Liputan6.com, Jakarta - Bernadetha Pudyas Minarsih (53) memulai perjalanan usahanya setelah pindah dari Semarang ke Yogyakarta, mengikuti pekerjaan sang suami. Di kota barunya, ia mencoba mencari kegiatan produktif sembari mendampingi anak-anak bersekolah hingga akhirnya aktif merajut bersama orang tua murid di sana. Dari kegiatan sederhana itu, perempuan yang karib disapa Dyas ini perlahan masuk ke dunia UMKM.
Setelah produk rajut mulai menurun peminatnya, ia memilih mempelajari ecoprint dan mengembangkan berbagai produk berbasis bahan alami seperti kain, kayu, keramik, hingga kulit domba yang kini menjadi ciri khas brand miliknya, Diaz Ecoprint Miss Daun. Tempat usaha ini diketahui beralamat di Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perjalanan usaha tersebut kemudian berkembang lebih luas. Dyas juga kini aktif mengajar dan mendampingi perempuan-perempuan yang ingin membangun usaha sendiri dari keterampilan ecoprint. Dari tangan Dyas, banyak murid berkembang menjadi pelaku UMKM mandiri. Sebagian telah berhasil membuka galeri ecoprint, ada juga yang aktif mengikuti pameran fashion, hingga turut mengajar dan menularkan ilmu yang dulu mereka pelajari.
“Waktu itu sambil nunggu anak-anak sekolah, saya merajut, berama ibu-ibu yang lain juga yang menunggu anaknya,” kata Diaz, saat menceritakan perjalanan karier bisnisnya kepada Liputan6, di galerinya, Sanggar Rajut Diaz Ecoprint, Kamis (14/5).
Berawal dari Kegiatan Merajut Bersama Ibu-Ibu Sekolah
Diceritakan bahwa dari aktivitas tersebut, lahir berbagai produk seperti tas, dompet, hingga aksesori rajut. Pada masa itu, produk rajut memang sedang diminati pasar, bahkan satu tas bisa dijual hingga ratusan ribu rupiah.
Keahlian merajut yang dimilikinya kemudian menarik perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan, hingga dirinya dipercaya mendampingi kelompok perempuan di sejumlah wilayah untuk belajar keterampilan rajut dan membangun usaha rumahan.
Sejak itu, Dyas lantas mulai dipercaya sejumlah pihak hingga kelompok ibu-ibu di banyak tempat, sampai akhirnya turut yakin membesarkan bisnis ecoprint di kediamannya ini. Dirinya mengaku senang sekaligus tertantang untuk mendalami dunia ecoprint.
“Daripada pulang dan tidak ada kegiatan, nah waktu itu booming juga tas rajut dowa,” tambah Dyas.
Melihat Peluang Baru Lewat Ecoprint
Seiring berjalannya waktu, tren produk rajut mulai menurun. melihat pasar mulai jenuh karena produk rajut memiliki masa pakai yang cukup lama sehingga konsumen tidak terlalu sering membeli ulang. Kondisi itu lantas membuatnya mulai mencari peluang baru. Pada 2017, ia tertarik mempelajari ecoprint karena melihat konsepnya yang unik dan dekat dengan bahan alami.
Ia kemudian mengikuti kursus ecoprint dengan biaya jutaan rupiah untuk memahami teknik dan pengembangan produknya. Dari situ, Dyas mulai mengembangkan ecoprint pada berbagai media seperti kain, kayu, keramik, kertas, hingga kulit.
Menurutnya, ecoprint memiliki nilai berbeda karena menggunakan daun dan bunga asli sebagai motif utama. Konsep tersebut juga dekat dengan prinsip ramah lingkungan, sehingga dirinya terus berusaha mengedukasi dan menjalankan pergerekan industri ini dengan maksimal.
“Nah prinsipnya itu mengambil daun seperlunya lalu menanam kembali. Itu yang selalu saya tanamkan saat mengajar, karena Ecoprint sangat berkaitan erat dengan alam dan lingkungan,” ujarnya.
Mendampingi Kelompok Perempuan hingga Bisa Mandiri
Sebagai pendamping usaha, dirinya membina banyak kelompok perempuan yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Dalam satu kelompok, jumlah peserta bisa mencapai 25 hingga 30 orang.
Pendampingan dilakukan bertahap selama tiga tahun. Tahun pertama fokus pada pelatihan dasar, kemudian dilanjutkan peningkatan kemampuan produksi hingga pemasaran. Tujuan utama dari langkah pendampingan tersebut adalah membuat peserta bisa menghasilkan produk dengan nilai jual tinggi dan kualitas baik, termasuk juga mampu memasarkan dan mengelola produksinya hingga menjadi sosok yang mandiri secara ekonomi.
Dari proses itu, lahir berbagai sentra usaha kecil berbasis rajut yang memproduksi tas, sepatu, dompet, dan produk lainnya secara mandiri, khususnya di wilayah Ngampilan, Kota Yogyakarta, yang saat ini identik dengan industri bakpia.
"Hampir 10 titik waktu itu ngajarnya. Nah, setiap pemberdayaan itu terdiri dari 25-30 orang, dengan pesertanya kalangan perempuan. Mereka ini memang betul-betul di rumah dan tidak bekerja. Ini dilatih, didampingi selama 3 tahun setiap kelompok itu," tuturnya.
Kulit Domba Jadi Ciri Khas Produk Miss Daun
Di antara berbagai media ecoprint yang dikembangkan, Dyas memilih kulit domba sebagai produk unggulan. Ia melihat belum banyak pelaku UMKM yang mengembangkan ecoprint berbahan kulit domba. Menurutnya, selama ini produk kulit lebih banyak menggunakan kulit sapi. Padahal kulit domba juga memiliki karakter yang baik untuk dijadikan produk fashion seperti jaket, sepatu, hingga tas.
Dyas kemudian mengembangkan berbagai teknik ecoprint khusus untuk kulit domba, mulai teknik pounding atau dipukul, steam dengan cara dikukus, hingga boil atau direbus bersama pewarna alami. Produk ecoprint kulit domba miliknya kini dipasarkan dalam bentuk jaket, sepatu, tas, hingga busana custom.
Harga produknya mulai Rp250 ribu untuk kain ecoprint hingga Rp2,5 juta untuk jaket kulit. Selain produk fashion, ia juga mengembangkan konsep reuse dengan memanfaatkan limbah seperti kertas semen yang diolah kembali menjadi tas ecoprint.
“Ini misalnya di produk saya ada reuse dari kertas semen. Saya jadikan produk tas dengan teknik ecoprint yang diberi tempelan daun lanang, daun jati dan lain-lain, jadinya tas ecoprint kertas semen yang unik ini,” terang Dyas.
Salurkan Hobi Mengajar
Meski memiliki brand sendiri, Dyas mengaku kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengajar dibanding memproduksi barang. Menurutnya, Ecoprint memiliki peluang luas karena seseorang bisa bergerak sebagai produsen, penyedia bahan, penjual bibit tanaman, maupun pengajar.
Karena itu, ia memilih fokus membagikan ilmu kepada perempuan-perempuan yang ingin belajar dan membangun usaha sendiri. Sejak 2017, Dyas sudah mengajar di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Semarang, hingga Kalimantan.
Dari proses tersebut, banyak muridnya kini berkembang dan memiliki usaha ecoprint sendiri. Sebagian bahkan sudah menjadi pengajar dan membuka kelas ecoprint di daerah masing-masing. Dirinya mengaku bahagia ilmunya bisa dipraktikkan dengan maksimal.
“Anak didik saya sekarang banyak yang sudah sukses dan ngajar juga. Saya justru senang melihat mereka bisa mandiri, apalagi banyak dari produk yang dihasilkan di galeri-galerinya yang semuanya keren-keren dan bangga sekali mendapati ini,” katanya.
Dapat Ilmu AI dari BRIncubator untuk Pengembangan Usaha
Dalam mengembangkan usahanya, Dyas turut tergabung sebagai peserta BRIncubator sejak 2025. Melalui program tersebut, ia mendapat banyak pembelajaran terkait branding dan pemasaran digital dari usaha Diaz Ecoprint Miss Daun.
Selain pelatihan, Dyas juga beberapa kali diajak mengikuti pameran dan kegiatan branding UMKM, termasuk BRI Expo. Menurutnya, kesempatan tersebut membantu produk Miss Daun semakin dikenal luas.
AI menjadi konsentrasi utamanya dalam memajukan promosi dari brandnya. Dari sana, ia merasa terbantu dalam membuat teks promosi, caption sampai pengemasan media sosial. Itulah mengapa saat ini dirinya mulai merasakan peningkatan penjualan dengan omzet sekitar Rp5 juta per bulan dari modal awal sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta untuk pengembangan produk.
“Dari BRI kami banyak dapat ilmu, terutama soal digital marketing dan branding produk. Enak sekarang saya bisa pakai AI untuk pengenalan produk dan promosi di media sosial ini,” ujarnya.
Berawal dari Murid, Modesta Nursanti Kini Punya Galeri dan Ikut Mengajar
Adapun, salah satu murid Dyas yang kini berkembang adalah Modesta Nursanti (57), warga Ngampilan, Kota Yogyakarta. Santi pertama kali mengenal ecoprint saat mengikuti pelatihan dari Dinas Perindustrian Kota Yogyakarta pada 2018 dengan Dyas sebagai mentornya.
Saat itu, Santi belajar dari tahap paling dasar, mulai mengolah kain putih hingga menghasilkan motif dari daun dan bunga. Pelatihan tersebut juga membahas packaging hingga diversifikasi produk.
“Awal ketemu Ibu Dyas itu di 2018 akhir saat mengikuti pelatihan dari dinas. Saya di sana, diajari teknik ecoprint dari dasar bersama sejumlah ibu-ibu. Dan Puji Tuhan, saat ini saya sudah ada galeri di sini,” kata Santi, saat menceritakan ke Liputan6, Senin (25/5).
Berbekal pengalaman di dunia seni dan desain, Santi kemudian mulai mengembangkan karya ecoprint menjadi busana dan berbagai produk fashion. Ia juga mulai aktif mengikuti pameran dan fashion show seperti Jogja Fashion Week, Sleman Fashion Parade, hingga Solo Fashion Runway.
Perlahan, usaha yang dijalankannya berkembang hingga berhasil membuka galeri ecoprint sendiri. Kini, Santi juga ikut mengajar dan membagikan ilmu ecoprint kepada peserta lain seperti yang dulu dilakukan Dyas kepadanya. Meski sudah berkembang, Santi mengaku masih sering berdiskusi dengan Dyas ketika menemukan kendala dalam proses produksi maupun pengembangan produk.
“Kalau ada yang masih ragu atau kurang yakin hasilnya, saya tetap konsultasi ke Bu Dyas,” kata Santi.
Baik Dyas maupun Santi, menjadi salah satu contoh perempuan yang ingin terus bergerak dan tak mau berdiam diri. Mereka bisa menjadi contoh, bagaimana kolaborasi bisa memajukan industri ecoprint di tengah ketatnya persaingan usaha seperti sekarang.

12 hours ago
7
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1237075/original/072380200_1463561466-IMG_20160518_133931.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7113198/original/065832500_1779897174-Lapas_Bollangi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7028576/original/004431700_1779802917-IMG-20260526-WA0039.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7090366/original/033290200_1779871723-balon_udara.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7068528/original/056790800_1779847028-IMG-20260526-WA0118.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7085646/original/032155700_1779866574-IMG_20260527_122326.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7077110/original/031299600_1779856903-1002086321.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7070995/original/086110700_1779849951-1001294333.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7069358/original/091069400_1779848081-341344.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7024731/original/072098600_1779798938-7e3fc243-0bdd-4070-b4cf-ff4b083f9ce8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7022136/original/000428100_1779796254-681984.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7021529/original/097944000_1779795378-1001294049.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7012709/original/097211400_1779785191-1001293511.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7012176/original/044144300_1779784542-1001293782.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7007276/original/094409300_1779778962-1001293360.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6826820/original/016446300_1779615644-nangoma.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6997061/original/046831300_1779767299-1005394030.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488155/original/007442200_1769736510-kapolres_sleman.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487834/original/001572600_1769679917-sppg-mbg.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486930/original/032169500_1769649012-Situasi_Mapolresta_Pati_saat_pemeriksaan_sejumlah_saksi_kasus_Sudewo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487872/original/068466900_1769681847-1000959429.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487684/original/080771300_1769672624-1001569171.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2848338/original/058999900_1562657854-IMG_20190709_141553.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489005/original/077235900_1769774841-Kasus_keracunan_massal_di_SMA_2_Kudus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488143/original/035051700_1769735206-WhatsApp_Image_2026-01-30_at_07.23.49.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486906/original/085329000_1769641130-Menu_MBG_berjamur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487727/original/065368000_1769674920-IMG_20260128_174410.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483537/original/001042400_1769397673-IMG_0821.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1641370/original/044149800_1499335049-20170706-angkot-angkoters2-bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488104/original/091791600_1769727572-IMG_3676.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487586/original/063150300_1769669333-1000958697.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2893885/original/062624800_1566892562-Garis_Polisi-_Pembunuhan.jpg)