Permukiman Baru Kawasi Jadi Model Hunian Inklusif dan Berkelanjutan di Maluku Utara

5 hours ago 6

Liputan6.com, Maluku Utara - Peluncuran program pembangunan dan rehabilitasi 1.200 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada 2026 menandai perhatian yang semakin besar pada kualitas hunian masyarakat. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperkuat kesejahteraan warga melalui lingkungan tinggal yang lebih aman, sehat, dan layak.

Gambaran tentang bagaimana visi tersebut dapat diwujudkan juga terlihat dari berbagai inisiatif lain di tingkat daerah, salah satunya pengembangan permukiman baru di Desa Kawasi yang digagas Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dengan dukungan Harita Nickel, sebagai contoh pendekatan kolaboratif dalam menghadirkan permukiman yang menunjang tumbuh kembang generasi berikutnya.

Pembangunan Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi di Pulau Obi dinilai telah memenuhi parameter kota modern yang ideal. Dosen Teknik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Rais D. Hi. Yusuf menyebut kawasan Permukiman Baru Kawasi telah mengimplementasikan tiga prinsip utama kota inklusif, yaitu livable (layak huni), smart (pintar), dan sustainable (berkelanjutan).

Menurut Rais, sebuah kota inklusif harus memberikan akses pelayanan publik dan kesempatan ekonomi yang setara bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang.

"Permukiman Baru Desa Kawasi dirancang dengan pendekatan human-centered design, di mana pembangunan infrastruktur dasar, fasilitas sosial, hingga layanan publik difokuskan sepenuhnya pada kebutuhan dan kesejahteraan manusia," ungkapnya.

Pemanfaatan limbah industri

Salah satu aspek teknis yang menonjol dalam pembangunan ini adalah pemanfaatan limbah industri berupa slag nikel sebagai pengganti agregat kasar dalam campuran beton. Rais menjelaskan penggunaan slag nikel dari fasilitas pemurnian Harita Nickel di Pulau Obi merupakan langkah nyata menuju industri konstruksi yang ramah lingkungan. Material ini ketika diaplikasi pada hunian permanen dan jalan lingkungan, menjadikannya struktur kokoh dan tahan guncangan.

"Slag nikel memiliki partikel sudut yang padat dan kandungan kimia seperti silika serta kapur yang mendukung proses hidrasi semen. Hasilnya, beton yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik, lebih tahan lama, dan secara signifikan mengurangi ketergantungan pada agregat alami," jelas Magister Urban Design Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Dari sisi tata ruang, Rais menyoroti penerapan konsep mixed-use and diverse city di Permukiman Baru Desa Kawasi. Konsep ini menggabungkan berbagai fungsi kegiatan meliputi tempat tinggal, area komersial, fasilitas publik, hingga ruang terbuka hijau dalam satu kawasan yang terintegrasi.

Ia menambahkan, berdasarkan aspek dan kriteria dari ketentuan Kementerian Pekerjaan Umum Nomor 2 Tahun 2016, Permukiman Baru Kawasi telah memenuhi kriteria Eco-Settlement (Permukiman Ekologis).

"Kawasan Kawasi bukan sekadar permukiman biasa, melainkan contoh konkret bagaimana aspek sosial, ekonomi, dan ekologi diseimbangkan. Ini bisa menjadi benchmark dalam perencanaan dan perancangan kawasan permukiman kota di wilayah lain, terutama di lingkar industri," pungkas Rais.

Pemukiman Baru Kawasi

Penjabaran Rais selaku akademisi sejalan dengan apa yang dirasakan oleh warga yang telah menghuni Pemukiman Baru Kawasi. Salah satunya adalah Yunince, yang mengatakan permukiman baru menghadirkan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman dibandingkan tempat tinggal sebelumnya.

“Kalau hujan tidak becek, kalau panas tidak berdebu, Di sini listrik dan air 24 jam penuh. Kami juga pakai pendingin ruangan (AC) di sini,” sebut Yunince.

Hal serupa disampaikan Nur Eneng Rahmat (33), yang merasakan perubahan besar dalam kenyaman dan ketenangan di Pemukiman Baru Kawasi. Tak hanya itu, Nur Eneng mengatakan di Pemukiman Baru terbuka peluang ekonomi bagi warga. Seperti dirinya sendiri yang mengelola usaha penjualan sembako dan sayur.

“Omzet harian saya mencapai Rp1-2 juta. Di Pemukiman Baru Kawasi peluang ekonomi bagi saya terbuka lebar. Hidup di sini juga lebih tertata, bertemu tetangga lebih sering, kegiatan keagamaan juga aktif,” ujarnya.

Di Obi, perubahan kualitas rumah perlahan mengubah cara masyarakat memandang masa depan. Lingkungan yang lebih tertata memberi ruang bagi interaksi sosial yang lebih sehat, sementara fasilitas dasar yang memadai membantu keluarga menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner