Bertahan 28 Tahun di Tengah Gempuran Tempat Makan Modern, Kantin Indhie Tetap Jadi Obat Kangen Mahasiswa Perantauan

15 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Tidak banyak tempat makan yang mampu bertahan selama puluhan tahun di kawasan kampus, di tengah dominasi rumah makan modern, kafe, hingga berbagai tren kuliner kekinian. Namun, tantangan tersebut rupanya mampu dilalui Kantin Indhie, yang hingga sekarang masih setia melayani pelanggan di kawasan Jalan Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Rumah makan yang berdiri sejak 1998 itu masih tetap mempertahankan identitasnya dengan aneka pilihan masakan rumahan melalui sistem prasmanan yang membuat para pelanggan mahasiswa bisa mengambil makanan sesuai kebutuhan mereka.

Sang pemilik, Indinah Wardani (50), mengaku, cukup sulit mempertahankan usaha kedai makannya selama hampir tiga dekade itu. Menurutnya, tren makan ala mahasiswa, perkembangan zaman serta bertumbuhnya berbagai tempat makan baru sempat membuat dirinya bersusah payah mempertahankannya. Meski begitu, ketika Kantin Indhie bisa beradaptasi, salah satunya menggunakan pembayaran digital dari BRI, yang populer di masa sekarang.

"Dari awal berdiri tahun 1998 sampai sekarang, kami memang mempertahankan konsep prasmanan. Mahasiswa bisa mengambil nasi dan lauk sesuai kebutuhannya masing-masing," ujar Indinah Wardani, saat ditemui Liputan6.com di kedainya, Sabtu (27/6) siang.

Berawal dari Keinginan Menyediakan Tempat Makan yang Dekat dengan Mahasiswa

Indinah bukanlah warga asli Yogyakarta. Ia berasal dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dan pertama kali datang ke Kota Pelajar saat menempuh pendidikan di IKIP Yogyakarta yang kini menjadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Setelah sempat bekerja di Jakarta, ia kembali ke Yogyakarta dan memilih membuka usaha di kawasan yang dekat dengan lingkungan kampus Universitas Islam Indonesia (UII).

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Sejak awal, Indinah melihat mahasiswa sebagai kelompok yang membutuhkan tempat makan terjangkau dengan porsi yang bisa disesuaikan keinginan makan mereka. Dari pemikiran itulah lahir konsep prasmanan yang hingga kini menjadi identitas Kantin Indhie.

Nama "kantin" pun sengaja dipilih agar terasa akrab bagi mahasiswa. Konsep tersebut terbukti bertahan melewati berbagai generasi mahasiswa yang datang silih berganti selama hampir tiga dekade. Baginya, kepuasan pelanggan selalu menjadi tujuan utama. Ia mengaku merasa senang ketika mahasiswa bisa makan dengan kenyang tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

"Saya senang kalau mahasiswa yang makan di sini merasa puas. Mereka bisa mengambil sendiri sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing," katanya.

Salah satu alasan Kantin Indhie mampu bertahan hingga sekarang adalah konsistensinya menyajikan menu rumahan yang akrab di lidah pelanggan. Setiap hari tersedia berbagai pilihan sayur seperti aneka lodeh, sop, tumisan, oseng-oseng, hingga berbagai lauk olahan ikan, telur serta ayam terus berganti.

Selain ayam goreng dan ikan, salah satu menu yang cukup dikenal adalah ayam tepung katsu yang sudah dijual sejak tahun-tahun awal berdirinya Kantin Indhie. Saat itu, menu ayam fillet tepung katsu belum banyak ditemukan di tempat makan sekitar kampus. Namun Indinah sudah lebih dulu memperkenalkannya kepada pelanggan.

Meski tren kuliner terus berubah, Kantin Indhie memilih tetap mempertahankan karakter menu rumahan. Menurut Indinah, banyak mahasiswa perantauan yang datang karena ingin menikmati masakan yang mengingatkan mereka pada rumah.

Harga yang ditawarkan juga tetap dijaga agar sesuai dengan kantong mahasiswa. Seporsi nasi, ayam katsu, sayur, dan minuman bahkan masih bisa dinikmati dengan harga sekitar Rp 15.000 saja.

"Kalau ada mahasiswa yang kangen rumah atau kangen masakan rumahan, tinggal datang dan makan di sini. Harganya juga sangat menyesuaikan dengan kantong mahasiswa dengan konsep ambil nasi sendiri," ujar Indinah.

Bertahan di Tengah Persaingan yang Terus Bertambah

Perjalanan selama 28 tahun tentu tidak selalu mudah. Indinah mengakui bahwa jumlah tempat makan di sekitar kampus terus bertambah dari waktu ke waktu. Pilihan mahasiswa juga semakin beragam dibandingkan saat Kantin Indhie pertama kali berdiri.

Kondisi tersebut membuatnya harus terus menjaga kualitas layanan dan rasa makanan. Ia memilih mendengarkan masukan pelanggan serta memperbaiki berbagai kekurangan yang ditemukan selama menjalankan usaha.

Selain itu, kualitas bahan baku dan cita rasa masakan juga dijaga agar pelanggan tetap mendapatkan pengalaman yang sama meskipun sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan setia. Beruntung, dirinya dibantu oleh sang adik, sehingga usahanya bisa berjalan hingga sekarang.

"Kalau ada yang komplain soal rasa atau pelayanan, pasti kami terima dan kami perbaiki. Yang penting pelanggan puas dan tetap mau makan di sini," katanya.

Menjadi Tempat Pulang bagi Mahasiswa Perantauan

Bagi sebagian pelanggan, Kantin Indhie bisa menjadi “tempat” untuk pulang. Suasana yang sederhana dan menu rumahan yang beragam, justru menjadi alasan mereka kembali datang.

Salah satunya dirasakan Bara, mahasiswa asal Majalengka, Jawa Barat yang pertama kali mengetahui Kantin Indhie saat mencari tempat sarapan di kawasan Jalan Kaliurang. Awalnya ia tertarik karena melihat tulisan "Sejak 1998" yang terpampang di lokasi usaha.

Menurutnya, usia usaha yang hampir tiga dekade menjadi bukti bahwa Kantin Indhie memiliki sesuatu yang membuat pelanggan terus kembali. Dirinya juga mengaku menyukai konsep prasmanan yang mengingatkannya pada suasana makan di rumah bersama keluarga.

"Sudah hampir 30 tahun kok masih bisa bertahan, padahal banyak saingannya. Rasanya sama harganya cocok buat saya. Ini juga sedikit mengobati rasa kangen rumah karena di rumah juga ngambil makan sendiri seperti di sini," kata Bara, yang merupakan mahasiswa Instiper, jurusan Kehutanan.

Kesan serupa dirasakan Alex, mahasiswa UGM jurusan Sastra Arab asal Klaten. Menurutnya, menu yang tersedia terasa seperti masakan ibu di rumah sehingga membuatnya nyaman sebagai mahasiswa perantauan.

"Kalau dari rasa, masuk banget di saya. Jadi kayak masakan ibu di rumah. Kan saya ngekos di sini, jadi pas makan di sini rasanya ingat rumah," ujar Alex.

Ketika Kantin Legendaris Harus Mengikuti Kebiasaan Baru Anak Muda

Meski mempertahankan cita rasa lama, Kantin Indhie menyadari bahwa kebiasaan konsumen terus berubah. Salah satu perubahan paling terasa adalah cara mahasiswa melakukan pembayaran.

Jika dahulu hampir seluruh transaksi dilakukan menggunakan uang tunai, kini sebagian besar pelanggan lebih memilih menggunakan ponsel untuk bertransaksi. Perubahan tersebut membuat Indinah mulai mempertimbangkan penggunaan pembayaran digital.

Keputusan menggunakan QRIS dari Bank BRI bermula dari banyaknya mahasiswa yang menanyakan apakah Kantin Indhie menerima pembayaran digital. Saat itu, belum tersedia QRIS sehingga beberapa pelanggan memilih mencari tempat makan lain yang sudah menyediakan metode pembayaran tersebut. Situasi itu menjadi pengingat bahwa usaha yang ingin bertahan harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelanggan.

"Waktu itu banyak yang tanya, 'Bu ada QRIS nggak?' Karena belum ada, ada yang akhirnya tidak jadi makan di sini. Saya pikir harus mengikuti kebutuhan zaman juga, akhirnya memilih pakai QRIS dari Bank BRI," kata Indinah.

QRIS BRI Membantu Kantin Indhie Bisa Beradaptasi Setelah 28 Tahun Berdiri

Bagi Kantin Indhie, QRIS BRI lebih dari sebuah alat pembayaran digital. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya usaha legendaris tersebut untuk tetap dekat dengan generasi mahasiswa masa kini.

Indinah mengaku penggunaan QRIS BRI membantu mempercepat transaksi sekaligus mempermudah pengelolaan usaha. Ia juga dapat memanfaatkan rekening yang terhubung untuk berbagai kebutuhan operasional seperti pembayaran bahan baku, listrik, BPJS hingga kebutuhan usaha lainnya.

Selain itu, Kantin Indhie turut menyediakan fasilitas WiFi gratis sehingga mahasiswa yang kehabisan kuota tetap dapat melakukan pembayaran melalui QRIS BRI. Langkah tersebut dilakukan agar pelanggan merasa nyaman dan tetap bisa bertransaksi dengan mudah.

Menurut Indinah, adaptasi tersebut membawa hasil positif. Setelah menggunakan QRIS BRI, omzet usaha meningkat sekitar 20 persen karena semakin banyak pelanggan yang merasa terbantu dengan kemudahan pembayaran digital.

"Sekarang mahasiswa cukup modal HP saja untuk bayar. Praktis dan cepat. Setelah pakai QRIS BRI juga ada peningkatan omzet sekitar 20 persen lebih. Jadi memang sangat membantu usaha kami," ujarnya.

Kemudahan itu juga dirasakan pelanggan. Bara mengaku lebih nyaman bertransaksi menggunakan QRIS karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar saat makan di luar.

"Tadi saya bayar pakai QRIS juga. Membantu banget karena saya tidak perlu ribet mengeluarkan uang tunai atau mencari dompet," kata Bara.

Setelah 28 tahun melayani mahasiswa, Kantin Indhie membuktikan bahwa mempertahankan cita rasa lama tidak berarti menolak perubahan. Dengan tetap menjaga menu rumahan sekaligus beradaptasi melalui QRIS BRI, rumah makan ini terus menjadi tempat yang dicari mahasiswa ketika rindu masakan rumah di perantauan.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner