Terungkap Penyebab Satu Keluarga Meninggal Saat Glamping di Temanggung

4 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Teka-teki penyebab meninggalnya empat orang dalam satu keluarga saat kegiatan Glamping Safari 3 di Taman Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah akhirnya terungkap. Polda Jawa Tengah memastikan peristiwa tersebut terjadi akibat keracunan gas karbon monoksida yang menyebabkan para korban mengalami mati lemas.

Hal ini diketahui berdasarkan hasil autopsi, pemeriksaan toksikologi, serta analisis laboratorium forensik yang dilakukan terhadap para korban.

“Pemeriksaan forensik terhadap korban dan sampel darahnya menunjukkan adanya tanda-tanda keracunan karbon monoksida. Kami juga tidak menemukan luka akibat kekerasan pada tubuh korban maupun kandungan zat beracun lain seperti sianida yang dapat menyebabkan kematian,” kata Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko, Senin (15/6/2026).

Temuan tersebut diperkuat oleh hasil pemeriksaan laboratorium serta simulasi yang dilakukan tim forensik.

Kasubbid Kimia Biologi Forensik Bidlabfor Polda Jateng AKBP Ibnu Sutarto mengatakan, simulasi dilakukan untuk menguji dan mengetahui sumber paparan gas karbon monoksida.

“Hasil simulasi yang kami lakukan menunjukkan dugaan kuat gas karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku di dalam tenda. Konsentrasi gas yang dihasilkan dapat mencapai 2.000 ppm yang sangat berbahaya bagi manusia. Bahkan saat diuji di luar tenda, gas karbon monoksida masih berpotensi masuk ke dalam dan melampaui ambang batas aman 200 ppm,” ungkapnya.

Kronologi

Kapolres Temanggung AKBP Zamrul Aini menjelaskan, peristiwa bermula saat keempat korban tiba di kawasan wisata Posong pada Selasa malam, 26 Mei 2026 untuk menginap di Glamping Safari Nomor 3. Sebelum menuju tenda, pihak pengelola telah mengingatkan agar tungku tidak dinyalakan di dalam tenda.

“Pengelola sudah mengingatkan karena jika dibawa ke dalam berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran maupun gangguan pernapasan akibat gas hasil pembakaran,” kata Zamrul Aini.

Keesokan harinya, saat petugas hendak mengantarkan sarapan dan melakukan pemeriksaan rutin, tidak ada respons dari penghuni tenda. Setelah melewati batas waktu check-out, petugas kemudian membuka tenda dan menemukan keempat korban telah meninggal dunia.

“Tungku tanah liat ditemukan berada di dalam tenda dekat pintu masuk, sementara kompor portabel berada di luar tenda,” ujarnya.

Polisi juga telah melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi, menyita barang bukti, serta memeriksa sampel makanan dan barang-barang di lokasi maupun di rumah korban sebelum keberangkatan.

“Sebanyak 27 saksi sudah kami periksa dari berbagai unsur,” ujarnya.

Sempat Diduga Keracunan Makanan

Sementara itu, Dirreskrimum Polda Jateng Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir mengungkapkan bahwa penyidik sempat mendalami berbagai kemungkinan penyebab kematian, termasuk dugaan keracunan makanan.

"Jadi setelah dilakukan pemeriksaan terhadap makanan yang dibawa korban maupun sisa makanan di rumah korban yang dikonsumsi sebelum keberangkatan, tidak ditemukan zat beracun yang menjadi penyebab kematian,” jelasnya.

Pihak kepolisian juga tidak menemukan adanya unsur kelalaian dari pihak pengelola karena prosedur keselamatan telah dijalankan dan petugas pengelola.

"Pengelola sudah memberi peringatan kepada korban untuk tidak menyalakan tungku di dalam tenda karena berbahaya," jelasnya

Dalam proses penyelidikan, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa kendaraan, telepon genggam, kamera, kompor portabel, tungku tanah liat, sisa makanan yang dikonsumsi korban, hingga menu sarapan yang belum sempat disantap. Seluruh barang bukti tersebut kemudian diperiksa secara laboratoris untuk memastikan penyebab kematian.

Reporter: Danny Adriadhi Utama

Sumber: Merdeka.com

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner