Dirintis Sejak 2016, LUSEE Tembus Pasar Internasional dengan Berdayakan Pengrajin Tas Lokal

7 hours ago 5

Liputan6.com, Yogyakarta - Melintasi Jalan Tino Sidin, Kadipiro, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pengendara dapat melihat plang bertuliskan “LUSEE” di sisi kanan jalan. LUSEE merupakan usaha kerajinan yang memproduksi tas-tas unik buatan tangan. Tak hanya dipasarkan secara online, produk LUSEE juga dapat dilihat secara langsung dengan mengunjungi toko mereka.

Lusiana Widi Hastari (50) merupakan owner LUSEE yang telah merintis usaha kerajinan tangan sejak tahun 2016. Setelah hampir satu dekade berdiri, LUSEE berhasil memperluas pasar hingga ke mancanegara.

Ditemui di tokonya pada Jumat (26/6/2026), Lusi menceritakan tentang perjalanan usahanya. Berawal dari kerja kantoran di bank, Lusi kemudian memutuskan beralih menekuni bisnis karena memiliki ketertarikan pada dunia fashion.

"Tapi memang dari dulu saya suka namanya fashion. Dan saya mulainya bukan dari tas malahan, tapi jualan baju batik," kata Lusi mengawali ceritanya.

Dari Bisnis Baju Batik hingga Merintis Usaha Tas Kerajinan

Ketika masih bekerja di bank, Lusi menjalankan bisnis bajunya pada waktu sore hari. Setelah cukup lama dijalani, Lusi merasa bisnis tersebut sulit untuk dilanjutkan karena dirinya kurang telaten dalam menentukan ukuran atau size baju yang sesuai untuk para calon pembeli.

"Tapi kenapa saya enggak lanjutin baju, karena saya enggak telaten karena ada sizenya," kata Lusi.

Hingga akhirnya, Lusi bertemu dengan seorang nasabah yang memiliki bisnis tas. Memiliki ketertarikan pada dunia fashion, Lusi kemudian mencoba membeli beberapa produk tas untuk dibawa ke kantor dan ditawarkan kepada rekan-rekannya. Tak disangka, tas-tas tersebut mendapat respons positif dan berhasil terjual.

"Saya coba beli waktu itu. Oke deh yang ready. Saya senang. Saya beli lima model. Saya bawa ke kantor, kok laku," cerita Lusi mengingat momen kala itu.

Setelah penjualan pertamanya laku keras, Lusi mulai sering membeli produk tas dari nasabah tersebut dan menjualnya kembali. Melihat peluang yang semakin besar, Lusi kemudian diajak oleh kakaknya untuk membawa produk tersebut dan berjualan di pameran Inacraft.

"Saya cuma bawa sekitar 25 pcs, karena saya nggak ngerti laku atau nggak. Eh hari kedua saya dapat laporan dari kakak saya, eh tas saya habis," kata Lusi.

Dilirik Pembeli Asal Spanyol

Satu minggu setelah sang kakak pulang dari pameran, Lusi mendapatkan email dari salah satu pengunjung pameran yang merupakan orang Spanyol. Orang tersebut mengatakan bahwa ia tertarik dengan produk Lusi dan sudah sempat memotret beberapa tas anyaman kulit dan tas batik milik Lusi.

Dalam pesan email tersebut, orang asal Spanyol itu menanyakan harga tas beserta jumlah minimal pemesanan. Meski merupakan lulusan Manajemen Bisnis Internasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta angkatan 1993, Lusi mengaku tetap merasa bingung ketika tiba-tiba menerima email dari calon pembeli asal luar negeri.

"Saya tanya sama salah satu teman saya yang kebetulan dia dosen di UGM. Ini bisa nggak, kalau quotation itu contohnya apa. Ini tak kasih contohnya. Kamu tinggal copy paste dan ganti fotonya sama ID-nya gitu," kata Lusi.

Baru pertama kali mendapatkan pesanan dari orang luar negeri, Lusi tak terlalu paham menentukan harga untuk pasar internasional. Namun, di luar dugaan, harga yang ditawarkan ternyata diterima oleh calon pembeli tersebut.

Ketika disebutkan bahwa minimal pesanan harus lima model tas dengan masing-masing tas adalah sekitar 15-20 pcs, calon pembeli asal Spanyol tersebut langsung menerima tanpa pikir panjang.

"Dia langsung order. Saya langsung ngomong, sebuah kontrak yang menurut saya itu sangat tidak menguntungkan buat dia, selain dia yang harus mengurus biaya kirim, saya minta DP 50%. Kenapa? kalau dia nggak jadi, saya nggak rugi kan. Saya cuma memikirnya se-simple itu," kata Lusi.

Setelah menerima pembayaran untuk 200 pcs pesanan, Lusi langsung menghubungi pengrajin tas yang merupakan nasabahnya. Sejak saat itu, pesanan dari pembeli asal Spanyol tersebut terus berdatangan, bahkan jumlah pesanannya pernah mencapai hingga 800 pcs.

"Bayangin mbak, saya sampai merinding. Aku mau ini, ini, ini (kata orang Spanyol). 800 pcs. Dan itu dari 2016 sampai berhenti hanya covid. Tapi setelah covid, dia ordernya nggak sebanyak itu. Terakhir itu 2024, dia order hanya 200 pcs," kenang Lusi.

Ciptakan Relasi Baru dengan Perajin dan Penjahit yang Ditemui

Bekerja di bank membuat Lusi bertemu dengan banyak nasabah dari berbagai latar belakang. Hingga akhirnya, Lusi mengenal salah satu nasabah yang berprofesi sebagai penjahit. Dari penjahit tersebut, Lusi kemudian bertemu dengan beberapa penganyam handal.

"Dia kasih list saya penganyam, banyak banget. Saya datangin semua satu-satu mbak. Akhirnya saya ketemu penganyam. Buk buatin saya longsong. Dalam artian longsong itu belum jadi tas, belum finishing. Tapi modelnya saya," cerita Lusi.

Lusi tak menyangka ia berada di titik saat ini. Sembari mencoba berbisnis kerajinan tas dengan berkolaborasi dengan beberapa penganyam dan perajin, Lusi tetap melayani pembelinya asal Spanyol itu.

"Saya tipikalnya let it flow aja. Sambil ngelayani yang si Spanyol ini. Saya coba bagaimana, sebenarnya nggak mengira kalau akhirnya saya tiba di sini itu saya nggak ngira," cerita Lusi.

Seiring berjalannya waktu, jumlah pengrajin yang bekerja sama dengan Lusi semakin berkembang. Bahkan ia juga bertemu dengan perajin baru yang bisa menganyam dari material lain seperti rotan hingga agel.

Sistem yang dibangun Lusi kemudian membuka lebih banyak peluang pekerjaan bagi para pengrajin untuk ikut terlibat dalam proses produksi.

"Jadi circle-nya jadi kayak gini, yang nganyam bikin longsong. Saya udah punya penjahitnya, saya tinggal ngambilin. Yang penjahit, dia bisa finishing. Bukan cuma jahit, tapi bisa untuk finishing sampai jadi. Saya tinggal angkat itu longsong ke bapaknya yang jahit. Sekarang ceritanya kayak gitu, udah itu jadi suatu sistem yang baru," kata Lusi.

Bahan baku produk Lusi saat ini berfokus pada material kulit. Bahan baku yang digunakan adalah kulit sapi nabati dari Yogyakarta dan serat alam dari Pasuruan dan Yogyakarta.

"Kenapa kulit, karena pertama kali produk yang saya jual. Itu sih gak kepikiran apa-apa karena saya, waktu ibunya itu jualan kulit. Ya sudah kulit aja. Tapi memang dia spesialisasinya kulit nabati," jelasnya.

Untuk pengrajin kulit, saat ini Lusi telah bekerja sama dengan 11 pengrajin yang tersebar di wilayah Kota Yogyakarta, Bantul, hingga Kulon Progo. Sementara itu, dalam proses produksi jahitan, Lusi dibantu oleh dua orang penjahit.

"Kalau pengerajinnya itu sekitar 11. 11 itu yang kulit. Kalau yang rafia itu, gak terlalu banyak, kalau ini tiga. Penjahit dua. Tersebar di Jogja, Kulonprogo, Bantul. Sleman ada sih, tapi gak banyak. Bantul yang banyak," kata Lusi.

Mendapatkan Undangan Pameran ke New York

Cerita perjalanan usaha Lusi terus mengalir hingga sampai pada cerita bahwa ia mendapatkan tawaran kurasi produk untuk pameran di KJRI New York, Amerika Serikat dari Dinas Perdagangan DIY pada tahun 2017.

"Nggak tahu kenapa kantor dinas Jogja itu ngasih undangan ke saya. Mbak Lusi, besok pagi ada kurasi pameran ke New York," kata Lusi ketika mendapatkan informasi kurasi produk pameran di New York.

Tanpa persiapan yang matang, Lusi tetap datang dengan membawa sekitar empat atau lima tas. Selain tas, Lusi membawa hanya membawa kartu nama. Lusi mengungkapkan jika kala itu ia sempat minder karena persiapannya jauh berbeda dengan peserta yang lain.

"Bawa tas kayaknya 5 atau 4 gitu, sama yang saya tenteng. Saya cuma punya kartu nama sama tas," kenang Lusi.

Tiga hari setelah mengikuti kurasi tersebut, LUSEE mendapatkan email dari KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) yang merupakan sponsor dari acara tersebut. Dari sekitar 400-500 UMKM yang mengikuti kurasi hanya untuk daerah Yogyakarta, LUSEE menjadi salah satu yang mendapatkan email tersebut.

"3 hari kemudian saya dapet email dari KJRI yang sponsornya ini. Selamat Ibu lolos sebagai salah satu kandidat yang akan mengikuti tahap berikutnya. Itu hanya dipilih sekitar 20 atau 15 ya, saya lupa," certia Lusi.

Lusi melanjutkan cerita tentang proses selanjutnya yang ia jalani saat itu. Setelah lolos 20 besar, Lusi kemudian diharuskan untuk membuat website untuk dapat lolos. Tak disangka, Lusi lolos tahap 5 besar dan akhirnya menjadi UMKM terpilih yang berangkat ke New York.

"3 hari kemudian dapet email. Hanya ada email. Akhirnya dipilih cuma 5, disaring cuma 5, saya salah satunya. Udahnya wawancara. Dan yang terakhir saya yang kepilih," kata Lusi.

Mulai Ikut BRILIanpreneur dan Berbagai Pameran

Setelah lolos kurasi untuk pameran di New York, LUSEE semakin dikenal. Lusi kemudian ditawari oleh temannya untuk mengikuti binaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan ikut pameran BRILianpreneur sekitar empat kali.

"Saya ikut BRI. Saya diajak BRILianpreneur, itu sampai berapa kali ya. Berkali-kali lah," kata Lusi.

BRILianpreneur adalah ajang tahunan yang digelar BRI untuk memperkenalkan produk-produk unggulan UMKM Indonesia ke pasar global. Selain menjadi sarana promosi, program ini juga memfasilitasi pertemuan bisnis (business matching) antara pelaku UMKM dan pembeli internasional guna membuka peluang ekspor.

Perlahan, berbagai tawaran mulai berdatangan hingga membuat Lusi semakin berani untuk mengikuti pameran Inacraft. Pebisnis asal Yogyakarta ini terus mengembangkan usahanya dengan menjalin kerja sama bersama banyak perajin agar dapat menghadirkan inovasi baru.

"Beberapa tawaran datang. Saya berani ikut Inacraft. Terus sampai detik ini, semuanya masih berjalan dan saya coba terus mengembangkan dengan cara, semakin banyak perajin yang tergabung. Karena saya ingin biar, kan model itu kan cepat ya dia running-nya (perubahannya). Saya coba biar nggak tergantung dengan satu perajin," cerita Lusi.

Sebelum mengikuti program BRILianpreneur, Lusi terlebih dahulu bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jogja sejak 2018. Ia mengetahui program tersebut dari informasi yang diberikan oleh kerabatnya.

"Itu pertama kali saya jadi binaan BRI 2018 itu, dari BRI," kata Lusi.

Rumah BUMN BRI Jogja berfungsi sebagai wadah bagi pelaku UMKM untuk memperoleh pembinaan dan pengembangan kapasitas melalui berbagai program pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi akses pasar. Lusi merupakan salah satu pelaku usaha yang merasakan manfaatnya.

Lusi memulai bisnis dari langkah sederhana, yaitu membeli tas untuk dijual kembali kepada teman-teman kantornya. Kini usahanya terus berkembang, dengan omzet mencapai Rp 50 juta dan membuka peluang kerja bagi 11 pengrajin di Yogyakarta.

Rebranding Menjadi LUSEE

Cerita kemudian berlanjut tentang nama brand. Lusi mengungkapkan bahwa nama LUSEE baru digunakan dalam menjalankan usahanya sejak sekitar dua tahun terakhir, tepatnya mulai 2024. Sebelumnya, usaha tas yang ia jalankan menggunakan nama Gracia Bag.

"Gracia oke sih tapi tidak se-oke ketika saya ganti LUSEE. LUSEE baru 2 tahun mbak, 2024 apa ya. Itu karena Gracia saya daftarkan di HAKI, selama 2 tahun di pending," cerita Lusi.

Lusi sempat mengajutkan banding, namun kemudian pengajuan pendaftaran brand tersebut ditolak. Setelah penolakan tersebut, kemudian pihak HAKI menyarankan untuk mengganti nama produk. Penolakannya dikarenakan di Italia sudah ada nama serupa. Meski berbeda, namun pelafalannya sama dengan Gracia.

Kinerja Keuangan Kokoh, Likuiditas dan Permodalan BRI Terjaga di Level Memadai

Melansir unggahan Instagram BRI pada 21 Mei 2026, BRI terus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat di tengah dinamika ekonomi global. Hingga Triwulan I 2026, kinerja keuangan BRI menunjukkan kondisi yang tetap kuat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,7%, Cost of Fund (CoF) sebesar 2,3%, serta Current Account Savings Account (CASA) sebesar 68,1%.

Capaian tersebut mencerminkan pengelolaan likuiditas dan struktur pendanaan BRI yang semakin optimal. Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 22,90%, berada jauh di atas ketentuan regulator.

Kondisi tersebut memperkuat kapasitas BRI dalam mendukung pertumbuhan kredit secara prudent, khususnya melalui penyaluran pembiayaan pada sektor produktif dan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner