WFH ala ASN Bawaslu, Sudut Rumah Jadi Kantor dan Meja Lipat untuk Laptop

6 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Suasana berbeda terlihat di rumah Tri Mardiono, Jumat (10/4/2026). Alih-alih bersiap ke kantor, aparatur sipil negara (ASN) di Bawaslu Provinsi Lampung itu justru membuka laptop di sudut rumahnya, duduk bersila di depan meja lipat sederhana.

Dengan mengenakan kemeja rapi, Tri tetap memulai aktivitas seperti biasa. Bedanya, ia kini bekerja dari rumah pada hari pertama penerapan kebijakan Work From Home (WFH) sesuai arahan pimpinan dan pemerintah pusat.

“Kalau dibilang kaget, sebenarnya tidak juga. Karena kita sudah pernah menjalani WFH sejak zaman COVID-19,” kata Tri.

Sebagai analis SDM aparatur di Bawaslu Lampung, Tri mengaku sudah beberapa kali merasakan sistem kerja jarak jauh, baik saat pandemi maupun dalam kebijakan efisiensi pemerintahan.

Namun, bekerja dari rumah tetap menghadirkan nuansa berbeda. Jika di kantor semua sudah tertata, di rumah ia harus menciptakan sendiri ruang kerja yang nyaman.

Dia memanfaatkan meja lipat kecil di atas karpet hijau sebagai tempat bekerja, dengan laptop dan ponsel sebagai penunjang utama.

Meski sederhana, fasilitas tersebut cukup mendukung aktivitasnya. Seperti halnya di kantor, hari kerja tetap diawali dengan presensi. Bedanya, kini dilakukan secara digital melalui ponsel.

“Kalau WFH, presensi pakai HP. Kita harus foto wajah dan ada titik lokasi, jadi pimpinan bisa memastikan kita benar-benar hadir,” jelasnya.

Tri menegaskan, meski bekerja dari rumah, aturan jam kerja tetap berlaku. Seluruh pegawai wajib melakukan absensi sebelum pukul 08.00 WIB dan baru bisa melakukan presensi pulang setelah pukul 16.00 WIB.

“Absensi online tadi lancar, tidak ada kendala. Keterangan kehadiran juga langsung terverifikasi,” katanya.

Dia pun mendukung kebijakan WFH karena dinilai lebih efisien, terutama dari sisi pengeluaran. Biaya bahan bakar hingga uang jajan harian bisa ditekan.

Namun, di balik keuntungan tersebut, Tri mengakui ada tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal koordinasi kerja.

“Koordinasi dengan pimpinan dan rekan kerja memang tidak secepat saat di kantor. Selain itu, kendala jaringan juga sering terjadi, apalagi aplikasi pemerintahan butuh sinyal yang stabil,” ungkapnya.

Tak hanya itu, bekerja dari rumah juga menuntut disiplin tinggi karena potensi distraksi dari aktivitas rumah tangga cukup besar.

“Semua kembali ke pribadi. Harus tetap bertanggung jawab dan fokus menyelesaikan pekerjaan,” tegas warga Bandar Lampung tersebut.

Di sisi lain, kebijakan WFH tidak berlaku bagi seluruh ASN. Tri menyebut sang istri yang bekerja di laboratorium kesehatan daerah tetap harus masuk kantor karena berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat.

“Istri saya tidak bisa WFH karena pekerjaannya termasuk yang dikecualikan,” bebernya.

Di akhir perbincangan, Tri menekankan bahwa esensi WFH bukan terletak pada lokasi bekerja, melainkan komitmen dalam menyelesaikan tugas.

“Bukan soal kerja di rumah atau kantor. Yang penting kita tetap menjaga kinerja dan tanggung jawab,” tandasnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner