Kisah Sukses Sambal Itheng Klaten, Berawal dari Kerinduan Anak Kuliah hingga Jadi Jadi Rezeki Hari Tua

16 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menjadi seorang pengusaha dituntut untuk selalu jeli melihat peluang, bahkan di tengah situasi sulit sekalipun. Hal inilah yang dibuktikan oleh Rini dan M Farhan Hidayat (23), pelaku UMKM asal Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lewat produk inovatifnya yang diberi label "Sambal Itheng", mereka sukses mengubah tantangan menjadi ladang bisnis yang menjanjikan berkat kejelian inovasi dan dukungan layanan serta pendampingan dari BRI.

Siapa sangka, bisnis kuliner sambal hitam khas Madura yang kini laris manis hingga ke luar daerah ini berawal dari sebuah ketidaksengajaan yang dipicu oleh rasa rindu anak kulineran. Farhan menceritakan bahwa sebelum fokus membesarkan usaha ini, keluarganya memulai segalanya dari kondisi ekonomi yang serba pas-pasan.

"Dulu Ibu cuma jualan sambal biasa, tapi ingin punya ciri khas. Nah, pas saya kuliah di Surabaya, saya sering cerita ke Ibu kalau pengen banget makan bebek bumbu hitam Madura. Tapi waktu itu terpaksa saya tahan karena kondisi ekonomi keluarga kami lagi pas-pasan. Ternyata, cerita saya itu bikin Ibu kepikiran sampai akhirnya beliau eksperimen sendiri bermodalkan searching di Google," kenang Farhan menceritakan awal mula perjalanannya saat diwawancarai oleh Liputan6.com di kediamannya.

Berawal dari Rasa Rindu Anak Kuliah di Surabaya

Keputusan sang ibu untuk melakukan eksperimen mandiri tersebut rupanya menjadi pengalaman baru yang penuh tantangan. Menariknya, proses uji coba rasa ini diwarnai dengan keterbatasan fisik dari sang ibu sendiri yang tidak bersahabat dengan makanan pedas.

"Iya, karena Ibu punya penyakit asam lambung dan tidak bisa makan pedas, akulah yang bertugas jadi tim pengetes rasanya. Begitu saya coba dan rasanya enak, langsung muncul ide untuk membawa sambal ini ke Surabaya buat dijual ke teman-teman kampus. Hitung-hitung buat bertahan hidup dan menambah uang saku kuliah," ungkap Farhan sembari tersenyum.

Pengalaman pertama memasarkan sambal ke teman-teman kuliah tersebut langsung membuka mata mereka mengenai potensi pasar yang justru lebih besar di luar daerah asal mereka.

"Alhamdulillah, teman-teman pada doyan. Uniknya, sambal Ibu ini justru laris di luar daerah dulu. Soalnya orang di kampung halaman (Klaten/Jawa Tengah) seleranya cenderung manis pedas, sedangkan Sambal Itheng produksi Ibu ini tipikal yang gurih, asin, dan rempahnya sangat kuat (nonjok)," terang Farhan.

Matangkan Konsep dan Kantongi Legalitas Usaha

Tidak mau setengah-setengah, strategi pemasaran yang awalnya digerakkan oleh Farhan dan sang ibu secara konvensional kini mulai merambah ke ranah yang lebih profesional seiring meningkatnya permintaan. Melihat respons pasar yang sangat baik, Sambal Itheng pun memantapkan niatnya untuk memperluas jangkauan ke ranah digital nasional melalui marketplace.

"Awalnya murni dari mulut ke mulut lewat teman-teman kuliah saya, ibu-ibu arisan, dan komunitas sekitar. Ibu juga mulai rajin ikut event pameran UMKM, plus menawarkan lewat grup WhatsApp," tuturnya.

"Untuk jualan online, baru-baru ini Ibu dibikinkan akun Instagram sama temannya dan baru mau mulai jalan. Rencananya ke depan, Ibu juga mau coba buka toko di Shopee biar jangkauan pasarnya bisa lebih luas lagi," kata Farhan dengan rasa optimis.

Untuk menjaga keterjangkauan produk, Sambal Itheng dikemas dengan ukuran dan harga yang sangat kompetitif untuk kantong masyarakat. Selain Sambel Itheng, varian lainnya yakni, sambel terasi, sambel bawang dan sambal ijo

"Harganya Rp30.000 untuk ukuran kemasan 150 gram. Sementara ini baru ada satu ukuran itu saja. Sambal ini praktis banget, bisa buat lauk langsung atau dibawa ke mana-mana. Terutama cocok banget buat pendamping makanan yang digoreng-goreng," jelas Farhan.

“Ada juga ini mas, sambel terasi, sambal bawang dan sambal ijo” lanjutnya.

Titik Balik hingga Visi Besar

Langkah ekspansi Sambal Itheng untuk naik kelas semakin nyata ketika sang owner, Ibu Rini mulai aktif mengikuti pembinaan. Momentum ini diakui menjadi titik balik terbesar bagi keberlanjutan bisnisnya.

"Titik baliknya pas saya ketemu Mbak Alin dan mulai aktif di komunitas UMKM, seperti Rumah BUMN Jogja. Dari situ saya langsung tersadar, kalau ikut orang atau kerja kantoran kan ada masa pensiunnya, ada masa expired-nya. Beda sama wiraswasta yang tidak ada purnatugasnya. Selama kita bisa jaga kualitas dan gigih, bisnis ini bakal menjanjikan banget buat pegangan hari tua," ungkap Ibu Rini dengan rasa syukur.

Visi besar tersebut turut diamini oleh Farhan yang optimistis bahwa diversifikasi produk akan membawa Sambal Itheng merangkul segmen konsumen yang jauh lebih luas lagi ke depannya.

"Ibu punya cita-cita ingin bikin kemasan saset biar produksinya cepat dan distribusinya bisa luas seperti sambal pabrikan, soalnya penikmat sambal kan dari semua kalangan. Ke depan, Ibu juga mau eksperimen bikin varian sambal hitam yang sudah ada potongan daging bebek dan ayam di dalamnya," pungkas Farhan menutup pembicaraan.

Rambah Pasar Nasional Lewat Pendampingan dan Permodalan BRI

Di balik kesuksesan operasional produk dan mentalitas usaha yang kian matang, Ibu Rini tidak menampik peran besar program Rumah BUMN (Ruby) besutan BRI yang senantiasa merangkul para pelaku usaha mikro tanpa pandang bulu.

"Wah, kalau dari sudut pandang saya, Rumah BUMN atau Ruby dari BRI itu bagus banget. Beliau-beliau di sana itu kalau membina enggak pilih-pilih. Prinsipnya, yang penting UMKM-nya mau bergerak dan maju, pasti dirangkul," sebutnya.

Dampak nyata dari ekosistem pembinaan tersebut dirasakan langsung pada perubahan pola pikir dan ketahanan mentalnya dalam menghadapi pasang surut dunia usaha.

"Terasa banget, dari yang benar-benar enggak PD, sekarang alhamdulillah jadi berani dan semakin mencintai produk sendiri. Sekarang mindset saya sudah terbentuk, mau orang bilang apa, pokoknya ini produk terbaik saya, ini punya saya. Perubahan mental itu saya dapat dari BUMN. Ditambah lagi, teman-teman sesama binaan di sana itu enggak pelit ilmu. Kami bisa saling sharing," tegasnya.

Tidak hanya sebatas suntikan motivasi dan ilmu bisnis, BRI juga hadir memberikan solusi finansial yang konkret. Fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI diakui menjadi motor penggerak utama permodalan Sambal Itheng sejak awal melangkah dari bawah.

"Betul. Selain jadi nasabah, KUR BRI itu bisa dibilang salah satu dewa penolong saya. Saya benar-benar memulai usaha ini dari bawah banget lewat modal sana. Sampai akhirnya sekarang usaha sambal saya sudah bisa berjalan perlahan dan mulai berkembang, ya berkat dukungan KUR itu," jelas Ibu Rini terbuka.

Cita Rasa Gurih Memikat Lidah Pelanggan Setia

Kekuatan cita rasa Sambal Itheng yang autentik rupanya benar-benar sukses mengikat loyalitas para konsumennya. Karakter rasa yang berani membuat banyak pembeli rela melakukan pemesanan berulang demi bisa menyantap sambal hitam ini sebagai pelengkap wajib hidangan harian mereka.

Hal tersebut diakui oleh Dimas, salah seorang pembeli yang mengaku sudah jatuh cinta pada suapan pertama sejak menemukan produk Sambal Itheng tersebut.

"Saya pribadi mengaku sangat suka dengan sambal tersebut. Rasanya gurih dan asin begitu terasa di lidah, beda dengan sambal kemasan pada umumnya," ungkap Dimas saat membagikan pengalamannya.

Bagi Dimas, ketepatan perpaduan bumbu rempahnya menjadikan sambal ini sebagai teman makan yang paling pas untuk berbagai variasi menu masakan rumah, terutama hidangan yang digoreng.

"Sambal ini cocok banget untuk menemani lauk ayam atau ikan biasanya. Rasanya langsung klop dan bikin nafsu makan nambah. Karena saking cocoknya, bahkan saya sudah 3 sampai 4 kali membeli produk ini," pungkas Dimas senang.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner