Pesan Terakhir Ayah di Tengah Tragedi KM Nurul Salsa: Tolong Jaga Diska

12 hours ago 7

Liputan6.com, Makassar - Empat hari terombang-ambing di tengah laut setelah KM Nurul Salsa tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, menjadi ujian terberat dalam hidup Bau Asseng. Bersama keponakannya, Diska Yanti (7), ia bertahan di atas selembar gabus sambil menyaksikan satu per satu orang yang bersamanya meregang nyawa hingga akhirnya meninggal dunia, termasuk kedua orang tua Diska, Hasbi (41) dan Malida (31).

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Hasbi (41), menitipkan putri semata wayangnya kepada Asseng. Amanah itu kemudian menjadi pegangan bagi Asseng untuk terus bertahan hidup, menjaga Diska, dan berharap pertolongan segera datang.

Diska menjadi salah satu penyintas tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa. Namun, keselamatan bocah berusia 7 tahun itu harus dibayar mahal. Kedua orang tuanya, Hasbi dan Malida, harus meninggal dunia saat berjuang bertahan hidup di tengah laut. Hingga kini, jasad keduanya masih belum ditemukan.

Asseng mengisahkan, sesaat setelah kapal tenggelam, ia bersama sejumlah penumpang termasuk Diska, Hasbi dan Malida berhasil menemukan selembar gabus yang kemudian menjadi tumpuan harapan mereka. Gabus itu pun digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup di tengah lautan lepas.

"Cuma berpegangan di gabus," kata Asseng dalam keterangannya kepada petugas, Rabu (22/7/2027).

Di atas potongan gabus itulah mereka menghabiskan hari-hari penuh ketidakpastian. Panas matahari pada siang hari dan dinginnya angin malam perlahan menguras tenaga. Tanpa makanan dan air minum yang cukup, kondisi para penyintas terus melemah.

Hari demi hari berlalu. Kondisi Hasbi dan Malida semakin kritis. Setelah berjuang melawan lapar, haus, dan ganasnya ombak, keduanya akhirnya tak lagi sanggup bertahan.

Di saat-saat terakhir hidupnya, Hasbi memanggil Asseng. Dengan suara yang mulai melemah, ia menitipkan putri semata wayangnya.

"Tolong jaga Diska," ucap Asseng menirukan pesan Hasbi.

Tak lama setelah menyampaikan pesan itu, Hasbi mengembuskan napas terakhir. Menyusul kemudian, Malida juga meninggal dunia di atas gabus yang sama.

Kalimat singkat itu menjadi amanah yang terus dipegang Asseng selama berjuang melawan ombak di laut lepas.

Meski dihantam rasa sedih, Asseng tidak menyerah. Ia terus menjaga Diska agar tetap bertahan hidup. Di saat yang sama, ia juga berusaha mempertahankan jasad Hasbi dan Malida agar bisa dibawa pulang untuk dimakamkan secara layak.

Selama tiga hari, harapan itu masih dipertahankan. Namun, kondisi kedua jasad yang mulai membusuk membuat Asseng tak lagi memiliki pilihan.

"Setelah tiga hari bertahan di atas gabus, ayah dan ibunya Diska dilepas," ujar Asseng.

Dengan berat hati, jasad Hasbi dan Malida akhirnya dilepas ke laut. Keputusan itu menjadi salah satu momen paling menyakitkan selama mereka terombang-ambing di tengah lautan.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner