:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8598442/original/004955100_1782571048-Kedai_Lokalti.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Di tengah menjamurnya kedai kopi dan tren minuman kekinian, sebuah kedai kecil di Jalan Damai, Banteng, Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, justru mengambil jalan yang berbeda. Di lokasi yang bernama Kedai Lokalti ini justru memilih fokus mengenalkan teh dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus mengajak masyarakat memahami bahwa setiap teh memiliki karakter rasa, aroma, dan cerita yang berbeda.
Bagi pendirinya, Arga (40), minum teh telah menjadi bagian dari budaya klasik lokal yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sayangnya, kebiasaan menikmati teh perlahan mulai bergeser, terutama di kalangan anak muda yang kini lebih akrab dengan kopi atau minuman kekinian lainnya.
Berangkat dari sana, Lokalti hadir dengan konsep yang tidak biasa. Selain menyajikan berbagai jenis teh Nusantara, kedai ini juga berusaha menjadi ruang belajar yang memperkenalkan cara menikmati teh dengan lebih mendalam.
"Kami memang ingin menjadi tempat orang mengenal teh lebih jauh. Jadi orang-orang itu bisa memahami karakter dan kekayaan teh yang ada di Indonesia. Lokalti juga terinspirasi dari Filosofi Kopi dan kalau kopi itu bisa, kenapa teh nggak," ujar Arga saat bercerita kepada Liputan6 di kedai yang berlokasi utara Yogyakarta itu, Jumat (26/6).
Berawal dari Kecintaan pada Teh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8598485/original/077940900_1782571122-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_20.53.07.jpeg)
Perbesar
Lokalti lahir dari kegemaran Arga terhadap dunia teh yang selama ini belum banyak mendapat perhatian dibanding kopi. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan teh yang luar biasa, tetapi belum banyak dikenal masyarakat.
Selama bertahun-tahun, Arga mempelajari berbagai jenis teh dari sejumlah daerah. Ia menemukan bahwa setiap wilayah memiliki karakter rasa yang berbeda, mulai dari aroma yang kuat, rasa yang ringan hingga sensasi sepat yang menjadi ciri khas teh tertentu.
Pengalaman tersebut lantas membuatnya ingin menghadirkan tempat yang bisa menjadi jembatan untuk masyarakat bisa benar-benar mengenal karakteristik rasanya. Dari situlah muncul gagasan mendirikan Lokalti, dengan menempatkan teh sebagai menu utama yang layak dinikmati cita rasanya.
"Ini karena saya ingin membuat teh yang ideal, yang harumnya dapat, sepatnya dapat dan pekatnya juga ada. Jadi bukan teh yang asal jadi lalu diminum, karena saat ini banyak sajian di teh di Jogja ini yang memang asal jadi, jadi karakter khasnya hilang," kata Arga.
Mengenalkan Teh Nusantara dari Berbagai Daerah Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8598476/original/079381000_1782571112-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_20.54.44.jpeg)
Perbesar
Salah satu keunikan Lokalti terletak pada ragam teh yang disajikan. Pengunjung dapat menemukan berbagai jenis teh dari sejumlah daerah dengan karakter yang berbeda-beda, mulai dari Teh Kampul Solo, Teh Jahe, Teh Secang, Teh Kayu Manis, Teh Rempah, Teh Bunga Telang, Teh Sangrai, Teh Dieng Asam dan spesial mix yang bisa dipilih sendiri oleh konsumen.
Tak sampai di sana, Lokalti juga menghadirkan menu teh signature yang mengandung cerita mulai dari Lik Yadi dengan karakter yang pahit dan sedikit sensasi mani, Mbak Winarsih yang lembut dan ringan, Loro A Tea yang pahit dan pekat sampai Spesial Solo yang dioplos dengan berbagai merek.
“Termasuk kami juga ada seasonal teh, seperti Tembi Merah yang ini teh hitam, dan Putri Minang yang asalnya dari Teh Sumatera, dengan rasa harum, pekat dan sedikit manis. Dan total kami punya lebih dari 50 varian,” sebut Arga
Baginya, tidak ada satu jenis teh yang bisa disukai semua orang. Karena itu, Lokalti ingin menghadirkan berbagai pilihan rasa yang para pelanggannya bisa memilih sendiri preferensinya, menjelajahi sendiri berbagai rasanya serta menemukan jenis teh yang paling sesuai dengan selera mereka.
"Kami percaya tidak ada satu jenis teh yang disukai semua orang. Karena itu kami mencoba menghadirkan banyak karakter rasa, mulai dari yang ringan sampai yang lebih pekat, sesuai karakter asli tehnya," ujar Arga.
Menjaga Budaya Ngeteh di Tengah Gempuran Kedai Kopi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8598469/original/096249800_1782571098-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_20.54.27.jpeg)
Perbesar
Tantangan terbesar yang dihadapi Lokalti saat ini adalah mengenalkannya kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Menurut Arga, banyak anak muda yang masih menganggap teh sebagai minuman tradisional yang kurang menarik dibanding kopi. Padahal, teh memiliki kekayaan rasa dan budaya yang tidak kalah besar.
Karena itu, Lokalti aktif membuat berbagai konten edukasi mengenai teh. Arga bahkan rutin mengunjungi sejumlah tempat yang dikenal memiliki tradisi teh kuat di Yogyakarta, dan Soloraya untuk mempelajari sekaligus memperkenalkan budaya ngeteh kepada masyarakat. Dari sana, dirinya berharap akan semakin banyak anak muda yang tertarik mengenal teh dan memahami bahwa minuman ini memiliki nilai budaya yang panjang di Indonesia.
"Tantangan terbesar kami memang mengenalkan teh kepada anak muda. Banyak yang masih menganggap teh sebagai minuman kuno. Karena itu kami mencoba mendekatinya lewat edukasi dan konten-konten yang lebih dekat dengan mereka," kata Arga.
Tempat Ngeteh Paling Betul dengan Suasana yang Tenang dan Edukatif
Selain banyaknya varian, kedai Lokalti turut menawarkan pengalaman menikmati teh dengan suasana yang tenang dan syahdu. Kedai ini dirancang dengan dinding kayu dan bambu, serta sorot lampu oranye sendu yang nyaman untuk berbincang, membaca, atau mengerjakan tugas sambil menikmati secangkir teh.
Setiap pelanggan yang datang dapat bertanya langsung kepada barista mengenai karakter teh yang tersedia. Mereka juga bisa mendapatkan rekomendasi berdasarkan selera masing-masing, mulai dari yang manis, ringan, hingga yang memiliki rasa sepat yang kuat. Pendekatan inilah yang membuat Lokalti berbeda dan berani mengusung slogan sebagai "Tempat Ngeteh Paling Betul".
"Kami memang membranding Lokalti sebagai tempatnya ngeteh dari berbagai daerah di Indonesia, dengan fokus tidak ke satu output rasa saja, tetapi kita bisa ke banyak rasa, seperti apa sepatnya, harumnya dan pekatnya dari masing-masing karakter tehnya," ujar Arga.
Pengunjung Mengaku Mendapat Pengalaman Baru Saat Menikmati Teh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8598466/original/075808800_1782571084-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_20.03.24__1_.jpeg)
Perbesar
Konsep yang diusung Lokalti mendapat respons positif dari para pengunjung. Salah satunya datang adalah Laila, mahasiswa asal Boyolali yang pertama kali mengetahui Lokalti secara tidak sengaja ketika mencari tempat untuk bersantai.
Awalnya ia hanya melewati kedai tersebut saat hendak menuju kafe lain yang ternyata penuh. Namun suasana Lokalti yang terlihat hangat membuatnya memutuskan untuk mampir dan mencoba berbagai menu yang tersedia.
Menurut Laila, hal yang paling menarik adalah pengalaman belajar tentang teh yang diberikan oleh para barista. Ia mengaku baru mengetahui bahwa setiap jenis teh memiliki karakter dan cara penyajian yang berbeda.
Selain itu, nama-nama menu yang unik membuatnya semakin penasaran untuk mengenal konsep yang diusung kedai tersebut.
"Pas buka menu saya sempat bingung karena isinya teh semua. Tapi kemudian dijelaskan oleh baristanya soal karakter rasa setiap teh. Menurut saya itu menarik karena ada edukasinya, bukan hanya jual minuman saja," kata Laila.
Laila juga menilai Lokalti berhasil menjaga identitasnya sehingga memiliki ciri khas yang berbeda dibanding tempat lain.
"Menurut saya Lokalti ini menarik karena makanan dan minumannya punya cerita sendiri. Tempatnya juga nyaman, tehnya enak, dan ada pengalaman yang tidak saya temukan di tempat lain," ujar mahasiswa jurusan Psikologi tersebut.
Ramah untuk Pencinta Teh Maupun yang Baru Mengenal Teh
Kesan serupa juga dirasakan Albar, pengunjung asal Merauke yang baru pertama kali datang ke Lokalti. Ia mengaku awalnya tidak terlalu memahami dunia teh, namun tetap bisa menikmati pengalaman yang ditawarkan.
Menurutnya, para barista dengan sabar menjelaskan karakter setiap jenis teh sehingga pengunjung yang awam pun dapat menentukan pilihan yang sesuai dengan selera mereka. Dari sana, Albar lantas mencoba Teh Kampul Solo dan mengaku terkejut dengan cita rasa yang dihasilkan. Baginya, rasa teh yang disajikan terasa otentik dan berbeda dari yang biasa ia temui.
"Ternyata rasanya ramah untuk orang yang belum begitu paham teh. Baristanya juga sangat membantu menjelaskan karakter teh yang tersedia," kata Albar.
"Suasananya tenang, nyaman, dan cocok untuk mengerjakan tugas. Saya pesan Teh Kampul Solo dan rasanya kuat serta sangat berkesan," tambahnya.
Dukungan QRIS BRI Membantu Lokalti Melayani Pelanggan Secara Mudah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8598450/original/010730700_1782571062-Lokalti.jpg)
Perbesar
Di balik perkembangan Lokalti, ada dukungan teknologi pembayaran yang membantu operasional usaha berjalan lebih praktis. Salah satunya melalui penggunaan QRIS BRI yang mulai digunakan sejak 2021.
Menurut Arga, kehadiran QRIS BRI memberikan kemudahan baik bagi pelaku usaha maupun pelanggan. Karena saat ini, mayoritas pengunjung lebih memilih transaksi non-tunai sehingga sistem pembayaran digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Bahkan, sekitar 70 hingga 80 persen transaksi di Lokalti dilakukan menggunakan QRIS BRI. Selain memudahkan pelanggan, sistem tersebut juga membantu pencatatan transaksi menjadi lebih rapi dan mudah dipantau.
"Sekarang sebagian besar pelanggan membayar menggunakan QRIS dari BRI. Buat kami ini sangat membantu karena transaksi jadi lebih mudah, lebih cepat, dan pencatatannya juga lebih jelas," ujar Arga.
Bagi Arga, dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu Lokalti terus berkembang sambil menjalankan misinya mengenalkan budaya minum teh kepada masyarakat yang lebih luas.
Ke depan, Arga berharap gerakan yang dibangun Lokalti dapat menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia. Ia ingin semakin banyak masyarakat yang mengenal kekayaan teh Nusantara dan menjadikan budaya ngeteh sebagai bagian dari keseharian mereka.
"Harapannya Lokalti bisa hadir di lebih banyak kota dan semakin banyak orang yang mengenal teh Indonesia. Karena menurut kami, kekayaan teh Nusantara layak untuk terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya," tutupnya.

16 hours ago
7
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8649752/original/031346000_1782662878-aefec4de-b4c8-415c-a15d-25a823fbb470.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8642352/original/072868900_1782649108-71277.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8641589/original/092984400_1782647808-10e4033f-bf08-4f8e-b76f-0d1b6004b620.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8640705/original/030979500_1782646410-71801.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8641059/original/019273200_1782647009-1001406028.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8636308/original/044477100_1782637482-c07f200e-82f6-4196-b375-d456b9a1c8a5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1654015/original/074968000_1500528960-bayialkoholcov.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8633439/original/058458400_1782632879-WhatsApp_Image_2026-06-28_at_14.30.10__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578371/original/031366500_1782536755-66045.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8595965/original/015846800_1782566608-Mojah_Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8605479/original/031298500_1782583231-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_20.56.44__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8600200/original/078457800_1782574564-1000199487.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8596754/original/000578600_1782568091-prol_tape5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3281497/original/094550300_1603955124-037192400_1552637059-098603900_1476093234-Oknum_Polisi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8591353/original/019866100_1782558892-1000391435.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8595539/original/069700400_1782565975-68166.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8582466/original/006601800_1782543427-373266.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8582163/original/087147300_1782542874-1000038709.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8575369/original/002002200_1782532439-1001401188.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534028/original/002692300_1773806214-TKP_pria_di_Pringsewu__Lampung_ditemukan_tewas_gantung_diri_di_rumah_tunangannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/817544/original/014199200_1424873064-ilustrasi-begal-motor-5-150225.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522956/original/076087900_1772782406-WhatsApp_Image_2026-03-06_at_13.49.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535084/original/074686700_1773912505-kebakaran_sukabumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508796/original/004578600_1771600299-247987.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4294815/original/095852200_1674030831-IMG-20220605-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534545/original/007615900_1773836670-1002515232.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/930874/original/077594600_1437123186-MENENTUKAN_HILAL_1_SYAWAL-TIM_RUKYATUL_HILAL-KEMBANGAN-JAKARTA-HELMI_AFFANDI-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520014/original/055995200_1772604244-1001765701.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515114/original/004720200_1772161679-Petugas_mengevakuasi_potongan_tubuh_dari_Pantai_Ketewel_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533918/original/016565000_1773797149-20241222_120249.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533839/original/016596600_1773786483-57daaf38-d451-4234-8d6c-64db664b446c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534426/original/056870900_1773823094-IMG-20260318-WA0004.jpg)