Ratusan Hektare Sawit Ilegal Menggerogoti Jantung Leuser

6 hours ago 4

Harapan itu nyata dan berbau menyengat. Di antara semak belukar dan batang-batang kelapa sawit yang baru saja ditumbangkan di Resort Tenggulun, tumpukan kotoran gajah Sumatera tampak berserakan.

Bagi tim pemulihan ekosistem, kotoran tersebut bukan sekadar limbah, melainkan 'surat cinta' dari alam yang menandakan bahwa para penghuni asli Leuser belum pergi jauh. Mereka sedang menanti rumah mereka dikembalikan.

Resort Tenggulun merupakan bagian dari blok timur bentang alam Leuser yang memiliki nilai konservasi sangat tinggi.

Wilayah ini merupakan ruang jelajah bagi empat satwa kunci yang kini statusnya kian terancam punah, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Orangutan Sumatera (Pongo abelii)

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Serta satwa pelengkap ekosistem seperti owa, siamang, dan gibbon (Hylobatidae).

“Tadi kita juga banyak melihat kotoran gajah memang berserakan di wilayah ini, tanda sebagai bukti bahwa ini adalah habitat satwa kunci. Oleh karena itu penting sekali untuk memulihkan, tidak hanya sebagai rumah satwa, tapi juga sebagai benteng pertahanan untuk menjaga kita,” beber Panut.

Pemulihan kawasan TNGL bukan sekadar urusan menyelamatkan satwa liar, melainkan urusan menyambung hidup jutaan manusia di hilir. Kawasan Tenggulun yang sempat dibabat menjadi kebun sawit ilegal merupakan daerah tangkapan air dan hulu dari sejumlah aliran sungai besar yang mengalir ke Kabupaten Aceh Tamiang.

Panut mengingatkan memori kelam pada November 2025 lalu, saat Aceh Tamiang dihantam banjir bandang dahsyat akibat rusaknya kawasan tangkapan air di hulu.

“Tamiang adalah daerah yang terparah mendapatkan bencana tahun lalu. Sehingga miliaran, bahkan triliunan rupiah itu hilang akibat kerusakan infrastruktur dan juga kehilangan berbagai sumber mata pencaharian masyarakat serta tempat tinggal. Ini (Tenggulun) adalah hulunya,” tegas Panut.

Proses restorasi ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 5 tahun. Melalui kolaborasi antara Balai Besar TNGL, Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera, YOSL/OIC, dan GJI, sebuah skema berkelanjutan dibangun.

Tim mendirikan pondok penjagaan dan melibatkan masyarakat lokal secara aktif mulai dari proses pembibitan, penanaman pohon hutan, hingga patroli pengamanan kawasan agar para perambah tidak kembali datang.

Andoko menambahkan, TNGL memiliki luas total sekitar 830 ribu hektare, di mana 205 ribu hektare berada di wilayah Sumatera Utara khususnya Kabupaten Langkatdan sisanya membentang di Provinsi Aceh. Bentang alam raksasa ini menjadi penopang hidup bagi sedikitnya 2,4 juta penduduk yang bergantung pada pasokan air bersihnya.

"Penumbangan sawit hanyalah tahap awal. Selanjutnya kawasan akan direstorasi agar fungsi hutan kembali pulih dan dapat terus memberikan manfaat bagi satwa maupun masyarakat," pungkas Andoko.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner