Bukan Kambing atau Domba, Peternak di Mojokerto Jual Unta untuk Kurban Idul Adha

2 hours ago 4

Liputan6.com, Mojokerto - Bukan kambing atau domba, peternak di Mojokerto, Jawa Timur, mengembangbiakan unta sebagai hewan kurban di momen Idul Adha. Berkah Wafa Farm begitu namanya dikenal, peternakan milik Faisal Effendi itu mendapat sorotan banyak pihak karena inovasinya mengembangbiakan unta, hewan kurban yang tak biasa di kawasan Indonesia.

Berkah Wafa Farm sendiri berlokasi di Dusun Dateng, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Faisal mendatangkan langsung unta dari Australia untuk dijadikan diternak sejak setahun lalu.

Seperti yang dikutip dari Antara, dari 32 ekor unta yang pernah didatangkan Faisal dari Australia, saat ini hanya tersisa sekitar 5 hingga 6 ekor. Bukan mati, sebagian lainnya sudah dibeli untuk kebutuhan kebun binatang dan wisata edukasi di sejumlah daerah.

Meski begitu, Faisal menyebut fokus utama peternakannya saat ini masih pada pengembangbiakan, bukan langsung menjual unta secara massal untuk kurban.

"Praktis dirawat dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat dibanding sapi," ungkapnya.

Faisal juga menjelaskan, meski begitu merawat unta tidak gampang, dalam artian membutuhkan waktu perawatan yang lebih lama ketimbang kambing atau domba maupun sapi.

Jika nantinya umur unta sudah mencukupi, hewan ini berpeluang dijual sebagai alternatif hewan kurban yang tidak biasa di masyarakat Indonesia.

Terkait mengapa unta bisa hidup dan tumbuh dengan baik di Indonesia, unta memiliki kemampuan adaptasi fisiologis yang luar biasa serta fleksibilitas pakan yang tinggi. Keberhasilan peternakan seperti Berkah Wafa Farm di Mojokerto dalam mengembangbiakan unta asal Australia membuktikan bahwa hewan gurun ini sangat tangguh.

Berikut adalah alasan ilmiah dan teknis mengapa unta bisa bertahan hidup di iklim tropis Indonesia:

1. Sistem Termoregulasi yang Kuat

Tahan Fluktuasi Suhu: Tubuh unta dirancang secara alami untuk menahan perubahan suhu ekstrem, baik panas menyengat maupun dingin malam gurun.

Jarang Berkeringat: Unta baru akan berkeringat jika suhu tubuhnya melebihi 41°C. Hal ini membuat mereka tidak mudah kehilangan cairan tubuh meskipun hidup di daerah dengan kelembapan tinggi seperti Indonesia.

Punuk Terpusat: Semua lemak unta terkumpul di punuknya. Lapisan lemak yang tidak menyebar di bawah kulit ini membantu tubuh unta melepaskan panas internal secara cepat ke udara luar.

2. Kemampuan Adaptasi Pakan Tropis

Pemakan Segala Tanaman: Di habitat aslinya, unta terbiasa memakan ranting berduri dan rumput kering. Saat dibawa ke Indonesia, mereka justru mendapatkan pasokan melimpah berupa rumput hijau segar, dedaunan, dan jerami yang kaya nutrisi.

Penyerapan Kelembapan dari Rumput: Mengonsumsi hijauan segar tropis memungkinkan unta menyerap kandungan air langsung dari makanannya. Hal ini membuat kebutuhan minum harian mereka terpenuhi dengan sangat efisien.

3. Modifikasi Kandang Sederhana

Media Pasir Kering: Peternak di Indonesia, termasuk di Mojokerto, menyiasati kelembapan tanah tropis dengan menyediakan kandang beralas pasir. Area berpasir kering ini menjaga agar kuku dan tubuh unta tidak lembap, sekaligus menjaga suhu hangat yang mereka sukai.

4. Sistem Imun Lebih Kuat dari Sapi

Kebal Penyakit Endemik: Pemilik Berkah Wafa Farm menyatakan bahwa unta jauh lebih tahan terhadap serangan penyakit tropis dibandingkan sapi. Mereka memiliki imunitas alami yang tinggi terhadap infeksi virus musiman seperti PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) maupun LSD (Lumpy Skin Disease).

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner