Sejarah Rutan Serang, Pernah Jadi 'Rumah' Bagi Para Pejuang Melawan Belanda

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Serang, memiliki catatan sejarah panjang. Penjara yang berusia 146 tahun itu, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, tepatnya pada 1885. Dahulu dihuni oleh warga pribumi yang menunjukkan semangat nasionalisme mereka, namun dianggap sebagai pemberontak oleh penjajah kala itu.

Berdiri diatas lahan 13.998 meter persegi, Rutan Kelas IIB Serang yang terdiri dari 18 kamar dan ditambah 4 sel, kini telah berubah, meski statusnya tetap sebagai penjara.

Jika dahulu dengan segala keterbatasan, bangunan bersejarah dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya itu terus berbenah, agar bisa layak dihuni oleh sekitar 400an Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), dari berbagai kasus hukum.

"Di dalam Rutan Kelas IIB Serang, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga tetap menjalani berbagai kegiatan setiap hari. Mulai dari menjaga kesehatan, belajar, hingga tetap berhubungan dengan keluarga," ujar Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas IIB Serang Chika Panji Ardiansyah, Senin (20/4/2026).

Pria yang akan dimutasikan sebagai Kepala Seksi Perawatan Narapidana Lapas Kelas 1 Cipinang, Jakarta ini bercerita bahwa, bangunan tersebut pada zaman Belanda berstatus sebagai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Lokasinya berdekatan dengan bangunan sejarah lainnya, yakni Pendopo Bupati Serang dan Gedung Negara Provinsi Banten, semuanya peninggalan kolonialisme Belanda.

Karena pernah difungsikan sebagai penjara kaum pribumi saat kolonialisme Belanda, oleh pemerintah Indonesia dilanjutkan sebagai bangunan Rutan. Untuk menunjang kegiatan pembinaan WBP, medio 1995, dibangun gedung tambahan, berupa perkantoran.

"Salah satu kegiatan yang paling dinanti adalah wartelsus. Lewat fasilitas ini, warga binaan bisa menelepon keluarga dan orang terdekat. Setiap pagi juga rutin berolahraga, ada yang senam, jalan santai, atau sekadar bergerak bersama di area rutan. Ada juga kegiatan pembinaan kepribadian seperti pengajian, ceramah, dan belajar hal-hal positif," terangnya.

Saat masuk ke dalam gedung Rutan Kelas IIB Serang, keaslian bangunan peninggalan Belanda masih bisa terlihat. Seperti pintu kayu besar, teralis maupun pintu penjagaan yang masih asli berusia ratusan tahun.

Sedangkan di bagian belakang, sejumlah rumah dinas yang ditempati oleh pejabat Rutan Kelas IIB Serang, seakan membawa kembali ke zaman perjuangan kemerdekaan dahulu.

Lahan yang terbatas di sekitar Rutan Kelas IIB Serang juga dimanfaatkan untuk menanam cabai rawit, sawi, memelihara ikan, hingga membangun dapur untuk makan para WBP.

"Untuk bekal ke depan, warga binaan juga belajar membuat kerajinan, memasak, berkebun, bertani, beternak dan keterampilan lainnya. Suasana paling ramai biasanya saat jam kunjungan. Dapur rutan juga selalu sibuk setiap hari, dengan tetap menjaga kebersihan dan gizi. Kesehatan warga binaan juga diperhatikan, pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin," pungkasnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner