MBG Disajikan Prasmanan, Cara Unik SDN di Sukabumi Tumbuhkan Budaya Antre

10 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Ada pemandangan menarik dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) di SDN Tegal Sadang, Desa Bantarsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Tidak seperti biasanya, ratusan siswa tampak berbaris rapi dan sabar mengular untuk menyantap makan siang yang disajikan secara prasmanan.

Langkah ini dilakukan oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Bantarsari Pabuaran untuk memberikan pengalaman baru bagi para siswa.

Jika biasanya makanan datang dalam kemasan kotak siap santap, kali ini siswa diajak untuk berinteraksi langsung dengan hidangan yang tersedia.

Kepala SPPG Bantarsari Pabuaran, Yadi, mengungkapkan bahwa inovasi ini bertujuan untuk mengubah cara pandang siswa sekaligus menghilangkan kejenuhan terhadap rutinitas harian di sekolah.

"Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami menanamkan nilai kebersamaan, sekaligus mendukung pemenuhan gizi anak sejak dini. Dengan dikemas secara menarik seperti ini, kami berharap para siswa semakin semangat untuk datang ke sekolah dan belajar," ujar Yadi, Selasa (31/3/2026).

Selain menambah asupan gizi, konsep prasmanan ini ternyata menjadi ruang bagi siswa untuk belajar karakter.

Menurut Yadi, momen ini melatih anak-anak untuk bersabar menunggu giliran dan disiplin dalam antrean.

Para siswa disuguhi menu bergizi mulai dari nasi, ayam goreng, tumis brokoli, hingga tempe bacem bumbu kuning.

Meski proses pengambilan makanan memakan waktu lebih dari satu jam melewati batas waktu istirahat ideal, antusiasme para siswa tetap tinggi.

"Melalui prasmanan, anak-anak secara tidak langsung belajar tentang karakter. Mereka berlatih sabar menunggu giliran, belajar disiplin dalam antrean, hingga menumbuhkan rasa berbagi dengan sesama teman," tambah Yadi.

Kegembiraan terpancar jelas dari wajah-wajah siswa saat melihat jajaran menu sehat yang tersaji. Antusiasme yang jujur ini menjadi bukti bahwa program pemerintah tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya di lapangan.

"Kami melihat respons siswa sangat hangat. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh di sana. Meski harus antre, mereka melakukannya dengan senang hati, bukan karena terpaksa," pungkasnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner