Nestapa Perajin Tempe di Tengah Kenaikan Harga Kedelai

9 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Konflik peperangan di Timur Tengah, turut memberikan dampak terhadap para perajin tempe. Bukan tanpa sebab, kedelai yang diimpor dari luar negeri mengalami kenaikan harga yang berimbas kepada mereka.

Liputan6.com mencoba mendatangi kediaman Suprapto, perajin tempe yang berada di wilayah Kelapa Dua Cimanggis, Depok. Suprapto sudah beberapa tahun menjadi memproduksi tempe dengan menyulap rumahnya sebagai tempat produksi makanan kegemaran masyarakat ini.

Suprapto dibantu keluarganya tengah disibukkan membuat olahan tempe yang akan dijual ke sejumlah pasar maupun warung sayur langganannya. Papan bambu dan sejumlah rak menjadi saksi bisu kegalauan Suprapto, menghadapi kenaikan harga bahan baku kedelai.

“Harga kedelai saat ini naik lagi, ini yang membuat kita bingung mengakalinya untuk mencegah kerugian,” ujar Suprapto, Jumat (10/4/2026).

Saat ini, satu kilogram harga kedelai sebesar Rp 12 ribu yang sebelumnya Rp 10 ribu. Peperangan di Timur Tengah, menjadi salah satu penyebab harga kedelai merangkak naik.

“Kedelai ini kan barang impor, kedelai yang saya pakai ini dari luar negeri,” ucap Suprapto.

Kesusahan hati tengah dirasakan Suprapto, apabila harga bahan baku naik maka harga jual akan ikut naik. Namun dengan kondisi saat ini, apabila harga jual tempe akan naik, maka akan mengurangi daya beli pelanggannya.

“Kalau enggak naik ya dampaknya hasil keuntungan kita jualan menurun,” terang Suprapto.

Suprapto berusaha untuk mempertahankan harga jual tempenya kepada masyarakat maupun pelanggan. Namun di sisi lain, Suprapto harus merogoh kocek kantongnya untuk menambah modal menutupi kenaikan harga kedelai.

“Jadinya ya begini, biaya produksi bertambah tapi keuntungan berkurang, pengurangan keuntungan dari biasanya mencapai 25 persen,” tutur Suprapto.

Suprapto akan mencoba menggunakan metode lama menghadapi kenaikan harga kedelai. Adapun metode yang akan dilakukannya dengan mengurangi bentuk ukuran namun harga jual tetap sama sehingga tidak memberatkan masyarakat maupun pelanggan.

“Paling sekarang ini untuk mencegah kerugian, ukuran tempe kita perkecil dari bentuk biasanya,” ungkap Suprapto.

Mau tidak mau, Suprapto harus melakukan pengurangan atau pengecilan bentuk ukuran tempe. Menaikan harga bukan menjadi sebuah solusi di saat ekonomi masyarakat sedang tidak baik.

“Harga kita bertahan kalau kita naikin kan pasti berpengaruh ke pembeli, ke konsumen,” ucap Suprapto.

Hal itu menjadi jalan terakhir untuk mencegah kerugian yang dialami Suprapto. Terlebih, selain harus menghadapi kenaikan harga kedelai, sarana bahan lainnya seperti plastik yang digunakan untuk pembungkus turut mengalami kenaikan.

“Nah, ini juga harga plastik ikutan naik, jadi bertambah kendalanya,” keluh Suprapto.

Meskipun begitu, tidak melulu Suprapto menggunakan plastik untuk membungkus tempe. Suprapto kerap menggunakan daun pisang sebagai pembungkus tempe, namun ketersediaan daun pisang terkadang kerap terkendala di pasar.

“Jadi kita campur saja untuk media pembungkus tempenya, ada yang daun pisang dan plastik,” ujar Suprapto.

Pria yang menggantungkan hidupnya dari produksi tempe, meminta pemerintah dapat mencari solusi mencegah kenaikan harga kedelai. Pemerintah dapat memperhatikan pengrajin tempe dengan mencari cara penyediaan kedelai mencukupi dan tidak mengalami kenaikan harga.

“Pemerintah supaya ya kami pengrajin tempe diperhatikan, stok kedelai aman, memperhatikan kestabilan harga,” pinta Suprapto.

Suprapto menjual tempe dengan harga yang berbeda sesuai dengan ukuran tempe yang di jual. Untuk ukuran kecil Rp 5 ribu, ukuran sedang Rp 7 ribu, dan ukuran besar Rp 10 ribu.

“Jadi kalau dinaikan harganya, kita bingung pembeli kabur, jalan terakhir ya kita kurangi ukurannya” pungkas Suprapto.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner