Rental Motor hingga Jual Es Teh, Usia 72 Tahun Tak Halangi Lubertus Jalankan Usaha

4 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Berdekatan dengan warung bakso, Es Teh Bara Flamboyant yang berlokasi di Jalan Patangpuluhan, Yogyakarta ini menjadi pilihan minuman yang mudah dijangkau. Tempat ini menawarkan es teh jumbo dengan harga sangat terjangkau, yaitu hanya Rp3.000.

Es teh tersebut tidak terlalu ramai pembeli karena tampilannya terlihat seperti gerobak yang seolah sedang tutup atau tidak beroperasi. Namun, terdapat tulisan "buka" yang cukup jelas sehingga meyakinkan pengunjung bahwa usaha es teh tersebut tetap berjualan

Di samping gerobak es teh tersebut terdapat gerobak pecel Madiun. Lubertus (72), selaku pemilik, mengungkapkan bahwa usaha pecel Madiun miliknya masih tutup sementara karena penjaga sedang pulang kampung.

Selain itu, ketidakstabilan harga bahan pokok juga menjadi pertimbangan, sehingga ia memutuskan untuk menghentikan operasional sementara sambil menyesuaikan kembali harga menu yang akan dijual.

"Satu bulannya lebih lah. Soalnya barang-barang ini kan naik. Mau naik kan harga jual itu kok ra enak (tidak enak dengan pelanggan)," cerita Lubertus saat ditemui Liputan6 pada (20/5/2026)

Mampir sebentar untuk membeli es teh dapat menjadi pilihan yang menyegarkan. Es Teh Bara Flamboyant ini berlokasi di bawah pohon, sehingga memberikan suasana teduh bagi para pembeli.

Jatuh Bangun Jalani Usaha

Sembari membuat es teh saat ditemui pada (20/5/2026) lalu, Lubertus bercerita bahwa usaha es tehnya telah berjalan kurang lebih empat tahun, yakni sejak sekitar tahun 2022. Setelah berjualan es teh, ia kemudian menjalankan usaha pecel Madiun pada sekitar tahun 2024.

Sebelum menjalankan usaha es teh dan pecel Madiun, Lubertus diketahui pernah mencoba beberapa jenis usaha lain. Ia beberapa kali harus berganti usaha karena tingginya persaingan di lapangan yang membuat penjualan kurang berjalan lancar dan tidak laku.

Mulai dari bisnis persewaan buku, laundry, penyewaan sound system, wartel, hingga penyewaan motor pernah dijalani oleh Lubertus. Kini yang masih berjalan adalah usaha es teh, pecel Madiun, dan penyewaan motor.

"Usahanya macam-macam Mbak, mulai dari persewaan buku, terus tidak laku ganti laundry, terus ganti wartel. Terakhir ini nyewain motor," cerita Lubertus mengingat masa lalu.

Penyewaan motor telah dijalaninya sejak tahun 2010. Selama sekitar enam belas tahun menjalankan usaha tersebut, ia pernah mengalami berbagai kendala, terutama sebelum masa Covid-19, sehingga kini menjadi lebih selektif dalam memilih penyewa.

Lubertus lebih mengutamakan orang yang sudah dikenal atau pelanggan langganan untuk menjaga keamanan usahanya. Sementara untuk penyewa baru, ia mempertimbangkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menyetujui penyewaan.

Pernah Kerja di Perusahaan Kayu Tahun 1975

Lubertus merupakan orang asli Yogyakarta yang pernah kerja di perusahaan kayu tahun 1975-1982 di Kalimantan. Sepulangnya dari Kalimantan, ia membangun beberapa usaha, mulai dari penyewaan buku hingga kini usaha es teh.

"Saya pulang dari Kalimantan tahun 1982. Baliknya kesini kan rumah orang tua. Kerja di Kalimantan tengah, kerja kayu (perusahaan kayu). Dari tahun 1974 sampai tahun 1982," katanya

Menginjak usia 72 tahun, Lubertus masih penuh semangat dengan ingatan yang tetap tajam tentang perjalanan hidupnya sejak tahun 1980-an hingga akhirnya kembali ke Yogyakarta untuk mencoba membangun usaha.

Pinjam KUR BRI untuk Usaha dan Terapkan QRIS di Lapak Jualan

Untuk menjalankan usahanya, Lubertus beberapa kali memanfaatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan nominal yang bervariasi, mulai dari jumlah kecil hingga sekitar Rp50 juta. Saat ini ia menyelesaikan pelunasan pinjaman terakhir, seiring usianya yang telah menginjak 72 tahun.

"Saya ngambil sekarang (KUR BRI). Terakhir ini, karena usia," Cerita Lubertus yang sedang melunasi pinjaman KUR terakhirnya.

Untuk menjalani usaha es teh dan pecel Madiun modalnya sekitar Rp15 juta. Karena kini lapak pecel Madiunnya sedang tutup karena karyawan pulang kampung dan harga bahan pokok naik, ia hanya menjual es teh dan penyewaan motor.

Sudah menjadi nasabah BRI sejak lama, Lubertus pun menerima tawaran saat ada yang menawarkan pemasangan QRIS di lapak jualan es teh. Selama pemakaian enam bulan terakhir sejak dipasang, ia ungkap bahwa tidak masalah dan berjalan lancar.

"QRIS-nya enggak ada (tidak ada masalah). Sampai saat ini lho enggak," ungkapnya.

Pembeli sering kali menanyakan QRIS ketika berbelanja. Oleh karenanya QRIS di lapak jualan Es Teh Bara Flamboyant tentu memudahkan. Lubertus ungkap jika pelanggan yang memakai QRIS dan tunai di lapak jualannya 50 banding 50.

Sebelum mendapatkan tawaran untuk menerapkan sistem pembayaran digital tersebut, Lubertus tidak berencana untuk memasang QRIS di lapak jualannya karena harga dagangannya tergolong kecil.

QRIS Lebih Aman dan Praktis

Shinta (25), salah satu pengguna QRIS yang kerap menggunakan pembayaran digital saat bertransaksi, mengungkapkan bahwa metode pembayaran QRIS membuat proses belanja menjadi lebih cepat karena tidak perlu menunggu uang kembalian.

"Alasannya lebih mudah, lebih simple dan lebih praktis. Saat berbelanja memakai metode QRIS lebih cepat proses karena tidak harus menunggu uang kembalian saat sedang berbelanja," jelas Shinta.

Selain memudahkan pembeli dan penjual karena pembayaran dapat dilakukan sesuai nominal tanpa repot, penggunaan QRIS saat bertransaksi juga dinilai lebih aman dari risiko penipuan serta memudahkan pencatatan transaksi secara otomatis.

BRImo Jadi Andalan Masyarakat

Mengutip unggahan Instagram resmi BRI pada 5 Mei 2026, akselerasi transformasi digital yang dilakukan BRI menunjukkan hasil positif. Hal tersebut tercermin dari semakin luasnya penggunaan aplikasi BRImo di tengah masyarakat yang kini didukung lebih dari 100 fitur transaksi.

BRI mencatat jumlah pengguna BRImo telah mencapai 47,8 juta pengguna atau tumbuh 18,6 persen secara year on year (yoy). Sementara itu, volume transaksi melalui BRImo mencapai Rp2.042 triliun atau meningkat 29,4 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital BRImo dalam mendukung kebutuhan transaksi sehari-hari. Selain mempermudah transaksi, peningkatan penggunaan layanan digital juga turut memperkuat dana murah atau CASA serta mendukung pertumbuhan bisnis BRI secara berkelanjutan.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner