:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8596754/original/000578600_1782568091-prol_tape5.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Menjadi seorang pengusaha dituntut untuk selalu jeli melihat peluang, bahkan di tengah situasi sulit sekalipun. Hal inilah yang dibuktikan oleh Rini Yuliasning (45), seorang pelaku UMKM asal Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Klaten. Lewat produk inovatifnya yang diberi label "Almo Food", ia sukses mengubah tantangan kesehatan pribadi dan empati sosial menjadi ladang bisnis yang menjanjikan berkat kejelian inovasi dan dukungan dari BRI.
Siapa sangka, bisnis kuliner prol tape sehat yang kini laris manis ini berawal dari sebuah ketidaksengajaan akibat masalah kesehatan lambung yang dialaminya. Rini menceritakan bahwa dasar dari prol tape adalah kue bolu (cake), namun ia memiliki kendala tidak bisa mengonsumsi makanan berbahan dasar gandum.
"Wah, aslinya itu enggak sengaja, Mas. Lucu kalau diingat-ingat. Prol tape itu kan dasarnya kue bolu, ya. Nah, saya itu hobi bikin kue tapi enggak bisa makan gandum. Setiap makan terigu atau mi, asam lambung langsung naik, mual-mual gitu. Jadi selama ini yang makan kue bikinan saya cuma suami sama anak-anak aja," kenang Rini saat menceritakan awal mula perjalanannya saat diwawancarai oleh Liputan6 di acara Candiloka 2026 yang digelar di Warung Ndeso Galpencil, Pereng, Prambanan, Klaten pada Jumat (26/6/2026) kemarin.
Di tengah keterbatasan tersebut, Rini mulai memutar otak untuk mencari alternatif makanan yang aman untuk dikonsumsi sendiri. Ia kemudian mencoba berdiskusi dengan sesama rekan penderita alergi untuk mencari solusi hidangan sehat tanpa gandum.
"Sampai akhirnya saya ngobrol sama teman-teman komunitas sesama penderita alergi gluten. Dari situ saya mulai coba-coba eksperimen, pengen bikin kue yang bisa saya makan sendiri tanpa bikin perut sakit," lanjutnya.
Berdayakan Pedagang Tape Lansia
Keputusan untuk membuat produk dari olahan ketela ini didasari atas kepeduliannya terhadap kondisi ekonomi warga sekitar. Rini tergerak untuk memanfaatkan bahan baku lokal berupa tape singkong karena melihat realita sosial para penjual tradisional di lingkungannya.
"Di sekitar rumah saya itu banyak banget penjual tape keliling, Mas. Rata-rata simbah-simbah yang sudah sepuh, jarang ada yang muda. Harganya juga sering ditawar murah banget. Saya mikir, kalau saya bisa bikin kue dari tape dan nilai jualnya bagus, saya kan bisa langganan terus sama si Mbah. Itung-itung bantu mereka," ungkap Rini.
Melalui kerja sama ini, Rini berkomitmen membantu menaikkan taraf hidup para lansia tersebut. Ia bahkan menolak menggunakan harga grosir yang murah agar para pedagang keliling tersebut bisa menikmati keuntungan finansial yang adekuat.
"Malah kalau saya beli, saya sengaja bilang, 'Mbah, jangan pakai harga grosir yang murah ya. Jual harga normal aja, yang penting Mbah dapat untung.' Jadi dari situ kami mulai kerja sama," tambahnya.
Siasat Formula Otodidak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8596755/original/004516800_1782568091-prol_tape2.jpeg)
Perbesar
Langkah beralih profesi menjadi perajin kue sehat ini menuntut perjuangan ekstra, sebab Rini sama sekali tidak dibekali latar belakang ilmu tata boga. Ia mengasah kemampuannya secara mandiri lewat platform digital.
"Betul, saya ini orang lapangan, Mas. Dulu kerja di proyek gitu, jadi enggak pernah ikut kursus masak. Modal saya cuma nonton YouTube. Awalnya saya enggak langsung bikin kue bolu, tapi bikin gabin tape dulu biar tahu ketahanan tapenya. Pas udah paham, baru coba bikin kue. Pertama kali nyontek resepnya Chef Devina Hermawan. Hasilnya bagus, tapi ya itu masih pakai terigu biasa, jadi saya tetap enggak bisa makan," cetus Rini sembari tersenyum.
Titik balik keseriusannya mengelola bisnis kuliner terjadi pada tahun 2022. Rini dihadapkan pada pilihan karir besar untuk bekerja di area pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan penawaran finansial yang sangat besar. Namun, faktor keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk menetap di rumah.
"Momennya pas tahun 2022, waktu mau dipindah kerja ke IKN. Secara ekonomi tawarannya gede banget, proyek ngebor air kan menggiurkan ya. Tapi karena jauh dari keluarga, saya putuskan keluar kerja. Di rumah sempat bingung mau ngapain, akhirnya saya lanjutin eksperimen nyari formula prol tape bebas gluten tadi," tuturnya.
Eksperimen menyusun komposisi adonan gluten free tersebut memakan waktu berbulan-bulan dengan rintangan kegagalan yang tidak sedikit sebelum akhirnya menemukan formula yang pas untuk pencernaannya.
"Setengah tahun saya trial-error, Mas. Namanya bukan orang kue, adonannya sempat mleyot sana-sini, kadang jadi jenang, jadi dodol, gagal terus lah. Sampai akhirnya ketemu komposisi yang pas mencampur tepung ketela sama tepung kentang. Hasilnya enak dan perut saya aman" urainya.
Lolos Uji Pasar hingga Kantongi Izin Legalitas PIRT
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8596756/original/011537300_1782568091-prol_tape1.jpeg)
Perbesar
Setelah sukses menemukan racikan formula sehat yang tepat, Rini mulai menguji daya terima pasar dengan bantuan kerabat dekatnya untuk diperkenalkan ke komunitas-komunitas lokal.
"Saya dibantu banget sama teman saya, Mbak Yuli. Dia ini reseller yang selalu support. Pas tahu saya bikin kue sehat, dia nyaranin buat tes pasar dulu. Katanya, 'Mbak, bikin dua versi. Versi sehat yang agak mahal karena bahannya beda, sama versi biasa. Sini tak bawa ke arisan sama senam.' Ternyata pas dicoba, teman-temannya pada suka. 'Wis Mbak, didol wani' katanya. Dari situ saya langsung bingung, waduh branding-nya apa, kemasannya gimana, wong saya bukan orang UMKM, hahaha. Awalnya ya pakai kardus biasa seadanya," urai Rini dengan rasa syukur.
Melihat respons pasar yang terus mengalir deras, dorongan dari rekan sesama pelaku usaha memantapkan langkah Rini untuk mengurus legalitas usaha demi kenyamanan konsumen dan perluasan skala bisnisnya.
"Alhamdulillah, awalnya laku 5, laku 10, mengalir terus. Sampai akhirnya saya ngobrol sama teman lain, Mbak Alin. Dia ngajak saya buat serius terjun di UMKM karena saingannya masih jarang. Dari situ saya mulai belajar legalitas. Baru sekitar 6 sampai 8 bulanan ini lah prol tape saya resmi punya P-IRT," sambungnya.
Hingga kini, kualitas produk tetap dijaga ketat dengan mempertahankan sistem produksi mandiri guna memantau tingkat kematangan adonan secara sempurna.
"Masih saya bikin sendiri semua, Mas, dari awal sampai akhir biar kualitasnya terjaga. Sekali bikin sekitar 20 loyang, biasanya makan waktu 4 jam lah. Proses manggangnya aja di oven itu sejam sendiri biar matangnya sempurna dan tanak. Kunci awetnya prol tape saya memang di pengovenannya, pakai api atas bawah dan di jam pertama harus rajin dicek adonannya," jelas Rini mengenai manajemen produksinya.
Tantangan Bahan Baku dan Varian Produk
Ketelitian Rini diuji karena ia menggunakan bahan baku tape dari para pedagang lansia keliling yang memiliki tingkat kadar air dan alkohol yang berubah-ubah tergantung masa panen dan faktor iklim.
"Nah, sulitnya itu di bahan bakunya, Mas. Tape itu walaupun keliatannya sama, kadar alkohol sama airnya bisa beda-beda. Apalagi saya belinya dari simbah-simbah langganan. Kadang kalau saya agak lama enggak datang, simbahnya sampai nyariin, 'Ya Allah Nduk, kowe kok ora teko-teko.' Si Mbah ini kadang bawain tape ketela putih, kadang yang kuning. Perlakuannya beda banget, apalagi kalau dipanen pas musim hujan, kadar airnya tinggi banget," tambahnya.
Kondisi variatif bahan baku tersebut mengharuskan Rini melakukan penyesuaian takaran formula secara fleksibel agar struktur kue tanpa terigu tersebut tetap mengikat sempurna.
"Harus jeli banget, Mas. Misal takaran standar susu itu 100 mili. Kalau dapet tape yang pas, ya langsung cocok. Tapi kalau tapenya lembek karena banyak air, takarannya harus dikira-kira lagi biar enggak kelembekan. Soalnya kue saya ini sama sekali enggak pakai terigu yang fungsinya buat ngiket adonan. Makanya proses milah bahan baku di awal itu yang bikin lama," kata Rini secara mendalam.
Kini, brand Almo Food miliknya telah berkembang menawarkan lima varian rasa, yaitu keju, kismis, almond, moka dan cokelat yang dipasarkan berdasarkan preferensi demografi konsumennya.
"Kalau ukuran sama semua, Mas. Tapi kalau varian rasa, saya punya keju, kismis, almond, moka, sama cokelat. Uniknya, tiap rasa punya pasarnya masing-masing. Anak-anak muda favoritnya rasa moka. Tapi kalau yang sepuh-sepuh, sukanya kismis. Yang paling sering dipesan khusus itu pasti moka sama kismis," terangnya.
Harga hingga Promosi Produk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8596757/original/013743500_1782568091-prol_tape.jpeg)
Perbesar
Untuk urusan harga, versi gluten-free dipatok Rp40.000 per kotak, sedangkan versi reguler biasa dipasarkan seharga Rp30.000 karena adanya perbedaan biaya bahan baku tepung khusus bebas gluten.
"Kalau yang versi gluten-free harganya Rp40.000, Mas. Sedangkan yang versi biasa Rp30.000. Selisih Rp10.000 karena bahan baku tepung khusus bebas gluten kan harganya agak beda di pasaran," sebutnya.
Saat ini, sistem pemasaran Almo Food yang semula konvensional kini mulai merambah ranah digital serta memperluas ekspansi distribusi lewat marketplace.
"Awalnya murni dari mulut ke mulut, Mas, lewat grup WA, arisan, sama pameran UMKM. Kalau online, baru-baru ini dibikinkan akun Instagram sama teman, baru mau mulai jalan. Rencananya ke depan mau coba buka toko di Shopee biar jangkauannya lebih luas," lanjutnya.
Rini pun menaruh harapan besar untuk masa depan usahanya agar mampu menyediakan fasilitas khusus pangan sehat di masyarakat.
"Cita-cita saya pengen punya rumah produksi yang khusus healthy food. Biar orang-orang yang punya keterbatasan makan kayak saya bisa tetap jajan enak tanpa ada keluhan di perut. Kesadaran kesehatan itu kan enggak harus nunggu orang sakit dulu ya, buat persiapan di masa tua juga penting. Tapi ya bismillah, jalani dulu, Mas," ungkap Rini penuh harap.
Rumah BUMN hingga KUR BRI Jadi Faktor Kesuksesan Produk
Di balik ketekunan mengelola usaha dan impian besarnya, Rini mengaku sangat terbantu oleh ekosistem pemberdayaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), baik dari aspek pendampingan mental melalui Rumah BUMN maupun dukungan finansial modal usaha.
"Wah, Rumah BUMN dari BRI itu bagus banget, Mas. Pembina di sana enggak pilih-pilih, yang penting kita mau maju, pasti dirangkul. Jujur awalnya saya minder banget karena merasa masih pemula. Sementara pas ikut pelatihan, ketemu orang-orang hebat. Saya kalau enggak bareng Mbak Alin sempat enggak mau datang, Mas. Dia salah satu motivator terbesar saya," tutur Rini mengenang masa-masa awal pembinaannya.
Melalui lingkungan Rumah BUMN yang sangat suportif tersebut, mental bisnisnya dibentuk menjadi lebih matang dan penuh percaya diri.
"Terasa banget, Dari yang tadinya enggak pede, sekarang alhamdulillah jadi berani dan makin cinta sama produk sendiri. Mau orang bilang apa, pokoknya ini produk terbaik saya. Teman-teman sesama binaan di sana juga enggak pelit ilmu, saling mendukung. Kalau lagi sepi, selalu disemangati. Saling support begitu bikin hati rasanya ayem, Mas," tambahnya.
Tak hanya pembinaan kapasitas, akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI menjadi dewa penolong yang mengantarkan Almo Food merangkak naik dari bawah hingga berkembang stabil seperti saat ini.
"Iya, Mas. Selain jadi nasabah, KUR BRI itu bisa dibilang salah satu dewa penolong saya. Saya benar-benar memulai usaha ini dari bawah banget lewat modal dari sana, sampai akhirnya sekarang bisa jalan dan berkembang," pungkas Rini mengakhiri pembicaraan.
Prol Tape Sehat dan Nikmat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8596758/original/021674500_1782568091-prol_tape4.jpeg)
Perbesar
Kehadiran produk Almo Food ini ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan konsumsi gluten. Ibu Yasmin, salah satu pelanggan setia Almo Food, mengaku sangat terbantu dengan adanya varian Prol Tape bebas gluten ini. Baginya, bisa menikmati camilan lezat tanpa harus khawatir dengan kondisi kesehatan adalah sebuah kemewahan tersendiri.
"Saya senang sekali akhirnya ada produk prol tape yang bebas gluten. Selain rasanya memang nikmat, saya jadi merasa tenang karena ini sehat dan aman buat saya," ungkap Ibu Yasmin saat berbagi pengalamannya.
Tak hanya soal kualitas rasa, Ibu Yasmin juga merasa harga yang ditawarkan oleh Rini sangat rasional dan bersahabat. Baginya, harga tersebut sebanding dengan manfaat kesehatan yang didapatkan.
"Untuk harga, buat saya sih masih sangat wajar dan ramah di kantong. Yang paling utama itu kan manfaat kesehatannya, itu nomor satu," imbuhnya.
Dari berbagai varian yang ditawarkan, Ibu Yasmin mengaku memiliki favorit khusus. "Kalau ditanya paling suka apa, saya pasti pilih yang varian keju. Rasanya pas, gurihnya dapat, dan yang paling penting perut saya tetap nyaman setelah menikmatinya," tutupnya dengan puas.

4 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8600200/original/078457800_1782574564-1000199487.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3281497/original/094550300_1603955124-037192400_1552637059-098603900_1476093234-Oknum_Polisi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8591353/original/019866100_1782558892-1000391435.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8595539/original/069700400_1782565975-68166.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8582466/original/006601800_1782543427-373266.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8582163/original/087147300_1782542874-1000038709.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8575369/original/002002200_1782532439-1001401188.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8572850/original/039888200_1782527766-1001401241.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8570554/original/075822800_1782523917-Penganiaya_caddy_golf_ditangkap_polisi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8569814/original/030927600_1782522286-IMG-20260627-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8566696/original/011452700_1782517444-Mapolda_Sulut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8544485/original/094134900_1782484986-373095.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8542402/original/032194800_1782480495-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_18.43.12.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8541541/original/033897800_1782479168-IMG-20260626-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8539369/original/002649100_1782475547-IMG-20250205-WA0013.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8538740/original/099129700_1782474550-Taufik_Hidayat_pelaku_penganiayaan_dan_penyekapan_pacar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8538442/original/072038400_1782474186-373200.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8538039/original/070862000_1782473518-801644.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534028/original/002692300_1773806214-TKP_pria_di_Pringsewu__Lampung_ditemukan_tewas_gantung_diri_di_rumah_tunangannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/817544/original/014199200_1424873064-ilustrasi-begal-motor-5-150225.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535084/original/074686700_1773912505-kebakaran_sukabumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522956/original/076087900_1772782406-WhatsApp_Image_2026-03-06_at_13.49.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508796/original/004578600_1771600299-247987.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4294815/original/095852200_1674030831-IMG-20220605-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534545/original/007615900_1773836670-1002515232.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/930874/original/077594600_1437123186-MENENTUKAN_HILAL_1_SYAWAL-TIM_RUKYATUL_HILAL-KEMBANGAN-JAKARTA-HELMI_AFFANDI-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520014/original/055995200_1772604244-1001765701.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515114/original/004720200_1772161679-Petugas_mengevakuasi_potongan_tubuh_dari_Pantai_Ketewel_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533918/original/016565000_1773797149-20241222_120249.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533839/original/016596600_1773786483-57daaf38-d451-4234-8d6c-64db664b446c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534426/original/056870900_1773823094-IMG-20260318-WA0004.jpg)