4 Jam Diperiksa, Keluarga Dokter Icha Serahkan Bukti Baru

4 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Penyidik Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA-PPO) Polda Nusa Tenggara Timur memeriksa ayah, ibu, dan kekasih mendiang dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha. Pemeriksaan berlangsung selama sekitar empat jam, Jumat (10/7/2026) di ruang Subdit I Perempuan Mapolda NTT.

Pemeriksaan dimulai pukul 10.30 Wita, sempat dihentikan untuk istirahat makan siang sekitar pukul 14.10 Wita, lalu dilanjutkan hingga selesai. Ketiga saksi ini didampingi tim kuasa hukum keluarga yaitu Victor Emanuel Manbait, Cony Tiluata, dan Arif Rahman.

Kuasa hukum keluarga, Victor Manbait, menjelaskan pemeriksaan ini sebagai tindak lanjut laporan dugaan intimidasi yang dilayangkan keluarga ke SPKT Polda NTT pada 3 Juli lalu. Selain memberikan keterangan, pihak keluarga juga menyerahkan sejumlah bukti tambahan seperti surat keterangan medis terkait perawatan dan pengobatan yang pernah dijalani almarhumah.

"Sekarang mereka bertiga sudah selesai memberikan keterangan sebagai saksi. Adik-adik almarhumah yang juga dipanggil belum diperiksa hari ini dan akan dijadwalkan kembali di waktu mendatang," jelas Victor.

Penyidik menanyakan berbagai hal terkait kondisi psikologis korban sebelum berpulang, kronologi peristiwa di IGD RS Leona Kefamenanu, serta dampak intimidasi yang dialami korban terhadap kehidupan sehari-hari.

Hasil pemeriksaan ini nantinya akan digabungkan dengan keterangan saksi lain serta bukti yang sudah dikumpulkan penyidik guna memperkuat berkas perkara terhadap empat terlapor: tiga anggota DPRD TTU dan satu ASN dokter hewan di Dinas Peternakan TTU.

Curhat Terakhir Dokter Icha

Ibunda dokter Icha, Nur Azizah, menceritakan kembali percakapan terakhir dengan putrinya terkait peristiwa yang disebut sebagai intimidasi. Dokter Icha diduga diintimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu.

Dengan suara bergetar dan tak kuasa menahan tangis, Nur Azizah mengaku masih mengingat jelas curahan hati anaknya saat menghubungi dirinya melalui telepon.

"Saya ingat anak saya menelepon, menangis, menjerit, mengatakan 'Mama, saat ini saya sedang diintimidasi oleh anggota dewan. Saat ini saya capai loh, Mama," katanya.

Dalam sambungan telepon itu juga, dokter Icha berujar telah bekerja seuai SOP tenaha kesehatan.

"Saya sudah bekerja sesuai SOP, bahkan saya paham SOP dan saya langsung konsultasi dengan dokter ahli bisa ular yang ada di Indonesia satu-satunya, yaitu dokter Maharani, tetapi ternyata beliau-beliau mungkin merasa lebih hebat. Seharusnya SOP itu tidak dipegang sembarang orang. Ini SOP pelayanan kesehatan yang berhak memegang adalah yang menjalankan teknisnya, tenaga kesehatan, bukan beliau-beliau yang berkuasa," sambung Nur Azizah menirukan suara anaknya.

Nur Azizah mengatakan cerita tersebut menjadi kenangan yang terus membekas dalam ingatannya. Menurutnya, putrinya telah berupaya menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP) yang berlaku serta berkonsultasi dengan dokter yang memiliki kompetensi di bidang penanganan bisa ular.

Diduga Diintimidasi Anggota DPRD

Sebelum meninggal dunia, dokter Icha diduga mengalami intimidasi saat bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu ketika menangani seorang pasien anak korban gigitan ular berbisa.

Paman almarhumah, Victor Manbait, menyatakan seluruh tindakan medis yang dilakukan dokter Icha telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit serta arahan dokter spesialis yang menangani kasus gigitan ular.

Namun, menurut keluarga, situasi memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang dinilai belum direkomendasikan secara medis dan tidak tersedia di rumah sakit.

Victor mengatakan dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dokter Icha saat meminta penjelasan.

Menurut Victor, peristiwa tersebut meninggalkan trauma dan tekanan psikologis yang mendalam bagi almarhumah.

"Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," ujar Victor.

Anggota DPRD Bantah Intimidasi

Dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap dokter Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.

Therensius mengakui sempat berbicara dengan nada tinggi karena situasi saat itu berlangsung dalam kondisi panik. Namun dia menegaskan hal tersebut bukan merupakan bentuk intimidasi.

Sementara itu, Norbertus menyatakan dirinya bersama Therensius hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien. Setelah memperoleh penjelasan dari dokter, keduanya mengaku menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, dan tenaga kesehatan yang sedang bertugas.

Di sisi lain, anggota DPRD TTU Veronika Lake juga memberikan klarifikasi terkait namanya yang dikaitkan dengan peristiwa di RS Leona Kefamenanu pada 13 Juni 2026.

Veronika menegaskan kehadirannya di rumah sakit bukan merupakan kunjungan yang direncanakan, melainkan hanya ikut singgah bersama rombongan anggota DPRD untuk menjenguk pasien korban gigitan ular berbisa.

Dia mengaku baru memasuki ruang perawatan setelah melihat perdebatan antara dua anggota DPRD dan seorang dokter telah berlangsung. Menurutnya, dirinya hanya menanyakan perkembangan penanganan pasien dan standar pelayanan rumah sakit.

Veronika juga meluruskan pernyataannya yang sempat menjadi sorotan, yakni "panggil wartawan saja". Menurutnya, ucapan tersebut dimaksudkan sebagai usulan agar pelayanan rumah sakit mendapat perhatian publik demi evaluasi dan perbaikan, bukan ditujukan kepada dr. Icha secara pribadi.

Dia menambahkan persoalan tersebut telah diselesaikan melalui penjelasan manajemen rumah sakit, sementara dua anggota DPRD yang terlibat juga telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak rumah sakit dan dokter Icha.

Veronika menyatakan menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan siap memberikan keterangan apabila diminta penyidik. Dia juga kembali menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhumah.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner