Liputan6.com, Jakarta - Ketika batik menjadi unggulan industri fashion berbasis budaya Indonesia, pasangan suami istri Angga dan Naren justru memilih jalan yang berbeda. Mereka melihat potensi tersembunyi pada lurik, sebagai tenun khas Yogyakarta, yang selama ini belum mendapat perhatian serta sering dianggap ketinggalan zaman.
Keputusan tersebut tidak lahir dari perhitungan bisnis semata. Keduanya justru melihat lurik sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi, namun belum banyak merambah ke kebutuhan fashion masyarakat modern. Dari kegelisahan itu kemudian lahir brand ready to wear bernama Kalu Indonesia, dengan keunggulan produk berbasis lurik yang cocok untuk semua kalangan.
Perjalanan keduanya dimulai sejak 2011 lalu, dan tidak selalu berjalan mulus. Mereka harus menghadapi keraguan pasar, termasuk jatuh bangun bertahan di tengah pandemi. Namun, berkat kolaborasi yang kuat sebagai pasangan hidup sekaligus partner bisnis, Angga dan Naren mampu membuat Kalu Indonesia bisa berkembang dan berhasil menjangkau konsumen dari berbagai daerah di Indonesia.
"Kami memang ingin menjadikan Kalu sebagai tempat untuk orang bisa menemukan produk-produk berbasis lurik yang nyaman dipakai, modern, dan tetap memiliki identitas budaya yang kuat," ujar Angga kepada Liputan6.com, saat bercerita di gerainya, Jalan Tunjung Baru No.B-8, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (23/6).
Berawal dari Ketertarikan pada Lurik yang Belum Banyak Dilirik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8476406/original/062369600_1782387114-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_21.55.31__1_.jpeg)
Perbesar
Awal mula usaha ini tidak terlepas dari rasa penasaran keduanya akan kain lurik. Terlebih saat itu, Naren sempat mengenal lurik dari majalah fashion dan seorang teman yang menjual kain tenun. Dari situlah ia mereka mengetahui bahwa Yogyakarta memiliki kekayaan wastra otentik selain batik.
Pada masa itu, hampir seluruh perhatian masyarakat tertuju pada batik. Lurik belum banyak dibahas, bahkan masih identik dengan pakaian tradisional yang dianggap kurang menarik. Meski demikian, kondisi tersebut justru membuat pasangan ini melihat peluang yang tidak sama dengan produk fashion lokal lainnya.
Mereka lantas mempelajari karakter lurik, mencari perajin, hingga mencoba memahami bagaimana kain tersebut bisa diterima oleh pasar yang lebih luas. Namun perjalanan itu tidak mudah karena mereka juga harus meyakinkan konsumen bahwa lurik tetap bisa tampil menarik dan cocok dipakai di era sekarang.
"Ketika tahun 2009 itu batik kan diakui sebagai warisan dunia UNESCO, dan semuanya kemudian menjadi tentang batik. Nah, kami mencoba mencari diferensiasi melalui tenun lurik, dan memang perjalanan ini tidak mudah karena jenis kain ini belum banyak dikenal dan lurik ini identiknya masih kuno, masih satu model, masih panas juga bahannya, bertekstur kasar, tidak seperti batik," kata Naren.
Saling Menjadi Rekan Bisnis yang Kompak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8476400/original/099121500_1782387104-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_21.55.31.jpeg)
Perbesar
Di balik perkembangan Kalu Indonesia, terdapat kerja sama yang dibangun antara Angga dan Naren selama lebih dari satu dekade. Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi justru saling melengkapi dalam mengembangkan usaha.
Angga diketahui merupakan lulusan di bidang komunikasi dan periklanan, sementara Naren berasal dari latar belakang studi ekonomi. Perbedaan tersebut justru membantu mereka membagi peran sekaligus mengambil keputusan secara bersama-sama.
Dalam operasional usaha, Naren lebih banyak mengelola lini busana siap pakai, sedangkan Angga fokus pada pengembangan produk tas dan kebutuhan korporasi. Meski demikian, berbagai inovasi tetap dibahas bersama karena mereka ingin setiap produk memiliki identitas yang sama.
"Saya sama istri mencoba menjalankan Kalu Indonesia ini sebagai satu tim yang kuat. Kebetulan kami punya latar belakang yang berbeda sehingga bisa saling melengkapi dalam membesarkan usaha ini," ujar Angga.
Bertahan saat Pandemi dan Mengandalkan Kekuatan Digital
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475973/original/093122800_1782386548-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_21.55.29.jpeg)
Perbesar
Tantangan besar datang ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Saat itu, galeri fisik Kalu Indonesia di kawasan Baciro, Yogyakarta, itu baru dibuka beberapa bulan sebelum pandemi terjadi. Situasi tersebut sempat membuat Angga dan Naren khawatir. Namun pengalaman menjalankan usaha secara online sejak awal berdiri menjadi modal penting untuk bertahan.
Sebelum memiliki toko fisik, Kalu Indonesia memang memasarkan produknya melalui berbagai platform digital. Mereka memanfaatkan Facebook, website, strategi SEO hingga media sosial untuk menjangkau konsumen dari berbagai daerah. Saat aktivitas offline menurun drastis, kanal digital yang telah dibangun selama bertahun-tahun itu kemudian bisa menopang usaha tetap berjalan dan melayani konsumen.
"Sebelum punya galeri, kami memang full bermain di online. Karena itu ketika pandemi datang, kami masih bisa beradaptasi untuk melayani konsumen melalui kanal digital yang sudah kami bangun sejak awal. Kan ada website ya, lalu media sosial juga," kata Angga.
Mengubah Lurik Menjadi Produk Fashion yang Kekinian dan Modern
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8476364/original/058510500_1782387070-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_21.55.30.jpeg)
Perbesar
Seiring waktu, Kalu Indonesia mulai menemukan identitas yang membedakannya dari pelaku usaha lain. Mereka mulai percaya diri mengenalkan busana lurik, melalui aneka produk yang dirancang agar mudah digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa di antaranya, outer, blus, kemeja, celana, hingga tas.
Pada kategori produk tas, Kalu Indonesia menghadirkan tas laptop, tas kanvas, tas multifungsi, serta berbagai produk yang menggabungkan lurik dengan bahan kulit, kanvas, maupun tenun dari daerah lain seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kalu juga dikenal melalui konsep produk yang fungsional. Beberapa tas dapat digunakan dalam lebih dari satu cara, sementara busananya juga dirancang reversible sehingga bisa dibolak-balik modelnya, namun tetap nyaman dikenakan oleh berbagai kelompok usia.
“Tentunya, kami juga terus berusaha untuk berinovasi, termasuk dengan mendesain baju atau outer yang reversible, jadi satu baju atau tas itu dipakainya tidak hanya satu sisi saja. Tetapi, dia juga bisa dibolak-balik,” terang Angga, menambahkan.
Untuk produk busana, harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 500.000. Produk dibuat menggunakan linen dan lurik premium yang nyaman dipakai, tidak panas, tidak mudah luntur, dan tetap mempertahankan karakter wastra Nusantara.
Konsumen Kalu Hadir dari Kalangan Muda hingga Usia 60 Tahun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8476422/original/044699400_1782387126-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_21.55.32.jpeg)
Perbesar
Hal yang membuat Naren cukup terkejut adalah semakin luasnya rentang usia konsumen Kalu Indonesia. Jika awalnya mereka membayangkan pasar utama berada pada kelompok usia dewasa, kenyataannya tak sedikit anak muda hingga pelanggan berusia lanjut yang menyukai produk mereka.
Untuk menjangkau konsumen muda, Kalu Indonesia menghadirkan berbagai koleksi dengan desain yang lebih sederhana dan mudah dipadukan dengan berbagai gaya berpakaian. Salah satunya melalui lini youth series yang dibuat dengan warna-warna yang cocok untuk dikenakan keseharian seperti kemeja, celana, kaus dengan unsur lurik dan wastra sampai outer.
Di sisi lain, pelanggan yang lebih dewasa justru tertarik pada karakter lurik dan tenun. Perpaduan antara unsur tradisional dan desain modern membuat produk mereka diterima oleh berbagai generasi.
"Kami cukup terkejut karena ternyata banyak juga konsumen usia 60 tahun ke atas yang datang. Di sisi lain, anak-anak muda juga mulai tertarik dengan produk-produk lurik yang kami buat. Untuk itu, saya buat juga modelnya dengan sentuhan hitam yang menurut saya lebih timeless dan related bagi konsumen kami," kata Naren.
Diburu Konsumen dari Luar Kota
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8477113/original/030117200_1782387989-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_21.55.33.jpeg)
Perbesar
Inovasi yang dilakukan Angga dan Naren juga mendapat apresiasi dari pelanggan. Salah satunya, Melia Kusuma atau Eli, konsumen asal Tegal, Jawa Tengah, yang telah lama mengenal Kalu Indonesia melalui kanal media sosial dan pameran Inacraft.
Saat berkunjung ke Yogyakarta, Eli sengaja menyempatkan diri datang ke galeri Kalu Indonesia untuk melihat langsung berbagai koleksi yang selama ini berseliweran secara online. Menurutnya, produk-produk di sana memiliki karakter berbeda dan tidak terlihat kuno dibanding produk sejenis melalui perpaduan lurik, tenun, linen, maupun kanvas.
"Saya suka dengan produk Kalu karena unik-unik. Ada tas, ada busana, dan menurut saya karakteristiknya Indonesia banget. Mereka punya ciri khas penggabungan wastra yang berbeda dibanding produk-produk lain," kata Eli.
Menurutnya, salah satu kekuatan Kalu Indonesia adalah kemampuannya menghadirkan produk yang tetap menampilkan identitas budaya Indonesia, tetapi dikemas dalam bentuk yang modern dan mudah diterima masyarakat termasuk dirinya.
"Saya memang suka dengan Kalu karena produk-produknya menampilkan ke-Indonesiaan sekali. Tetapi bentuknya dibuat modern, jadi tidak terlihat kuno dan justru menarik untuk dipakai sehari-hari," ujarnya.
Dukungan BRI Membantu Kalu Indonesia Menjangkau Pasar yang Lebih Luas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475956/original/086201600_1782386527-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_21.55.28.jpeg)
Perbesar
Perjalanan Kalu Indonesia berkembang semakin luas setelah menjalin kerja sama dengan BRI melalui Rumah BUMN Yogyakarta. Di sana, produk Kalu dipajang selama beberapa bulan sehingga dapat menjangkau lebih banyak konsumen.
Kerja sama tersebut tidak hanya membuka akses pemasaran, tetapi juga menghadirkan peluang bisnis baru. Kalu Indonesia lantas mendapat kesempatan untuk memenuhi kebutuhan pesanan produk korporasi dari BRI. Selain itu, BRI turut mendukung promosi melalui fasilitas potongan harga bagi konsumen Kalu yang menggunakan rekening maupun QRIS BRI.
“Kami ada promo potongan harga sampai 5 persen, buat konsumen Kalu Indonesia yang memakai kartu debit dan QRIS BRI dengan minimal berbelanja Rp 250.000. Tetapi saat ini promo tersebut masih hanya berlaku di acara Pekan Raya Jakarta (PRJ),” kata Angga.
Bagi Angga dan Naren, dukungan tersebut menjadi salah satu dorongan untuk terus mengembangkan inovasi berbasis wastra Indonesia dan memperkenalkan lurik kepada pasar yang lebih luas.
"Goals kami adalah menjadikan Kalu sebagai salah satu hidden gems fashion di Jogja. Ketika orang mencari lurik, kami berharap Kalu menjadi salah satu yang langsung mereka ingat," kata Naren.
"Kalau visi besarnya, kami ingin Kalu menjadi industri kreatif yang besar melalui berbagai kreasi tenun dan wastra Indonesia," tutup Angga.

16 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8544485/original/094134900_1782484986-373095.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8542402/original/032194800_1782480495-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_18.43.12.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8541541/original/033897800_1782479168-IMG-20260626-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8539369/original/002649100_1782475547-IMG-20250205-WA0013.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8538740/original/099129700_1782474550-Taufik_Hidayat_pelaku_penganiayaan_dan_penyekapan_pacar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8538442/original/072038400_1782474186-373200.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8538039/original/070862000_1782473518-801644.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8537421/original/027321500_1782472600-373107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8351567/original/029284200_1782225485-taufik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8530328/original/010901600_1782462526-57946.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8530156/original/001422200_1782462250-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_3.19.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8531760/original/017034600_1782464726-IMG-20260626-WA0069.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8531148/original/078090900_1782463732-IMG-20260626-WA0005.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8529703/original/046100700_1782461662-1001398751.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8528786/original/061172800_1782460439-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_1.49.51_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261130/original/021934100_1781683856-1000857162.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257914/original/034238900_1781261992-kapal_meledak_aceh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8446024/original/018118400_1782340487-Wanita_meninggal_dalam_mobil_di_parkiran_Bandara_Juanda.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515159/original/013988600_1772163544-Penemuan_potongan_tubuh_di_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513879/original/091814800_1772074967-Potongan_video_WN_Ukraina_diduga_diculik_di_Bali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534028/original/002692300_1773806214-TKP_pria_di_Pringsewu__Lampung_ditemukan_tewas_gantung_diri_di_rumah_tunangannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506177/original/056520100_1771409863-Screenshot_2026-02-18-16-35-53-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/817544/original/014199200_1424873064-ilustrasi-begal-motor-5-150225.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535084/original/074686700_1773912505-kebakaran_sukabumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522956/original/076087900_1772782406-WhatsApp_Image_2026-03-06_at_13.49.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534545/original/007615900_1773836670-1002515232.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4294815/original/095852200_1674030831-IMG-20220605-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520014/original/055995200_1772604244-1001765701.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533918/original/016565000_1773797149-20241222_120249.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/930874/original/077594600_1437123186-MENENTUKAN_HILAL_1_SYAWAL-TIM_RUKYATUL_HILAL-KEMBANGAN-JAKARTA-HELMI_AFFANDI-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508796/original/004578600_1771600299-247987.jpg)