumbuh 26,5 persen (yoy).

Layanan QRIS BRI juga menunjukkan pertumbuhan pesat dengan volume transaksi mencapai Rp30,5 triliun atau tumbuh 76 persen (yoy). Jumlah transaksinya melampaui 253 miliar transaksi atau meningkat 86,7 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner