Cerita Arni Merintis Batik Serabut Kelapa hingga Menjadi Kelas Wisata Edukasi dengan Dukungan BRI

10 hours ago 3

Meski usahanya terus berkembang, Arni mengaku tantangan terbesarnya justru datang dari sisi pengelolaan bisnis. Sebagai seseorang yang berasal dari dunia seni, ia masih terus belajar memahami manajemen keuangan, pemasaran, hingga pengelolaan sumber daya manusia.

"Aku masih belajar memisahkan keuangan pribadi dengan usaha. Marketing juga masih terus belajar karena ternyata tidak mudah buat orang seni memahami bisnis."

Keinginan untuk meningkatkan kapasitas tersebut membawanya bergabung dengan Rumah BUMN BRI Yogyakarta pada 2022.Melalui program inkubasi selama tiga bulan, Arni mendapat berbagai pelatihan untuk mengembangkan usahanya. Salah satu yang paling berkesan adalah pelatihan desain fesyen.

Meski berlatar belakang seni kerajinan, ia memperoleh banyak wawasan baru mengenai proses mendesain pakaian, menerapkan motif batik pada busana, hingga memahami karakter bentuk tubuh agar desain yang dihasilkan lebih proporsional.

"Basic-ku bukan tata busana. Setelah ikut pelatihan, aku jadi tahu langkah-langkah mendesain baju dengan benar. Narasumbernya juga benar-benar praktisi, jadi ilmunya langsung bisa diterapkan."

Sebagai penutup program, para peserta menampilkan hasil karyanya dalam sebuah fashion show. Pengalaman tersebut membuat Arni semakin percaya diri mengembangkan produknya ke arah fesyen.

Tak berhenti di situ, Rumah BUMN BRI Yogyakarta juga membuka kesempatan baginya untuk mengikuti berbagai pelatihan, memperluas jaringan, dan berkolaborasi dengan sesama pelaku UMKM.

"Yang aku suka, pelatihannya bukan cuma teori. Kami langsung praktik dan menghasilkan karya yang bisa dibawa pulang. Gratis lagi, jadi benar-benar membantu UMKM belajar."

Mengambil KUR BRI untuk Kembangkan Usaha

Untuk memperluas usahanya, Arni memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada 2023. Ia memperoleh pinjaman sebesar Rp30 juta dengan tenor empat tahun. Baginya, akses pembiayaan tersebut menjadi modal untuk terus mengembangkan usaha batik yang telah dirintisnya.

"Aku pilih KUR BRI karena prosesnya gampang." ungkapnya. 

Kini, meski masih memproduksi batik untuk kebutuhan pameran maupun pesanan khusus, arah usahanya semakin berfokus pada kelas membatik. Menurut Arni, minat masyarakat terhadap aktivitas ini terus meningkat seiring berkembangnya tren experiential tourism, di mana wisatawan tidak hanya ingin membawa pulang oleh-oleh, tetapi juga pengalaman.

"Kalau dulu orang ke Jogja cuma cari batik untuk dibeli. Sekarang mereka juga ingin merasakan pengalaman membuat batik."

Bagi Arni, batik telah memberikan lebih dari sekadar penghasilan. Keterampilannya membatik membawanya berkeliling ke berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri. Dari setiap perjalanan, ia bertemu orang-orang baru, membangun relasi, dan memperluas jaringan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Gara-gara batik aku bisa travelling, ketemu banyak orang, nambah saudara. Itu bonus yang menyenangkan."

Batik telah membawanya melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Namun, masih ada satu tempat yang paling ingin ia kunjungi yaitu, Tanah Suci. Wanita berhijab ini berharap bisa menunaikan ibadah umrah dari hasil kerja keras yang ia bangun melalui usaha batiknya.

"Aku pengen suatu saat bisa umrah dari hasil usaha ini." pungkas Arni. 

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner